Perbedaan Stalking Biasa dan Obsesif, Kamu yang Mana?

Perbedaan Stalking Biasa dan Stalking Obsesif

Di era media sosial, stalking bukan lagi sesuatu yang tabu. Siapa sih yang tidak pernah kepo dan cek profil orang yang kita suka? Mau itu crush, gebetan, pacar, atau bahkan mantan, kadang jari punya insting sendiri untuk klik profile, scroll sampai bawah, dan menikmati semua postingan mereka. Totally normal, tapi di sisi lain… ada juga momen ketika stalking yang bisa berubah jadi berlebihan dan mulai menguras energi emosional kita.

Bedanya tipis banget, dan sering tanpa sadar kita bisa terjebak di dalamnya. Jadi, kapan stalking masih sehat dan lucu, dan kapan mulai jadi obsesif? Yuk, simak rangkuman di bawah ini biar kamu bisa mengamati diri sendiri dan menjaga hubungan tetap nyaman!

Stalking Biasa: Lucu, Wajar, dan Penuh Rasa Suka

Stalking ringan ke crush atau pasangan sebenarnya wajar banget. Namanya juga suka, otak kita naturally akan tertarik melihat aktivitas orang yang kita kagumi. Dan selama itu tidak mengganggu kehidupan kita, semuanya masih aman. Ciri-ciri stalking yang masih normal meliputi:

  • Kamu sesekali cek postingan dan story mereka.
  • Kamu scroll profil lama karena penasaran sama kehidupannya.
  • Kamu ingin tahu minat, hobi, atau perkembangan terbaru mereka.
  • Kamu tidak marah kalau mereka tidak posting apa-apa.
  • Kamu tetap bisa stop kapan pun, tanpa ada tekanan mental.

Biasanya rasanya kayak, “Awww, lucu banget dia kalau senyum. Scroll dikit lagi deh!” Tidak ada drama, tidak ada rasa tertekan, tidak ada pikiran negatif. Kamu hanya menikmati kehadiran mereka secara digital. That’s it. Dan itu normal.

Stalking Obsesif: Tidak Lagi Kepo, Tapi Jadi Kecanduan

Di sisi lain, stalking bisa berubah jadi obsesif kalau sudah didorong oleh kecemasan, rasa takut kehilangan, atau insecure. Kamu bukan lagi mengecek media sosial karena suka, tapi karena harus tahu semuanya. Di fase ini, stalking tidak lagi fun, justru membuat kamu capek batin. Ciri-ciri lainnya:

  • Kamu cek profil mereka berkali-kali dalam sehari sampai seperti refleks.
  • Kamu memantau siapa saja yang like, comment, atau share postingan mereka.
  • Kamu menganalisis caption, emoji, jam posting, bahkan lagunya.
  • Kamu jadi gelisah, sedih, atau cemburu kalau mereka berinteraksi dengan orang lain.
  • Kamu kepo sampai akun teman-temannya, rekan kerja, atau orang random yang pernah tag mereka.
  • Mood kamu tergantung dari apa yang mereka posting… atau tidak posting.

Dari rasa penasaran berubah menjadi kecemasan, “Kenapa dia gak update Story hari ini? Sama siapa dia? Kok ada cewek yang like fotonya terus? Bentar, gue cek lagi.” Ini yang membuat stalking jadi melelahkan dan tidak sehat!

Intinya Beda di Energi dan Kontrol

Bukan aktivitas stalking-nya yang menentukan sehat atau tidak, tapi perasaan dan dampaknya ke diri sendiri. Stalking biasa mood-nya senang dan ringan. Kalau obsesif, kamu jadi gelisah dan tertekan. Stalking biasa dilakukan sesekali, sedangkan obsesif berkali-kali. Kamu suka dia sehingga kamu stalking. Kamu insecure, takut, dan cemas sehingga kamu stalking seperti terobsesi. Kamu menghormati dia dengan stalking biasa. Sebaliknya, kamu tidak respect ke dia karena menghilangkan batas privasi melalui stalking yang berlebihan. Stalking biasa tidak akan mengganggu hidup kamu. Stalking obsesif akan mengganggu kesehatan mental kamu. Stalking biasa membuat kamu senang, stalking obsesif membuat kamu lelah.

Kamu Perlu Mulai Mengurangi Stalking Kalau…

Kalau kamu semakin insecure setiap lihat postingannya, kamu terus membandingkan diri dengan orang lain yang ada di profilnya, sampai kamu jadi tidak fokus sekolah, kuliah, kerja karena terus mengecek media sosial dia… Kamu jadi lupa sama hidup kamu sendiri. Kalau tanda-tanda ini muncul, itu artinya bukan rasa suka yang menggerakkan kamu, tapi rasa takut.

So, girls, naksir seseorang itu normal. Kepo ke akun media sosial mereka juga normal. Yang penting, jangan sampai stalking membuat kamu kehilangan fokus, kebahagiaan, dan rasa percaya diri. The right person will never make you compete for peace.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan