
Peran Ekonomi Daerah dalam Pemulihan Pasca-Bencana
Banjir bandang yang melanda Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatera Barat (Sumbar) telah menghancurkan infrastruktur ekonomi dan memicu fase penurunan (busts) dalam siklus bisnis riil (real business cycle – RBC). Dampak bencana ini sangat besar, sehingga dapat menggerus perekonomian di tiga daerah tersebut sekitar 30 hingga 50 persen. Fenomena ini mengingatkan kita pada pandangan dua ekonom peraih hadiah Nobel Ekonomi tahun 2004, yaitu Finn Kydland dan Edward Prescott, tentang dinamika perekonomian dan RBC.
Keduanya berpandangan bahwa perekonomian bersifat dinamis dan berfluktuasi, dengan fase booming (fase naik) dan busts (fase turun) sebagai respon alamiah terhadap tekanan eksternal seperti bencana alam.
Fase Penurunan Akibat Bencana
Bencana banjir bandang menimbulkan tekanan eksternal pada sisi pasokan (supply-side shock), yang memiliki dampak riil pada sektor pertanian, merusak sistem logistik, mengganggu distribusi barang (supply chain shock), dan menurunkan volume perdagangan. Hal ini menyebabkan kelangkaan barang, kenaikan harga (inflasi), serta hilangnya lapangan kerja.
Perekonomian Aceh, Sumut, dan Sumbar didominasi oleh empat kegiatan utama, yaitu usaha pertanian, perdagangan, konstruksi, serta transportasi dan telekomunikasi. Berikut kontribusi masing-masing sektor terhadap GDP:
- Aceh: Pertanian 26,62%, Perdagangan 15,63%, Konstruksi 9,38%, Transportasi dan Telekomunikasi 7,71%.
- Sumut: Pertanian 25,72%, Perdagangan 18,63%, Konstruksi 12%, Transportasi dan Telekomunikasi 4,81%.
- Sumbar: Pertanian 21,04%, Perdagangan 17,23%, Konstruksi 8,97%, Transportasi dan Telekomunikasi 10,22%.
Ketiga daerah ini berkontribusi terhadap perekonomian nasional sebesar 7,51 persen dari GDP. Masing-masing daerah memberikan kontribusi sebesar 1,16 persen untuk Aceh, 4,85 persen untuk Sumut, dan 1,49 persen untuk Sumbar. Dengan pertumbuhan ekonomi kuartal ketiga secara tahunan sebesar 4,46 persen untuk Aceh, 4,55 persen untuk Sumut, dan 3,36 persen untuk Sumbar, ketiga daerah ini bersama-sama berkontribusi sebesar 0,323 persen terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.
Dampak Ekonomi Nasional
Diperkirakan, supply-side shock akibat bencana alam akan mengurangi kapasitas perekonomian ketiga daerah tersebut sebesar 30 hingga 50 persen. Pengurangan kapasitas sebesar 30 persen akan menurunkan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 0,1 persen, sedangkan pengurangan sebesar 50 persen akan menurunkan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 0,16 persen.
Implikasinya, sulit mencapai target pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal keempat 2025 sebesar 5,32 persen. Selain itu, rasio investasi terhadap GDP diperkirakan turun dari 33,22 persen menjadi 29,35–30,60 persen. Hal ini akan menggerus pertumbuhan ekonomi nasional dari proyeksi sebesar 5,32 persen menjadi 5,16–5,22 persen pada kuartal keempat tahun 2025.
Kebijakan Kontra-Siklus
Untuk menahan laju pelambatan pertumbuhan ekonomi akibat bencana alam, diperlukan kebijakan kontra-siklus yang berskala besar. Kontribusi perekonomian Aceh, Sumut, dan Sumbar terhadap perekonomian nasional sebesar 7,51 persen lebih besar dibanding Pulau Sulawesi yang hanya 7,07 persen dari GDP.
Beberapa kebijakan kontra-siklus yang dapat dilakukan antara lain:
- Membuka Komunikasi Internasional: Menjelaskan bahwa bencana alam Aceh, Sumut, dan Sumbar adalah bencana regional yang dapat ditangani cepat oleh pemerintah. Langkah ini akan mempengaruhi ekspektasi investor terhadap perekonomian nasional, menjaga tingkat risiko rendah dan tetap dalam kategori investment grade.
Langkah ini dapat menunjang realisasi investasi pada kuartal keempat 2025 sesuai target pemerintah, yaitu tambahan investasi baru sekitar 500 trilyun rupiah.
-
Mempercepat Pemulihan Infrastruktur: Proses pemulihan dilakukan mulai dari penanganan darurat hingga rekonstruksi yang melibatkan pemerintah daerah, pusat, TNI, Polri, sektor swasta, dan NGO.
-
Mendorong Investasi ke Pulau Jawa: Setelah bencana alam, pertumbuhan ekonomi nasional hanya bertumpu di Pulau Jawa yang berkontribusi 58,41 persen dari GDP. Empat daerah di Pulau Jawa memiliki kontribusi terbesar, yaitu Jakarta (16,26%), Jabar (13,33%), Jatim (14,96%), dan Jateng (8,87%).
Daerah-daerah di Pulau Jawa secara bersama-sama berkontribusi lebih dari separuh terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.
- Fokus pada Daerah Lain: Mendorong investasi di daerah seperti Kaltim, Sulsel, Riau, Bali, Kalbar, dan Kalsel yang memiliki kontribusi relatif besar terhadap perekonomian nasional.
Kesimpulan
Kebijakan kontra-siklus bertujuan untuk mengurangi dampak supply-side shock (bencana alam) terhadap penurunan pertumbuhan ekonomi nasional atau fase busts dalam siklus bisnis riil. Kebijakan ini mencakup percepatan bantuan darurat, rekonstruksi, dan stimulus fiskal ke daerah-daerah dengan sumbangan relatif besar terhadap perekonomian nasional (shock absorber).
Langkah-langkah ini bertujuan untuk menjamin agar pertumbuhan ekonomi nasional tetap pada fase ekspansi atau booming.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar