nurulamin.pro, PALU - Ketergantungan Kota Palu terhadap pasokan bawang merah dari luar daerah, seperti Enrekang dan Bima, dinilai masih cukup tinggi.
Kondisi ini mendorong petani bawang merah di Kelurahan Petobo, Kecamatan Palu Selatan, untuk terus meningkatkan produksi lokal.
Ketua Kelompok Tani Mandiri Petobo, Suwadi, mengatakan peluang pengembangan bawang merah lokal di Petobo masih sangat terbuka.
Dari total lahan yang tersedia, pemanfaatannya baru sekitar 20 persen, sehingga masih terdapat sekitar 80 persen lahan yang bisa dikembangkan.
“Selama ini kebutuhan bawang merah di Palu masih banyak disuplai dari Enrekang dan Bima. Padahal, lahan di Petobo masih sangat memungkinkan untuk dimaksimalkan,” kata Suwadi kepada nurulamin.pro, saat ditemui, Senin (12/1/2026).
Menurutnya, pasokan bawang merah dari luar daerah memiliki biaya distribusi yang lebih tinggi karena jarak pengiriman yang jauh.
Hal tersebut menjadi peluang tersendiri bagi petani lokal untuk mengisi pasar yang ada di Kota Palu dan sekitarnya.
“Kalau kita bisa membudidayakan sendiri, pasarnya itu ada di sekitar kita, bahkan di halaman rumah kita sendiri,” ujarnya.
Suwadi mengungkapkan, lahan yang saat ini dikelolanya hampir mencapai lima hektare dengan pola tanam dilakukan secara bertahap.
Varietas bawang merah yang dibudidayakan antara lain bawang merah Lembah Palu seluas sekitar setengah hektare, Bima Brebes sekitar dua hektare, serta varietas Tajuk seluas kurang lebih dua setengah hektare.
Dari lahan tersebut, produktivitas bawang merah di Petobo rata-rata dapat dimaksimalkan hingga di atas 10 ton per hektare.
Namun demikian, hasil panen sangat bergantung pada pemupukan dan pemeliharaan tanaman.
“Kalau pupuk dan nutrisinya cukup, kualitas umbinya juga akan bagus,” jelasnya.
Ia menambahkan, meskipun kelompok tani di Kelurahan Petobo cukup banyak, namun yang fokus mengembangkan hortikultura, khususnya bawang merah, masih terbatas.
Karena itu, dirinya aktif mengajak kelompok tani lain untuk terlibat, sekaligus memberikan pemahaman terkait analisis usaha tani.
“Supaya teman-teman petani tahu berapa modal yang dikeluarkan dan berapa hasil yang diperoleh. Kalau hitungannya jelas dan keuntungannya terlihat, mereka pasti tertarik,” kata Suwadi.
Suwadi juga menilai pengembangan bawang merah di Petobo sejalan dengan upaya ketahanan pangan daerah.
Untuk skala kecil, lahan satu hingga dua hektare masih bisa dikelola sendiri. Namun jika pengembangan mencapai 10 hingga 20 hektare, pemberdayaan masyarakat menjadi hal yang tidak terelakkan.
“Kalau sudah sampai 10 atau 20 hektare, itu pasti harus memberdayakan teman-teman, tidak mungkin dikerjakan sendiri,” ujarnya.
Sebelumnya, Pemerintah Kota Palu menyatakan komitmennya untuk mengembangkan sekitar 20 hektare lahan bawang merah di Petobo.
Wakil Wali Kota Palu, Imelda Liliana Muhidin, menyebut kawasan tersebut sangat potensial dijadikan sentra hortikultura guna menopang kebutuhan bawang merah lokal sekaligus menekan ketergantungan pasokan dari luar daerah.
Suwadi berharap Pemerintah Kota Palu terus memberikan dukungan dan pendampingan, terutama untuk mendorong minat petani milenial agar terjun ke sektor pertanian.
“Kalau sudah tahu dan sudah merasakan, bertani itu jelas profesi yang layak dan menjanjikan,” pungkasnya. (*)
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar