Pengusaha Matcha Baby Jajaki Kerja Sama Indosat untuk Kembangkan UMKM

Matcha Baby: UMKM Minuman yang Bertahan di Tengah Persaingan Ketat Kota Bandung

Di tengah perkembangan dunia kuliner yang semakin dinamis, minuman berbasis matcha kini menjadi salah satu tren yang diminati oleh masyarakat. Minuman ini, yang berasal dari teh hijau khas Jepang, menawarkan rasa unik dan khas yang cocok untuk berbagai kalangan. Meski sebelumnya hanya ditemukan di coffee shop, kini matcha bisa dengan mudah ditemui di pinggir jalan, termasuk di Kota Bandung.

Salah satu UMKM yang berhasil bertahan di tengah persaingan ketat adalah Matcha Baby. Usaha ini hadir dengan konsep sederhana namun tetap relevan dengan kebutuhan pasar. Gerobak Matcha Baby tampil minimalis dengan dominasi warna hijau dan putih, yang mencerminkan identitas produknya. Di sisi depan gerobak, terdapat deretan foto menu minuman matcha dalam gelas plastik yang disusun rapi, sehingga memudahkan pelanggan untuk memilih pilihan sesuai selera mereka.

Desain Gerobak yang Praktis dan Fungsional

Bar matcha yang kecil ini dirancang secara fungsional, dengan peralatan seperti cup plastik, alat pengaduk, shaker, container matcha, botol susu, dan perlengkapan lainnya tersusun rapi di meja gerobak. Gerobak ini juga dilengkapi tenda biru dan payung sebagai pelindung dari cuaca ekstrem, sehingga menjadikannya sebagai lapak kaki lima yang siap beroperasi kapan saja.

Usaha ini dirintis oleh Dini Indah Rahmawati sejak Agustus 2025. Ia melihat peluang besar di Bandung, kota yang dikenal sebagai pusat kuliner. Target pasar utamanya adalah pelajar, mahasiswa, hingga pekerja muda. Dini mengatakan bahwa ide awalnya berasal dari kebiasaan anaknya yang suka minum matcha. Dari situ, ia ingin menghadirkan produk yang terjangkau namun tetap berkualitas.

Bubuk Matcha Berkualitas dan Harga Terjangkau

Dini memilih bubuk matcha culinary grade untuk produknya. Matcha Baby menawarkan harga mulai dari Rp15.000 per cup. Racikan minumannya dibuat tidak terlalu pahit, sesuai dengan selera pelanggan yang cenderung menyukai rasa manis. Namun, bagi yang ingin merasakan cita rasa matcha yang lebih autentik, Dini tetap memberi opsi penyajian yang lebih kuat.

Dalam sehari, Matcha Baby mampu menjual sekitar 20–50 cup, tergantung kondisi cuaca dan keramaian. Menurut Dini, musim hujan sedikit memengaruhi penjualan, namun ia tetap optimis dengan menjaga konsistensi kualitas sebagai kunci bertahan.

Perjuangan Awal dan Kekuatan Mental

Bagi Dini, membangun usaha dari nol bukanlah hal mudah. Ia mengakui bahwa tantangan terbesar adalah perjuangan mental, terutama di hari-hari awal saat penjualan masih sepi. “Pernah pulang nangis karena cuma jual tiga cup. Tapi besoknya harus bangun lagi. Jualan itu memang soal mental,” ujarnya.

Kolaborasi dengan Operator Besar Tanah Air

Selain menjalankan usaha sendiri, Dini juga aktif mengikuti berbagai bazar UMKM. Namun, ia menyoroti tingginya biaya sewa stan yang sering menjadi beban bagi pelaku usaha kecil. Ia menilai sistem bazar konvensional yang mengharuskan pembayaran di muka kerap memaksa UMKM menaikkan harga jual agar balik modal.

“Stan bazar sekarang mahal-mahal, ada yang sampai Rp4 juta. Mau nggak mau jadi mikir keras biar balik modal, dan akhirnya harga ikut naik, padahal market kita ini pelajar,” ujarnya.

Harapan untuk Kolaborasi yang Lebih Baik

Dini berharap kehadiran Indosat dalam ekosistem UMKM tidak sebatas branding, tetapi benar-benar menghadirkan solusi nyata. Ia mengusulkan pendekatan berbasis komunitas, dimulai dari skala kota. “Nggak usah besar dulu, Bandung saja. UMKM yang benar-benar kecil, dibuat komunitas dulu, minimal WhatsApp group,” katanya.

Menurutnya, Indosat berpotensi berperan lebih jauh dengan menghadirkan bazar UMKM gratis atau dengan sistem bagi hasil, bukan pembayaran di awal. “Kalau bagi hasil, UMKM nggak berat. Itu jauh lebih adil buat UMKM yang modalnya terbatas,” ujarnya.

Saat ini, kolaborasi Matcha Baby dengan Indosat masih berada pada tahap awal penjajakan, belum ada pelatihan atau program konkret yang berjalan. Namun, Dini melihat sinyal positif ke depan. Ia berharap, ke depan Indosat dapat menghadirkan pelatihan, bazar internal, hingga program pembinaan UMKM berkelanjutan.

Dini bahkan membayangkan kolaborasi sederhana seperti bundling produk UMKM dengan layanan Indosat sebagai langkah awal pemberdayaan. “Kalau bisa kan keren, ada Matcha Baby x Indosat. Pelan-pelan saja, yang penting UMKM bisa tumbuh bareng,” ujarnya.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan