Perkuat Industri, Menperin Ingin Perjanjian Dagang RI-Eurasia Segera Ditandatangani

Percepatan Penyelesaian I–EAEU FTA

Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menyoroti pentingnya percepatan penyelesaian dan penandatanganan Indonesia-Eurasian Economic Union Free Trade Agreement (I–EAEU FTA). Menurutnya, perjanjian ini akan memberikan akses pasar yang lebih luas bagi pelaku industri Indonesia. Hal ini akan dilakukan melalui peningkatan daya saing tarif serta pengurangan hambatan nontarif.

Agus menyampaikan harapan agar perjanjian ini dapat segera ditandatangani. Ia menilai bahwa perjanjian ini akan menjadi instrumen penting untuk memperkuat ketahanan rantai pasok serta memperluas penetrasi produk industri nasional di kawasan Eurasia.

Rampungnya perjanjian tersebut akan menjadi babak baru dalam kerja sama ekonomi Indonesia dengan negara-negara anggota EAEU, yaitu Armenia, Belarus, Kazakhstan, Kyrgyzstan, dan Rusia.

Kerja Sama dengan Rusia

Khusus dengan Rusia, Agus menegaskan bahwa kerja sama industri antara Indonesia dan Rusia terus menunjukkan perkembangan pesat. Ia menilai bahwa kerja samanya sudah berjalan ke arah substantif dan komprehensif, terutama setelah ada pertemuan antara Presiden Prabowo dan Presiden Rusia Vladimir Putin.

Saat ini, Indonesia dan Rusia sedang menjajaki penyelesaian dua dokumen penting kerja sama industri, yaitu MoU on Cooperation in the Field of Shipbuilding dan MoU on Cooperation in the Field of Scientific Research on the Safe Use of Chrysotile Asbestos.

Salah satu MoU, yakni riset keselamatan penggunaan chrysotile asbestos, telah ditandatangani Agus bersama Menteri Perindustrian dan Perdagangan Federasi Rusia Anton Alikhanov di Moskow pada 8 Desember 2025.

Agus berharap MoU lainnya dapat segera diselesaikan. Dengan demikian, akan diperoleh kejelasan kerangka kolaborasi bagi industri besar maupun IKM kedua negara.

Tantangan dan Perkembangan Perdagangan

Agus menilai bahwa dialog intensif untuk menyelesaikan berbagai hambatan teknis antara pelaku industri Indonesia dan Rusia menjadi faktor penting dalam kelancaran hubungan dagang dan investasi. Salah satu tantangan utama adalah biaya logistik akibat jarak geografis yang cukup jauh.

Pada tahun 2024, total perdagangan bilateral nonmigas dengan Rusia mencapai USD 3,9 miliar. Angka ini menunjukkan tren peningkatan sebesar 18,69 persen sejak 2020. Hingga Oktober 2025, nilai perdagangan kedua negara meningkat menjadi USD 4,04 miliar.

Di sisi lain, investasi Rusia di Indonesia juga mencatat pergerakan yang konsisten. Pada 2024, total investasi mencapai USD 262,7 juta. Sementara itu, hingga September 2025, investasi Rusia telah mencapai USD 147,2 juta.

Agus menilai angka-angka ini menunjukkan tingkat kepercayaan yang tinggi dari pelaku industri Rusia terhadap stabilitas ekonomi dan potensi pengembangan industri di Indonesia.

Keterlibatan dalam BRICS

Dalam konteks kerja sama multilateral, Agus memastikan bahwa Indonesia berkomitmen mendukung program-program di bawah BRICS. Salah satu fokus penting adalah partisipasi Indonesia dalam BRICS Centre for Industrial Competences (BCIC).

Kerja sama ini akan menitikberatkan pengembangan berbagai sektor seperti digitalisasi industri, teknologi mobilitas baru, transportasi tanpa awak, pengembangan sumber daya manusia industri, pemberdayaan industri kecil dan menengah (IKM), transformasi digital, kecerdasan buatan, dan bioindustri.

Agus menilai bahwa BCIC merupakan platform strategis bagi transfer teknologi dan percepatan modernisasi industri nasional menuju industri yang cerdas, hijau, dan inklusif.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan