Pengungsi Gor Pandan Keluhkan Kekurangan Air Bersih, Anak-Anak Alami Diare Selama Dua Hari

Pengungsi Gor Pandan Keluhkan Kekurangan Air Bersih, Anak-Anak Alami Diare Selama Dua Hari

Kondisi Kesehatan Anak-anak dan Ibu Hamil di Pengungsian Mulai Mengkhawatirkan

Pengungsi yang tinggal di Gelanggang Olahraga (Gor) Pandan, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, mulai mengeluhkan kondisi kesehatan anak-anak mereka. Beberapa ibu-ibu menyebutkan bahwa anak-anak mereka mengalami diare selama dua hari terakhir. Hal ini menyebabkan kekhawatiran karena anak-anak sering buang air besar dan membuat orang tua kesulitan dalam mengurusnya.

Salah satu pengungsi, Juli Andika, warga Gang Perdagangan, Kelurahan Lubuk Tukko, Kecamatan Pandan, menilai bahwa penyebab diare tersebut mungkin berasal dari konsumsi susu kemasan. "Sepertinya karena susu. Karena sebelumnya minum susu," ujarnya pada Jumat (12/12/2025).

Selain masalah diare, para pengungsi juga mengeluhkan kekurangan popok bayi. Mereka hanya diberikan 2 popok per hari untuk satu bayi. Padahal, saat diare, kebutuhan popok meningkat menjadi 4 hingga 5 per hari. "Kadang 4, dan kadang 5 popok sehari kalau lagi diare begini. Kalau gak diare, cuma 1 saja. Kadang hanya malam," tambah Juli.

Masalah lain yang dikeluhkan adalah kurangnya pasokan air bersih dan kebersihan di area pengungsian. Toilet umum yang digunakan pengungsi terlihat jorok dan berbau. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan pasokan air bersih. Bahkan, ketika ingin buang air besar, sering tidak ada air sama sekali. Keadaan ini dikhawatirkan dapat memicu masalah kesehatan baru bagi pengungsi.

Masalah Kesehatan Ibu Hamil

Sri Asmara (22), seorang perantau asal Kota Medan yang sedang hamil 4 bulan dan memiliki 4 anak balita, juga mengeluhkan kondisi kesehatannya. Ia dan ratusan warga lainnya mengungsi di Gor Pandan selama 18 hari akibat banjir dan longsoran. Meski kebutuhan pangan terpenuhi, ia merasa khawatir dengan pemberian jatah popok yang dinilai tidak cukup.

"Biasanya perhari diberikan 2 Pampers. Tetapi karena ini sudah diare, jadi butuhnya itu 10 sampai 15 Pampers. Dari 3, dua anak saya yang diare," kata Sri Asmara.

Selain itu, ia juga mengeluhkan kurangnya layanan kesehatan untuk ibu hamil. Meskipun vitamin diberikan, tidak ada susu khusus untuk ibu hamil. Selain itu, pelayanan medis dinilai kurang maksimal. Ia sempat mengeluhkan sakit perut dan mules, tetapi hanya diberi obat pereda nyeri tanpa pemeriksaan lebih lanjut.

"Semalam saya mengeluh sakit hanya diberikan obat saja, tidak diperiksa apa-apa. Kemarin perut saya keram, mules-mules hanya diberi Paracetamol," keluhnya.

Harapan Pengungsi

Sri mengaku sangat lelah sebagai pengungsi hamil dengan kondisi terbatas. Ia benar-benar ingin pulang ke Medan dan kembali menjalani kehidupan normal. Namun, ia tidak mau kembali ke rumahnya di Kecamatan Tukka karena kondisi masih belum pulih.

Ia berharap layanan kesehatan untuk ibu hamil dan menyusui ditingkatkan. Selain itu, penambahan tenaga medis jika memang kurang juga menjadi harapan utamanya.

"Rasanya pengen pulang. Disini gak nyaman," katanya.


Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan