
Pemerintah Indonesia Tetap Dorong Impor Migas dari Amerika Serikat
Pemerintah Indonesia tetap berkomitmen untuk menjalankan rencana impor minyak dan gas bumi (migas) dari Amerika Serikat (AS). Hal ini dilakukan meskipun kesepakatan dagang antara Indonesia dan AS disebut sedang menghadapi tantangan. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menegaskan bahwa rencana impor tersebut tetap akan dijalankan.
Kesepakatan dagang antara RI dan AS yang diumumkan pada Juli 2025 kini terancam batal setelah pemerintah Indonesia dikabarkan menarik kembali beberapa komitmen yang sebelumnya telah disepakati. Namun, Wakil Menteri ESDM Yulit Tanjung menyatakan bahwa pembahasan kelanjutan kesepakatan tersebut masih berlangsung. Ia menekankan bahwa Kementerian Koordinator Perekonomian akan menggelar rapat dengan berbagai kementerian dan lembaga terkait, termasuk ESDM.
"Jadi nanti Kemenko Perekonomian akan mengajak duduk bersama seluruh kementerian lembaga terkait, ya termasuk ESDM," ujar Yulit dalam pernyataannya.
Meski tidak memberikan tanggal pasti, Yulit menegaskan bahwa pihaknya akan terus berupaya agar impor migas dari AS tetap berjalan. "Tapi kami dari ESDM itu tetap apa yang sudah dikomitmenkan untuk kita impor dari AS itu tetap akan kita upayakan," tambahnya.
Sementara itu, Juru Bicara Kemenko Perekonomian Haryo Limanseto juga menyatakan bahwa rencana impor migas dari AS tetap akan dilanjutkan. Menurutnya, negosiasi antara kedua negara masih berjalan di jalur yang tepat. Ia menambahkan bahwa perjanjian perdagangan secara business to business (B2B) tetap berjalan, meskipun Kemenko Perekonomian tidak langsung terlibat dalam aspek tersebut.
"Kalau perjanjian dagang B2B tetap berlanjut," ucap Haryo kepada media. Ia menekankan bahwa semua pembahasan terkait B2B dilakukan oleh PT Pertamina dan perusahaan AS yang bersangkutan.
Haryo juga membantah adanya kendala krusial yang dapat menggagalkan kerja sama ekonomi antara Indonesia dan AS. Menurutnya, proses pembahasan masih berlangsung dan dinamika dalam perundingan adalah hal yang wajar. Pemerintah Indonesia optimistis bahwa kesepakatan dagang tersebut akan segera mencapai titik akhir yang positif.
"Pemerintah Indonesia berharap kesepakatan dapat segera selesai dan menguntungkan kedua belah pihak," jelas Haryo.
Sebelumnya, Indonesia berencana mengimpor migas dengan volume sebesar 15 juta barrel of oil equivalent (boe) dari AS. Rencana ini merupakan bagian dari negosiasi penurunan tarif resiprokal yang masih dalam proses. Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan bahwa kesepakatan tersebut akan dituangkan dalam bentuk peraturan pemerintah (PP) atau peraturan presiden (perpres).
Salah satunya terkait dengan komersial pembelian migas dari Amerika Serikat, di mana itu nanti penugasannya salah satunya ke Pertamina. Volumenya kalau migas itu sekitar 15 juta setara [BOE], ujar Airlangga.
Selain minyak mentah, Airlangga juga menyebut bahwa perusahaan swasta akan mengimpor 5 juta ton LPG. Salah satu contohnya adalah PT Lotte Chemical Indonesia (LCI), yang baru saja membangun pabrik petrokimia di Cilegon, Banten. Dengan adanya rencana impor ini, diharapkan dapat meningkatkan ketersediaan energi di Indonesia serta memperkuat hubungan ekonomi antara dua negara.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar