Pergi sejenak, bukan berhenti: Perempuan kembali bekerja dengan percaya diri

Peran Keluarga Perlu Dimaknai Lebih Setara


Isu career break tidak bisa dilepaskan dari cara masyarakat memandang peran perempuan dan laki-laki di dalam keluarga. Hingga kini, pengasuhan anak dan urusan rumah tangga masih kerap dianggap sebagai tanggung jawab utama perempuan. Di sisi lain, laki-laki dituntut menjadi pencari nafkah utama. Padahal, di tengah biaya hidup yang semakin tinggi, beban ekonomi maupun domestik akan terasa jauh lebih berat jika hanya ditanggung satu pihak. Kesadaran bahwa mengurus rumah dan mencari nafah adalah tanggung jawab bersama menjadi pondasi penting agar perempuan memiliki ruang untuk menentukan pilihan hidupnya, termasuk soal karir.

Career Break adalah Pilihan Hidup yang Valid


Mengambil jeda karir bukan berarti menyerah atau kehilangan ambisi. Bagi sebagian Mama, career break adalah keputusan sadar untuk merawat keluarga, memulihkan diri, atau menata ulang prioritas hidup. Sayangnya, pilihan ini masih sering dipersepsikan negatif. Masih ada anggapan bahwa jeda karier membuat perempuan tertinggal, kurang kompeten, atau sulit beradaptasi kembali. Padahal, jeda tersebut justru bisa menjadi fase refleksi dan pembelajaran yang membentuk perspektif baru, baik secara personal maupun profesional.

Ketika Ingin Kembali, Tantangannya Tidak Mudah


Keinginan perempuan untuk kembali bekerja setelah career break sebenarnya sangat besar. Namun realitas di lapangan menunjukkan bahwa jalannya tidak selalu terbuka lebar. Tantangan datang dari berbagai arah, mulai dari stigma terhadap jeda di CV, bias dalam proses rekrutmen, hingga minimnya dukungan transisi kembali ke dunia kerja. Di sinilah banyak Mama mulai mempertanyakan dirinya sendiri. Meski begitu, Mama tidak perlu merasa khawatir karena Mama sebelumnya sudah memiliki bekal. Perubahan teknologi yang cepat, ritme kerja yang berbeda, dan persaingan dengan generasi yang lebih muda kerap membuat kepercayaan diri perlahan memudar, meski pengalaman dan kapasitas sebenarnya masih sangat relevan.

Kepercayaan Diri Menjadi Titik Balik


Hampir 40 persen perempuan pernah mengambil career break, dan 98 persen di antaranya ingin kembali bekerja. Ketika kesempatan setara diberikan, kita tidak hanya memberdayakan perempuan, tetapi juga membuka potensi ekonomi yang lebih besar. Dalam banyak cerita perempuan yang kembali bekerja, kepercayaan diri menjadi benang merah yang paling terasa. Bukan semata soal kemampuan teknis, tetapi tentang kembali meyakini nilai diri sebagai profesional. Tanpa kepercayaan diri, kesempatan yang datang pun sering terasa menakutkan. Oleh sebab itu, Mama yang kembali bekerja memerlukan dukungan dan kepercayaan diri yang tinggi. Lingkungan yang memberi ruang untuk belajar kembali, beradaptasi tanpa tekanan, dan dihargai prosesnya terbukti sangat membantu perempuan melewati fase transisi ini.

Dukungan Terdekat Membuat Langkah Lebih Ringan


Di balik keberanian Mama untuk kembali bekerja, dukungan pasangan dan keluarga memegang peranan besar. Ini akan membantu Mama dalam menjaga kestabilan mental. Pemahaman, komunikasi terbuka, serta kesediaan berbagi peran di rumah menjadi penopang penting agar perempuan bisa menjalani peran ganda dengan lebih seimbang. Bagi banyak Mama, anak justru menjadi sumber motivasi. Keinginan untuk memberi contoh bahwa belajar, berkembang, dan mengejar mimpi tidak harus berhenti setelah menikah atau memiliki anak menjadi alasan kuat untuk kembali melangkah.

Career break bukan tanda kegagalan, melainkan bagian dari perjalanan hidup perempuan yang penuh dinamika. Melainkan mengistirahatkan tubuh dan pikiran untuk tetap stabil. Jeda karir bisa menjadi ruang bagi Mama untuk merawat diri, keluarga, sekaligus menata ulang arah hidup tanpa harus kehilangan mimpi profesionalnya. Dengan dukungan keluarga, lingkungan kerja yang inklusif, serta kesempatan yang adil, perempuan memiliki ruang untuk kembali melangkah dengan percaya diri. Bukan untuk mengulang dari awal, melainkan melanjutkan perjalanan dengan perspektif dan kekuatan baru. Karena pada akhirnya, menjadi ibu tidak berarti berhenti bertumbuh.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan