
Penangkapan Pria Berkostum Santa Claus di Israel
Seorang pria yang berpakaian seperti Santa Claus ditangkap oleh polisi Israel dalam perayaan Natal Desember 2025. Kejadian ini menyebar luas di media sosial pada Kamis (24/12/2025). Dalam video yang beredar, pria berwajah Arab tersebut mencoba melawan dengan tangan kosong saat diringkus oleh aparat kepolisian.
Menurut laporan dari The Middle East Eye, kelompok hak asasi manusia setempat menyatakan bahwa polisi Israel menangkap seorang pria Palestina yang mengenakan kostum Sinterklas saat penggerebekan perayaan Natal di Haifa awal pekan ini. Polisi membubarkan secara paksa acara perayaan yang diadakan oleh warga Palestina Kristen Israel di lingkungan Wadi Nisnas pada hari Minggu (18/12/2025) dan menyita peralatan dari acara tersebut.
Mossawa Centre, sebuah organisasi yang memperjuangkan hak-hak warga Palestina di Israel, mengungkapkan bahwa polisi menggunakan kekerasan berlebihan saat menahan pria yang berpakaian seperti Sinterklas, serta seorang DJ dan seorang pedagang kaki lima. Ketiganya dibebaskan pada hari Senin tetapi diperkirakan akan dipanggil kembali ke pengadilan.
Selain itu, Mossawa juga menyebutkan bahwa polisi melakukan penggerebekan terhadap sebuah institut musik tanpa izin resmi saat perayaan Natal di wilayah jajahan tersebut.
Peran Umat Kristen Arab Palestina
Sepanjang sejarah dan peradaban Palestina, umat Kristen Arab Palestina telah memainkan peran penting dan tetap menjadi bagian yang esensial dan tak terpisahkan dari tatanan nasional Palestina. Seperti semua warga Palestina yang hidup di bawah pendudukan militer Israel, umat Kristen sangat terdampak oleh kebijakan Israel berupa genosida, apartheid, perluasan pemukiman, penyitaan tanah dan wakaf keagamaan, pembatasan pergerakan, pembersihan etnis, dan praktik sistematis yang bertujuan untuk memecah belah masyarakat Palestina dan mengikis kesinambungan sejarah dan budayanya.
Ancaman-ancaman ini merupakan bagian dari strategi sistematis yang bertujuan untuk merekayasa ulang realitas demografis, geografis, dan hukum wilayah tersebut dengan melanggar hukum internasional, sehingga memperkuat aneksasi de facto ilegal Tepi Barat. Akibatnya, ribuan umat Kristen terpaksa meninggalkan tanah air mereka, menyebabkan penurunan tajam jumlah mereka.
Hal ini menimbulkan ancaman eksistensial bagi masyarakat Palestina dan menimbulkan kekhawatiran serius bahwa gereja dan tempat-tempat suci dapat menjadi museum kosong dan tujuan ziarah, tanpa komunitas asli mereka.
Upaya Mempertahankan Tradisi
Selama beberapa dekade, umat Kristen Palestina telah berupaya mempertahankan tradisi keagamaan mereka meskipun berada di bawah pendudukan dan pembatasan ketat terhadap akses ke tempat-tempat suci. Namun, dalam dua tahun terakhir, agresi genosida Israel di Jalur Gaza, bersamaan dengan agresinya terhadap Tepi Barat, termasuk Yerusalem yang diduduki, telah mengakibatkan penangguhan resmi perayaan Natal publik—terutama di Betlehem—sebagai simbol duka cita nasional dan solidaritas kolektif.
Klaim yang Menyesatkan
Situasi ini sangat kontras dengan klaim yang menyesatkan dan bermotivasi politik yang dibuat pada September 2025 oleh Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di hadapan Perserikatan Bangsa-Bangsa, yang menyatakan bahwa Israel adalah "satu-satunya tempat di Timur Tengah di mana umat Kristen merasa aman."
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar