
Komitmen BPI Danantara Indonesia dan Badan Pengatur BUMN dalam Pemulihan Pasca Bencana
Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara Indonesia) dan Badan Pengatur BUMN menunjukkan komitmennya yang kuat dalam mendukung pemulihan pasca bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Upaya ini dilakukan melalui berbagai sektor kritis seperti jaringan kelistrikan, telekomunikasi, penyediaan air bersih, serta bahan bakar minyak (BBM).
Peran PLN dalam Pemulihan Jaringan Kelistrikan
CEO Danantara Indonesia menyampaikan bahwa PT Perusahaan Listrik Negara atau PLN (Persero) menjadi garda terdepan dalam pemulihan jaringan listrik. PLN tidak hanya fokus pada pemulihan jaringan utama tetapi juga mengerahkan suplai kelistrikan darurat untuk wilayah yang terisolir.
Salah satu contoh adalah di Aceh Tamiang, di mana PLN mengirimkan genset 66.000 watt dari Langsa. Dengan pengiriman ini, listrik di RSUD Muda Sedia dan Tamiang Sport Center telah menyala. Hal ini sangat penting karena Tamiang Sport Center digunakan sebagai tempat evakuasi, logistik, dan pendataan warga.
"Di Aceh Tamiang, PLN memastikan tersedianya suplai listrik RSUD Muda Sedia dan posko pengungsian melalui pengiriman genset 66.000 watt dari Langsa, sementara Tamiang Sport Center berhasil menyala untuk mendukung proses evakuasi, logistik, dan pendataan warga," ujar Rosan dalam keterangan tertulis.
Selain itu, PLN juga mengoperasikan genset 33.000 watt bagi PDAM untuk memulihkan layanan air bersih. Selain itu, PLN menyiapkan genset 100.000 watt dari Banda Aceh untuk menjaga layanan publik dan pemerintahan tetap berjalan.
Upaya Darurat di Aceh Tengah
Di Aceh Tengah, PLN bekerja sama dengan BNPB dan TNI menerbangkan genset 250 kVA seberat 3,6 ton ke RSUD Datu Beru menggunakan helikopter setelah seluruh akses darat terputus. Intervensi cepat ini menjadi penopang utama layanan kesehatan dan memastikan aktivitas kritis tetap berlangsung di masa tanggap darurat.
"Intervensi cepat ini menjadi penopang utama layanan kesehatan dan memastikan aktivitas kritis tetap berlangsung di masa tanggap darurat," ujarnya.
Tantangan dalam Pemulihan Jaringan Listrik
Sebelumnya, PT PLN (Persero) mengakui bahwa pemulihan jaringan listrik di sejumlah wilayah terdampak bencana di Aceh masih membutuhkan waktu. Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, menyebut masih banyak titik terisolasi yang belum bisa dialiri listrik secara penuh akibat kerusakan jaringan dan akses yang sulit dijangkau.
Darmawan menjelaskan, sebelumnya ada empat kabupaten yang dalam kondisi gelap total akibat dampak bencana. Mulai dari Takengon, Bener Meriah, Aceh Tamiang, hingga Aceh Gayo Lues.
“Ada empat kabupaten yang masih terisolasi. Yaitu pertama adalah Kabupaten Aceh Tengah ibu kotanya Takengon, yang pada saat itu masih gelap gulita,” kata Darmawan dalam konferensi pers secara daring.
“Kemudian juga Bener Meriah yang ibu kotanya Simpang Tiga Redelong, pada saat itu juga gelap gulita. Serta Aceh Tamiang dengan ibu kotanya Kuala Simpang yang masih gelap gulita. Juga Aceh Gayo Lues dengan ibu kotanya Blangkejeren yang masih gelap gulita,” tambahnya.
Kesimpulan
Upaya pemulihan pasca bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat menunjukkan komitmen serius dari berbagai pihak, termasuk BPI Danantara Indonesia dan PLN. Dengan kerja sama antara BUMN, pemerintah, dan lembaga terkait, diharapkan pemulihan dapat berjalan lebih cepat dan efisien, sehingga masyarakat dapat segera kembali beraktivitas dengan normal.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar