
nurulamin.pro.CO.ID - JAKARTA
Menyongsong tahun 2026, prospek industri elektronik dalam negeri masih menghadapi sejumlah tantangan. Meski demikian, ada peluang yang bisa dimanfaatkan untuk memperkuat posisi sektor ini di pasar domestik maupun internasional.
Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menilai bahwa masuknya industri ke rantai pasok semikonduktor menjadi sentimen positif bagi industri elektronik nasional. Indonesia memiliki potensi untuk melakukan hilirisasi dari bahan baku seperti silika hingga produk semikonduktor. Hal ini menunjukkan bahwa sektor ini tidak hanya berfokus pada penggunaan bahan mentah, tetapi juga mampu menciptakan nilai tambah melalui inovasi teknologi.
Perprindo, yaitu Perkumpulan Perusahaan Pendingin Refrigerasi Indonesia, mengamini bahwa pasar domestik memiliki peluang realistis di segmen downstream, seperti assembly & testing, modul elektronik, dan produk akhir berbasis semikonduktor. Namun, Sekretaris Jenderal Perprindo Andy Arif Widjaja menyatakan bahwa saat ini industri elektronik nasional belum siap masuk ke segmen hulu semikonduktor, seperti manufaktur chip tingkat lanjut.
Untuk meningkatkan nilai tambah, dibutuhkan roadmap nasional yang jelas, insentif investasi jangka panjang, serta kolaborasi antara industri dengan pemerintah dan sektor pendidikan. Andy mengungkapkan bahwa hal ini sangat penting agar sektor elektronik dapat berkembang secara berkelanjutan.
Selain itu, Andy menyoroti beberapa tantangan yang masih menghimpit industri elektronik nasional. Salah satunya adalah tingginya biaya produksi yang disebabkan oleh kenaikan harga bahan baku seperti tembaga dan refrigerant, energi, logistik, serta pembiayaan. Selain itu, ketergantungan terhadap bahan baku impor juga menjadi isu serius.
Tekanan dari produk impor murah, termasuk yang masuk melalui e-commerce lintas negara, turut menjadi perhatian serius. Perprindo menilai bahwa hal ini bukan hanya soal efisiensi industri, tetapi juga keadilan kebijakan perdagangan dan pengawasan impor yang lebih ketat.
Dengan kondisi ini, Andy mengatakan bahwa prospek industri elektronik nasional pada 2026 bersifat hati-hati. Pelemahan daya beli masyarakat sepanjang 2025 diperkirakan masih memberi tekanan pada permintaan, khususnya untuk produk elektronik konsumsi. Dalam situasi daya beli yang melemah, persaingan harga akan semakin ketat. Industri dalam negeri hanya dapat bertahan dan tumbuh jika didukung oleh kebijakan yang konsisten, pengendalian impor yang adil, serta efisiensi biaya produksi.
Tanpa dukungan tersebut, pelemahan daya beli justru akan memperbesar penetrasi produk impor murah dan menekan produsen lokal. Meski demikian, Andy tak memungkiri bahwa pasar domestik tetap memiliki potensi lantaran kebutuhan elektronik bersifat replacement dan kebutuhan dasar, terutama di sektor rumah tangga, komersial, dan industri.
Kadin Indonesia sebelumnya juga menggarisbawahi tantangan kurangnya kesediaan sumber daya manusia (SDM) nasional di industri elektronik. Perprindo juga melihat bahwa industri ini membutuhkan SDM yang relevan dengan perkembangan teknologi, khususnya di bidang otomasi, digital manufacturing, dan elektronik terapan.
Untuk itu, Andy mengungkapkan bahwa Perprindo akan membangun Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) guna menstandarkan kompetensi tenaga kerja. LSP ini ditargetkan beroperasi di semester I-2026. “LSP Perprindo akan segera beroperasi untuk mendukung upskilling dan reskilling, serta menjembatani kebutuhan industri dengan pendidikan vokasi,” ujarnya.
Andy menuturkan bahwa Perprindo mengharapkan dukungan pemerintah terutama Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) agar proses pembangunan LSP Perprindo ini dapat berjalan dengan lancar. Dengan demikian, ekosistem pelatihan dan sertifikasi berjalan efektif untuk mendukung vokasi SDM yang lebih berkompeten.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar