Peringatan: Bulu tangkis Indonesia masih goyah di luar tunggal putra dan ganda putra

Momentum Tahun Baru untuk Bulu Tangkis Indonesia


Tahun baru menjadi momen penting bagi bulu tangkis Indonesia untuk meraih prestasi yang lebih baik. Dengan memperkuat amunisi, tim nasional berharap bisa menunjukkan performa yang lebih kompetitif di berbagai ajang internasional. Persaingan di dunia bulu tangkis semakin ketat, dengan negara-negara lain mulai mengusik dominasi China yang selama ini menjadi kekuatan utama.

Salah satu contoh adalah BWF World Tour Finals 2025, di mana China hanya mampu meraih satu gelar dari pertandingan final yang berlangsung. Sementara itu, Korea Selatan tampil gemilang dengan dominasi An Se-young di tunggal putri dan Kim Won-ho/Seo Seung-jae di ganda putra. Prancis juga memberikan kejutan dengan Christo Popov yang menjadi juara tunggal putra setelah tidak pernah kalah dalam fase grup. Di sisi lain, Negeri Mode mencatatkan gelar pertamanya di level Super 1000 melalui ganda campuran Thom Gicquel/Delphine Delrue saat Indonesia Open 2025.

Bagaimana dengan Indonesia? Setelah beberapa bulan yang terlihat kurang optimal, para pebulu tangkis Indonesia mulai menunjukkan taringnya dengan pencapaian yang membanggakan. Jonatan Christie, andalan tunggal putra, kembali bangkit dengan meraih tiga gelar dalam lima turnamen, termasuk Korea Open Super 500, Denmark Open Super 750, dan Hylo Open Super 500. Sementara itu, racikan baru ganda putra Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri berhasil memenangi China Open Super 1000 serta mencapai lima final dari sembilan turnamen pertama mereka.


Meski begitu, masih ada ruang untuk perbaikan. Dalam pratinjau yang diterbitkan oleh Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF), Indonesia diingatkan akan adanya celah di sektor-sektor yang belum menjadi andalan. "Indonesia menghadapi situasi yang sedikit lebih menantang," tulis staf media BWF dalam artikel berjudul Pratinjau 2026: Pertarungan Menarik Menanti. "Sementara mereka sangat kuat di disiplin seperti tunggal putra dan ganda putra, sektor-sektor lainnya tidak memiliki kedalaman yang sama."

Namun, ada harapan dari bintang-bintang baru di tunggal putra. Jonatan Christie masih berada di puncak tenaganya dan menjadi inspirasi bagi Alwi Farhan dan Moh Zaki Ubaidillah. Keduanya telah bersinar di SEA Games 2025 dengan meraih emas beregu dan All Indonesian Final di event perorangan. Alwi bahkan berhasil mengalahkan Anders Antonsen saat Sudirman Cup, sedangkan Ubed sukses menyingkirkan Loh Kean Yew di SEA Games.

Di sisi lain, Raymond Indra/Nikolaus Joaquin sebagai ganda putra muda juga menjadi kekuatan baru setelah menjadi juara Australian Open Super 500 dengan mengalahkan dua pasangan top 5 dan Fajar/Fikri. Kekuatan di tunggal putra dan ganda putra menjadi modal berharga bagi Indonesia dalam menyongsong Thomas Cup.

Masalah yang Masih Ada

Namun, ada beberapa sektor yang masih memerlukan perhatian. Di tunggal putri, Putri Kusuma Wardani masih kesulitan meraih kemenangan atas lima pemain terbaik di sektornya. Cedera juga menjadi masalah besar di sektor ini, terutama setelah dua tahun lalu Indonesia berhasil menembus final Uber Cup. Ester Nurumi Tri Wardoyo, yang sempat menjadi wonderkid, belum pulih sepenuhnya dari cedera panjang. Sementara itu, Gregoria Mariska Tunjung terus berjuang melawan vertigo.

Di ganda putri, Indonesia masih mencari resep yang tepat setelah perombakan pasangan yang memengaruhi semua pemain di tim utama. Sementara itu, di ganda campuran, Jafar Hidayatullah/Felisha Alberta Pasaribu sebagai pasangan teratas saat ini masih kesulitan mengambil langkah berikutnya setelah berhasil masuk 10 besar ranking dunia dan lolos ke final.

Persaingan di bulu tangkis tidak bisa menunggu lebih lama. Kalender turnamen sudah dimulai pekan depan dengan berlangsungnya Malaysia Open 2026 pada 6-11 Januari 2026 di Kuala Lumpur, Malaysia.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan