PKL tak terima disebut biang macet di RSCM, tuding bajaj yang ngetem

JAKARTA, nurulamin.pro – Aktivitas pedagang kaki lima (PKL) dan angkutan umum yang mangkal di depan Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, kembali disorot sebagai pemicu kemacetan lalu lintas.

Trotoar dan bahu jalan yang seharusnya steril dari aktivitas ekonomi dan parkir kerap beralih fungsi, mempersempit ruang bagi pejalan kaki dan kendaraan.

Trotoar di sisi jalan tersebut tampak dipenuhi lapak dagangan, sementara bahu jalan dimanfaatkan sebagai lokasi parkir liar. Kondisi ini membuat arus kendaraan tersendat, terutama pada jam-jam sibuk ketika aktivitas rumah sakit meningkat.

Asep (45), bukan nama sebenarnya, seorang penjual cilok yang mangkal di trotoar depan RSCM, menolak anggapan bahwa pedagang menjadi penyebab utama kemacetan.

Ia justru menilai kendaraan angkutan umum, terutama bajaj dan ojek online, lebih berkontribusi terhadap kepadatan lalu lintas karena parkir sembarangan hingga memakan badan jalan.

"Kalau dibilang sadar macet, ya saya kan bisa lihat kalau macet. Tapi kayaknya enggak deh (kami jadi biang kerok kemacetan)," ujar Asep saat ditemui nurulamin.pro di lokasi, Minggu (11/1/2026).

Menurut Asep, pedagang hanya memanfaatkan sedikit ruang di pinggir trotoar atau bahu jalan. Sementara itu, kendaraan umum kerap mangkal dalam waktu lama, bahkan membentuk dua lapis parkir yang menutup akses kendaraan lain.

"Coba itu di depan kan banyak Itu bajaj, kan sama kalau soal bikin macet. Kalau kami (pedagang) liar, parkir juga liar," kata Asep.

Ia juga menilai pedagang kecil kerap menjadi sasaran utama penertiban, sementara pelanggaran serupa oleh kendaraan angkutan umum terkesan dibiarkan.

"Jangan mentang-mentang kami pedagang kecil, terus kami yang paling disalahin," lanjutnya.

Bajaj tak punya tempat mangkal

Pantauan nurulamin.pro di lokasi menunjukkan deretan bajaj berwarna biru berjajar menutupi lajur paling kiri jalan. Sejumlah kendaraan roda tiga itu bahkan terparkir tepat di atas jalur sepeda yang dicat hijau.

Menanggapi keluhan pedagang, Abdul (52), seorang sopir bajaj yang mangkal di kawasan tersebut, mengaku terpaksa parkir di bahu jalan dan jalur sepeda karena tidak tersedia tempat tunggu resmi di sekitar RSCM.

"Iya tahu ini jalur sepeda. Tapi, ya gimana, kami namanya mangkal. Enggak ada yang lewat juga sih sebenarnya (pesepeda)," kata Abdul.

Abdul mengaku enggan menunggu di gedung parkir atau lokasi yang lebih jauh dari gerbang rumah sakit karena dinilai tidak strategis. Menurutnya, penumpang bajaj umumnya berasal dari pasien atau keluarga pasien yang baru keluar dari RSCM.

"Kalau enggak ada penumpang tekor setoran. Kan nawarin juga enak (kalau di depan gerbang), langsung naik," ucapnya.

Meski saling menunjuk soal penyebab kemacetan, baik pedagang maupun sopir bajaj menyadari bahwa mereka mencari nafkah di ruang yang sama dan saling bergantung pada keramaian kawasan rumah sakit.

"Ya biasanya memang (pelanggan) keluarga-keluarga yang nunggu. Di sini kan memang ramai, makanya yang dagang juga ramai. Ada gula ada semut lah," kata Asep.

Keduanya berharap pemerintah dapat menghadirkan solusi yang adil dan berkelanjutan bagi semua pihak.

"Pengennya biar sama-sama enak. Kita kalau misal digusur ya kasih tempat yang enak gitu, jangan di tempat sepi. Siapa yang beli kan nanti," ucap Asep.

Senada, Abdul juga berharap adanya lokasi mangkal khusus yang aman sekaligus strategis bagi angkutan umum.

"Kalau ada bisa dibikin kayak tempat khususnya juga boleh. Saya mah yang penting dapet penumpang. Sekarang aja dapetnya udah susah," tutur dia.

Sebelumnya, kondisi lalu lintas di sekitar RSCM dikeluhkan warganet yang diunggah oleh akun Instagram @jakartapusat.info. Menurut unggahan tersebut, kondisi lalu lintas yang macet di depan RSCM disebut tidak mengalami perubahan dari tahun ke tahun.

Unggahan tersebut juga menyebutkan, kemacetan yang terus berulang akibat keberadaan pedagang kaki lima di sepanjang jalan, serta pemanfaatan ruas jalan sebagai area parkir sepeda motor dan bajaj.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan