PM Bulgaria Mengundurkan Diri Usai DiProtes Rakyatnya

Pengunduran Diri Perdana Menteri Bulgaria

Pada hari Kamis, 11 Desember 2025, Perdana Menteri Bulgaria, Rosen Zhelyazkov, mengumumkan pengunduran dirinya dari jabatannya setelah puluhan ribu warga melakukan protes di seluruh negeri pada malam sebelumnya. Protes ini berlangsung sebagai bentuk kekecewaan terhadap pemerintah yang dituduh korupsi.

Euronews dan Al Jazeera melaporkan bahwa rakyat menuntut agar pemerintah mundur karena adanya dugaan korupsi yang terjadi. Zhelyazkov menyampaikan pernyataannya dalam sidang luar biasa di Majelis Nasional, di mana ia mengatakan bahwa pihaknya mendengar suara warga dan harus merespons tuntutan tersebut. Ia menekankan bahwa baik kalangan muda maupun tua telah memberikan dukungan untuk pengunduran diri pemerintah. "Sikap warga negara ini harus didorong," ujarnya.

Ia juga menyampaikan bahwa tantangan masih menanti di depan, dan protes-protes tersebut harus menjadi bentuk penjelasan tentang bagaimana profil pemerintah seharusnya mulai saat ini. Zhelyazkov menyerukan kepada para pemimpin protes untuk menjalankan tuntutan tersebut dengan membangun pemerintahan yang lebih baik, berdasarkan pencapaian pemerintahan sebelumnya, tetapi melalui transisi yang baik.

Presiden Rumen Radev juga menyerukan pemerintah untuk mengundurkan diri awal pekan ini. Dalam pesan yang diposting di halaman Facebook-nya pada hari Kamis, Radev menyampaikan, Antara suara rakyat dan ketakutan akan mafia. Dengarkan suara masyarakat! Meskipun memiliki kekuasaan terbatas berdasarkan konstitusi Bulgaria, Radev akan meminta partai-partai di parlemen untuk mencoba membentuk pemerintahan baru. Jika mereka tidak mampu melakukannya, seperti yang tampaknya mungkin terjadi, ia akan membentuk pemerintahan sementara untuk menjalankan negara hingga pemilihan umum baru dapat diadakan.

Demonstrasi Massal di Seluruh Negeri

Pada Rabu di Sofia, para pengunjuk rasa berkumpul di alun-alun pusat dekat gedung parlemen, pemerintahan, dan kepresidenan. Menurut laporan yang dilansir dari Euronews, para pengunjuk rasa menggunakan laser untuk memproyeksikan kata-kata seperti "Pengunduran Diri", "Mafia Keluar", dan "Untuk Pemilu yang Adil" di gedung parlemen. Jumlah demonstran diperkirakan mencapai lebih dari 100.000 orang, dengan beberapa laporan mengklaim hingga 150.000 orang berkumpul di ibu kota Bulgaria.

Mahasiswa dari universitas-universitas di Sofia turut serta dalam demonstrasi tersebut, yang menurut penyelenggara melebihi demonstrasi pekan lalu yang menarik lebih dari 50.000 orang. Aksi protes terjadi di lebih dari 25 kota besar di seluruh Bulgaria, termasuk Plovdiv, Varna, Veliko Tarnovo, dan Razgrad. Di Plovdiv, beberapa ribu orang berkumpul di Lapangan Saedinenie, mengibarkan bendera Bulgaria berukuran besar dan mengangkat poster anti-pemerintah.

Di Burgas, hampir 10.000 orang berkumpul di depan gedung pemerintah kota dan menyampaikan tuntutan mereka dengan sketsa dan video yang diproyeksikan di layar video. Warga Bulgaria di luar negeri juga ikut berpartisipasi, dengan demonstrasi yang diadakan di Brussels, London, Berlin, Wina, Zurich, dan New York.

Tuntutan dan Penyebab Protes

Tuntutan utama dari para demonstran adalah pengunduran diri pemerintah serta kondisi hidup dan kerja yang lebih baik. Demonstrasi ini terjadi setelah aksi unjuk rasa pekan lalu yang dipicu oleh usulan anggaran pemerintah tahun 2026. Tahun depan, Bulgaria berencana menaikan pajak, meningkatkan iuran jaminan sosial, dan pengeluaran. Akhirnya, pemerintah menarik kembali rencana anggaran yang kontroversial tersebut.

Protes ini menunjukkan kepedulian masyarakat terhadap isu-isu yang dianggap merugikan kepentingan rakyat. Dengan jumlah peserta yang sangat besar, demonstrasi ini menjadi bukti bahwa tekanan dari masyarakat sangat kuat dan bisa memengaruhi kebijakan pemerintah.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan