
Menteri Keuangan Minta Waktu Satu Tahun untuk Perbaikan Bea Cukai
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa pihaknya membutuhkan waktu selama satu tahun untuk melakukan perbaikan kinerja Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Hal ini menjadi salah satu berita yang mendapat perhatian besar dari masyarakat. Selain itu, isu mengenai target Presiden Prabowo agar negosiasi tarif dagang dengan Amerika Serikat (AS) selesai pada akhir tahun ini juga menjadi topik utama.
Purbaya menyatakan bahwa ia telah meminta izin kepada Presiden Prabowo untuk memberikan kesempatan selama setahun agar instansi tersebut dapat diperbaiki. Permintaan ini muncul setelah adanya ancaman pembekuan terhadap Ditjen Bea Cukai. Ia menilai bahwa pegawai di sana memiliki kapasitas yang baik, namun mereka memerlukan dorongan agar kinerjanya lebih optimal.
Dalam upaya perbaikan, Purbaya menjelaskan bahwa pihaknya akan melakukan beberapa langkah seperti pemasangan teknologi dan pelatihan bagi pegawai. Ia juga menekankan bahwa tidak khawatir karena pegawai di sana adalah orang-orang yang cerdas. Namun, ia menambahkan, "Jadi gebuk-gebuk, dorong-doronglah," sebagai cara untuk mendorong kinerja mereka.
Jika dalam setahun ke depan tidak ada kemajuan signifikan, pemerintah akan mempertimbangkan tindakan lain, termasuk pembekuan institusi tersebut. Sementara itu, pembicaraan lebih lanjut dengan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (MenPANRB) Rini Widyantini tentang nasib pegawai ASN yang mungkin terdampak pembekuan belum perlu dilakukan karena fokus saat ini adalah perbaikan kinerja.
Prabowo Targetkan Penyelesaian Negosiasi Tarif AS Akhir 2025
Presiden Prabowo Subianto menetapkan target agar negosiasi tarif dagang antara Indonesia dan Amerika Serikat (AS) dapat rampung pada akhir tahun 2025. Hal ini menjadi salah satu agenda penting yang sedang dijalani oleh pemerintah Indonesia. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dan delegasi Indonesia akan kembali terbang ke AS pekan berikutnya untuk menuntaskan pembahasan tersebut.
Airlangga menjelaskan bahwa negosiasi ini bertujuan untuk mencapai kepentingan bersama antara kedua negara. AS mengapresiasi posisi Indonesia dalam proses negosiasi ini. Capaian yang telah diraih sebelumnya adalah penurunan tarif impor dari 32 persen menjadi 19 persen, yang merupakan hasil dari pertemuan pada 22 Juli lalu.
Meskipun masih dalam proses negosiasi dan terdapat beberapa pembatasan dari AS terhadap produk impor Indonesia, Airlangga memastikan bahwa ekspor tetap berjalan lancar. Permintaan terhadap produk Indonesia, seperti furnitur dan kayu meranti, tetap kuat di pasar AS. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun ada tantangan, Indonesia tetap mampu menjaga daya saing di pasar internasional.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar