Duka yang Mengguncang Keluarga
Revan Mangolo, adik dari Maria Antoineta Evia Mangolo, seorang mahasiswa Universitas Negeri Manado (Unima), tak kuasa menahan air mata saat melepas kakaknya. Kini, kehilangan yang dirasakan oleh Revan adalah luka yang sangat dalam.
Pesan WhatsApp terakhir yang sempat dikirimkan oleh Evia menjadi kenangan paling menyakitkan bagi keluarga. Di dalam pesan tersebut, Evia berjanji akan pulang setelah Tahun Baru. Namun, janji itu kini hanya menjadi pertanyaan yang tak akan pernah terjawab.
Peristiwa Kematian yang Mencurigakan
Evia ditemukan meninggal dunia di kamar kosnya, Kelurahan Kaaten, Tomohon Tengah, Sulawesi Utara, pada Selasa pagi, 30 Desember 2025. Keputusan otopsi diambil oleh RS Kandou Manado demi mengungkap penyebab kematian korban. Keluarga sepenuhnya menyerahkan penanganan kasus ini kepada aparat kepolisian.
Di rumah persemayaman, duka itu tak lagi bisa dibendung. Revan, yang masih duduk di bangku kelas 2 SMP, histeris dan suaranya gemetar. Ia terus memanggil kakaknya dengan isak tangis yang tak henti.

Sosok Evia dalam Pandangan Keluarga
Bagi keluarga, Evia dikenal sebagai sosok yang pendiam namun tekun dan rajin mengerjakan tugas. Tante korban, Ketsia, mengingat bagaimana Evia sering kali lupa makan karena fokus mengerjakan tugas kelompok. Laptop selalu ada di depan matanya, bahkan saat sedang menginap di rumah keluarga.
Menjelang Natal, Evia sempat mengunggah beberapa story di media sosial. Ada momen mandi di pantai bersama sang adik. Ada juga unggahan yang diduga merupakan lembar kertas tanda kelulusan KKN disertai pesan “kado Natal untuk mama.” Tak ada satu pun yang mengisyaratkan tragedi yang akan terjadi.
Pemulangan Jenazah yang Tertunda
Jenazah Evia saat ini disemayamkan di rumah kerabat keluarga di Perumahan CBA Gold, Mapanget. Rumah duka milik Pdt Roos Merry Kabuhung, tante Evia yang melayani di Jemaat GMIM Eden Mapanget, dipenuhi pelayat sejak pagi.
Awalnya, keluarga berencana membawa jenazah pulang ke Ulu Siau, Kepulauan Sitaro, Rabu (31/12/2025) pagi. Namun rencana itu terpaksa dibatalkan. Keputusan berat diambil: jenazah Evia akan diotopsi.

Luka Biru di Tubuh Korban Picu Otopsi
Keputusan otopsi diambil setelah keluarga menemukan tanda mencurigakan di tubuh Evia. Tante korban mengungkap, dorongan untuk memeriksa kaki jenazah muncul secara spontan. Saat itulah terlihat tanda biru dan luka di beberapa bagian tubuh termasuk pinggang kiri dan paha atas.
Atas temuan itu, keluarga sepakat menyerahkan sepenuhnya penanganan kasus kematian Evia kepada pihak kepolisian. Jenazah akan dibawa ke RS Kandou Manado untuk proses otopsi.
Orang Tua Menyusul, Ibu Menanti di Kampung
Ayah Evia, Antonius Mangolo, bersama Revan dan kerabat lainnya telah tiba di Manado sejak Rabu dini hari. Sementara sang ibu, Sofia Lontolawa, belum sanggup datang. Ia memilih menanti di Kampung Tatahadeng, Kecamatan Siau Timur menunggu kabar tentang putri sulung yang tak sempat dipeluk untuk terakhir kalinya.
“Kami berencana membawa pulang anak kekasih pagi ini, tapi rencana berubah karena mau otopsi,” ujar paman Evia, Jhonli Mangolo.
Duka yang Belum Usai
Di rumah duka, puluhan pelayat terus berdatangan. Beberapa berasal dari Ikatan Kekeluargaan Indonesia Sangihe Sitaro Talaud (IKISST) Sulawesi dan Manado. Namun di antara doa-doa yang dipanjatkan, satu pertanyaan terus menggantung apa yang sebenarnya terjadi pada Evia?
Bagi Revan, jawaban apa pun tak akan mengembalikan kakak yang dijanjikan pulang setelah Tahun Baru. Yang tersisa kini hanyalah tangis, kenangan, dan rindu yang tak sempat terucap.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar