Pesan CEO Nvidia: AI Bisa Jadi Mentor Karier Anda

Peran AI sebagai Tutor, Mentor, dan Pelatih dalam Pendidikan dan Profesi

Dalam perkembangan kecerdasan buatan (AI) yang pesat, para pemimpin industri semakin menekankan peran AI sebagai tutor, mentor, dan pelatih untuk meningkatkan kapabilitas manusia. Salah satu tokoh yang menyampaikan hal ini adalah CEO Nvidia, Jensen Huang, yang menilai potensi transformatif AI dalam pendidikan dan pengembangan profesional.

Huang menjelaskan bahwa AI kini dapat mengajar manusia, tetapi ia tidak yakin akan menggantikan manusia di dunia kerja. Dalam sebuah wawancara, ia mengatakan bahwa AI dapat mengurangi upaya, sekaligus mempertahankan signifikansi pekerjaan. "Upaya kerja keras pada dasarnya menjadi nol," ujarnya. "Pengetahuan di hampir semua bidang, hambatan untuk memahaminya, telah berkurang. Saya selalu ditemani oleh tutor pribadi."

Huang merekomendasikan hal yang sama bagi siapa pun yang ingin maju dalam karier mereka. Ia menegaskan bahwa AI adalah cara kita menjadi manusia super. Bagaimana rasanya memiliki pelatih atau mentor yang super cerdas dan super cepat? "Saya bisa menggambarkan dengan tepat bagaimana rasanya," tutur Huang. "Saya dikelilingi oleh orang-orang super, 'kecerdasan super', dari sudut pandang saya. Yang terbaik di dunia, mereka melakukan apa yang mereka lakukan lebih baik daripada saya. Dan saya dikelilingi oleh ribuan (orang-orang ini)!" ucap dia.

Namun, Huang mengaku kondisi tersebut tidak pernah membuat dirinya merasa tidak lagi dibutuhkan. Hal itu justru memberi ia kepercayaan diri untuk melangkah dan menangani hal-hal yang semakin ambisius. "Saya merasa lebih berdaya, lebih percaya diri untuk mempelajari sesuatu hari ini, karena menggunakan tutor dan pelatih AI pribadi. Segera cari tutor AI," kata Huang.

CEO Salesforce, Marc Benioff, juga menyuarakan sentimen serupa. Ia menyoroti kemunculan agen AI di tempat kerja. Menurutnya, sekarang para CEO tidak akan lagi memimpin tenaga kerja yang seluruhnya manusia, menandakan era baru rekan kerja AI. "Mulai saat ini dan seterusnya, kita tidak hanya akan mengelola pekerja manusia, tetapi juga pekerja digital," ujarnya dalam sebuah diskusi panel di Forum Ekonomi Dunia 2025.

Masa Depan AI dalam Pendidikan dan Karier

Mengapa tidak memanfaatkan AI sebagai pelatih atau tutor, sekarang juga? Sepertinya tidak ada alasan untuk menunggu, karena masa depan sudah di depan mata. "Kita akan menjadi manusia super, bukan karena kita manusia super, tetapi karena kita memiliki AI yang super," tutur Huang.

Menjaga keseimbangan di mana AI berfungsi sebagai pelengkap pembelajaran manusia dapat mencegah erosi keterampilan berpikir kritis dan devaluasi pendidikan dasar. "Dalam banyak hal, sekolah berada di garda terdepan dalam menemukan cara praktis dan operasional untuk menggunakan AI, karena mereka harus melakukannya," kata Andrew Martin, PhD, profesor psikologi pendidikan dan ketua kelompok riset psikologi pendidikan di University of New South Wales di Sydney, Australia.

"Semakin Anda mengandalkan AI generatif untuk membantu Anda mengerjakan tugas sekolah, semakin kecil kemungkinan Anda untuk bertemu dengan teman secara langsung atau daring sepulang sekolah untuk bertukar pikiran tentang esai," kata Martin.

Integrasi AI dalam Sistem Pendidikan

Bagaimana kita mengintegrasikan tutor dan pelatih AI ke dalam sistem pendidikan akan sangat penting bagi masa depan dunia kerja. Namun untuk saat ini, menggunakan sumber daya seperti ChatGPT dan perangkat AI lainnya untuk pendampingan dan pelatihan dapat menjadi langkah cerdas bagi karier Anda. Setidaknya, begitulah pandangan Huang dan yang lainnya.

AI berpotensi meningkatkan kemampuan manusia secara signifikan dengan menawarkan panduan, pembinaan, dan bimbingan. Alih-alih mengambil alih pekerjaan atau mengurangi rasa kemanusiaan kita, AI dapat meningkatkan kemampuan kita, memberikan dukungan yang menghasilkan inovasi dan produktivitas yang lebih tinggi.

Kunci untuk bekerja dengan alat apa pun terletak pada cara Anda menggunakannya. Jadi, mengapa tidak menggunakan AI sebagai mentor karier, untuk memaksimalkan potensi Anda?

Siapa Jensen Huang?

Nvidia, perusahaan semikonduktor yang selama ini identik dengan GPU untuk gaming dan kecerdasan buatan, tak lepas dari nama Jensen Huang. Huang lahir pada 17 Februari 1963 di Taiwan dan tumbuh dalam keluarga sederhana. Pada usia sembilan tahun, Huang pindah ke Amerika Serikat bersama keluarganya.

Setelah menyelesaikan pendidikan sarjana teknik elektro di Oregon State University, Huang melanjutkan studi magister di bidang yang sama di Stanford University. Karier profesional Huang dimulai sebagai desainer mikroprosesor. Ia pernah bekerja di AMD dan LSI Logic, sebelum memutuskan untuk mendirikan Nvidia.

Pada 5 April 1993, bersama dua rekannya, Huang mendirikan Nvidia, tepatnya di sebuah restoran Denny’s di San Jose, California. Sejak itu ia menjabat sebagai Presiden dan CEO perusahaan.

Mengubah Industri: Dari GPU Gaming ke AI Global

Di awal, Nvidia dikenal sebagai produsen GPU yang digunakan untuk gaming maupun aplikasi grafis. Namun di bawah kepemimpinan Jensen Huang, fokus perusahaan berkembang pesat ke komputasi performa tinggi, data center, dan kecerdasan buatan (AI). Transformasi itu membuat Nvidia kini berada di garis depan revolusi AI global. GPU-nya digunakan sebagai jantung komputasi pusat data dan pelatihan model-model AI.

Huang sendiri melihat masa depan komputasi berbeda dari masa lalu, bukan hanya soal CPU versus GPU, tetapi era "accelerated computing" dengan AI sebagai motor utama.

Filosofi Kepemimpinan dan Pandangan Terhadap Sukses

Jensen Huang dikenal memiliki visi dan filosofi yang kuat dalam memimpin. Dia pernah berkata, "Orang-orang akan semakin banyak menggunakan AI. Akselerasi akan menjadi jalur masa depan komputasi." Selain itu, “Anda harus berani mengerjakan proyek yang tampaknya mustahil.”

Huang tak menutupi kerasnya proses di balik kesuksesan. Menurut dia, membangun Nvidia ternyata sejuta kali lebih sulit dari yang ia duga. Baru-baru ini, dia berkata bahwa meski sudah berada di puncak, ia tetap menganggap perusahaannya “selalu 30 hari dari kebangkrutan”. Ini ungkapan yang mencerminkan kewaspadaan dan semangat berkelanjutan untuk inovasi.

Menurut beberapa pengamat, gaya kepemimpinan Huang, yang mengutamakan hasil teratas, efisiensi, dan visi jangka panjang, menjadi faktor utama keberhasilan Nvidia di tengah dinamika industri semikonduktor yang sangat cepat. Meski sudah sukses besar, Huang mengaku tidak pernah berhenti bekerja: ia mengaku bekerja setiap hari, bahkan pada hari libur.

Namun tantangan tetap besar: persaingan global di sektor AI dan semikonduktor, regulasi ekspor chip, serta ketidakpastian geopolitik bisa mempengaruhi akses pasar dan rantai pasokan. Ini faktor yang memerlukan strategi cermat dari meja kepemimpinan.

Dalam beberapa kesempatan, Huang menegaskan bahwa AI ada dalam “fase awal revolusi komputasi,” dan perusahaan harus siap untuk pertumbuhan berkelanjutan.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan