Perdana Menteri Timor Leste Berkunjung ke Kedutaan Besar ASEAN di Jakarta

Perjalanan Timor Leste Menuju Keanggotaan Penuh ASEAN

Perdana Menteri Timor Leste, Xanana Gusmo, melakukan kunjungan resmi ke Sekretariat ASEAN di Jakarta pada Kamis, 11 Desember 2025. Ini menjadi pertemuan pertamanya dengan pejabat ASEAN setelah Timor Leste diterima sebagai anggota penuh pada KTT ke-47 ASEAN di Malaysia, Oktober lalu. Setibanya di Markas ASEAN, Xanana disambut oleh Sekretaris Jenderal ASEAN, Kao Kim Hourn.

Keduanya kemudian meresmikan lambang negara yang kini berdiri sejajar dengan sepuluh anggota ASEAN lainnya. Peresmian itu menjadi simbol bahwa integrasi Timor Leste ke ASEAN telah tuntas, bukan lagi sekadar pengamat, melainkan bagian dari keluarga besar kawasan.

Visi Regional yang Terwujud

Dalam sambutannya, Kao Kim Hourn menyebut aksesi Timor Leste sebagai pencapaian bersejarah bagi Asia Tenggara. Ini adalah pemenuhan visi regional kita dan menegaskan kembali prinsip yang menyatukan kita: perdamaian, kerja sama, dan saling menghormati, ujarnya.

Ia menilai perjalanan panjang Timor Leste menuju keanggotaan mencerminkan pembangunan institusi dan komitmen diplomatik yang konsisten. Di bawah kepemimpinan Yang Mulia (Xanana), Timor Leste telah memperkuat fondasi institusionalnya, memperdalam keterlibatan diplomatik, dan meningkatkan kesejahteraan warganya, tutur Kao.

Menurut dia, Timor Leste membawa keunggulan yang sejalan dengan visi jangka panjang ASEAN, mulai dari demografi yang dinamis, tradisi budaya beragam, hingga posisi strategis di kawasan. Pencapaian ini menempatkan Timor Leste untuk memberi kontribusi besar sebagai negara anggota, membantu membentuk masa depan yang lebih kohesif dan tangguh bagi kawasan, kata Kao.

Aksesi sebagai Bab Penting dalam Sejarah

Dalam pidatonya, Xanana menyebut aksesi sebagai bab penting dalam perjalanan bangsanya. Bagi rakyat Timor Leste, bergabungnya kami dengan ASEAN adalah perwujudan impian yang kami genggam sejak lama. Ini juga penegasan akan perjalanan kami sebagai bangsa, dari ketahanan dan tekad, menuju harapan dan masa depan, ujar dia.

Xanana menyebut momen tersebut sebagai titik balik yang mengalihkan fokus negara dari masa lalu penuh konflik menuju keterlibatan regional. Ia mengenang bagaimana Timor Leste sempat terputus dari dunia saat perjuangan bersenjata, namun tetap mempertahankan keyakinan atas hak menentukan nasib sendiri.

Peran Indonesia dalam Rekonsiliasi

Xanana menekankan peran Indonesia dalam rekonsiliasi pascareferendum 1999, yang menurutnya menjadi dasar hubungan dua negara. Rekonsiliasi kami dengan Indonesia menjadi fondasi untuk membangun masa depan tanpa rasa takut atau kebencian, kata Xanana. Ia juga mengingat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai tokoh pertama yang mendorong Timor Leste mengajukan keanggotaan ASEAN pada 2011.

Komitmen untuk Berkontribusi

Kemudian Xanana menegaskan kesiapan negaranya menjalankan tanggung jawab baru. Integrasi penuh, katanya, bukan hanya peluang, melainkan komitmen untuk berkontribusi dalam kerja sama politik, ekonomi, sosial, dan budaya di ASEAN. Ia berharap keanggotaan ini dapat menjadi langkah awal bagi Timor Leste untuk terlibat lebih dalam dalam isu-isu regional dan global.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan