PPP Karyawan RSUD RAT Tanjungpinang Meninggal, Keluarga Kecewa Pelayanan Rumah Sakit

PPP Karyawan RSUD RAT Tanjungpinang Meninggal, Keluarga Kecewa Pelayanan Rumah Sakit

Kematian Pegawai PPPK di RSUD RAT Tanjungpinang: Duka dan Pertanyaan

Muhammad Yusuf Bin Ridwan, seorang pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Raja Ahmad Tabib (RAT) Tanjungpinang Kepri, telah pergi untuk selamanya. Ia meninggal dunia di RSUD RAT Tanjungpinang pada hari Sabtu (6/12/2025). Kepergian Yusuf meninggalkan duka yang mendalam bagi keluarganya. Mereka sempat merasa kecewa dengan pelayanan di rumah sakit tempat almarhum bekerja.

Seorang anggota keluarga, Ade Kadafie, membuat cuitan menyedihkan di group media sosial (medsos) Facebook Tanjungpinang dan viral. Cuitannya berisi rasa duka atas kematian Yusuf dan kronologi serta keluhan sakit korban.

" Innalillahi wa inna ilai hirojiun. Sabtu 6 Desember 2025 telah berpulang keluarga kami Muhammad Yusuf (ASN PPPK RSUD RAT Tanjungpinang ," tulis Ade.

Selanjutnya dia menyampaikan kronologi dan keluhan sakit korban. Awalnya Yusuf mengalami sesak napas. Keluhan itu menurut korban tidak biasa. Korban meminta untuk langsung dibawa ke rumah sakit. Sesampainya di IGD RSUD RAT, petugas atau dokter IGD mengecek dengan stetoskop dan memberikan keterangan bahwa medis tidak melihat penyakit serius yang dialami korban kala itu.

"Petugas meminta keluarga untuk pergi ke faskes sesuai BPJS terlebih dahulu, baru minta puskesmas atau klinik itu memberi rujukan ke RS untuk ditangani," ujarnya.

Solusi yang diberikan itu, membuat keluarga tak habis pikir. Keluarga mulai mempertanyakan hal itu. Apakah petugas itu tidak cukup kompeten dan berhati nurani untuk menangani pasien yang membutuhkan pertolongan serius. "Atau petugas saat ini tidak memandang nyawa sebagai hal paling penting, dimana hari nuraninya?" tulis Ade.

Ia menyampaikan, keluarga mungkin tidak banyak mengetahui tentang dunia kesehatan dan segala aturan tentang penanganan. Namun sedikitnya dari literasi yang dibaca, menurut mereka tidak seperti itu penanganannya. Di sisi lain, pihak keluarga menyadari maut merupakan takdir Allah. "Kami sadar maut, rezeki semua sudah tertakar Allah SWT, tetapi tunjukkanlah betapa profesionalnya profesi anda, dan banyak orang berharap besar terhadap profesi anda," ujarnya.

Ade mengaku tak bermaksud menjelekkan petugas kesehatan dan instansi RSUD tersebut. Hanya saja selaku masyarakat, alangkah baiknya untuk semua hal yang sudah sampai datang ke rumah sakit, agar melakukan pengecekan secara serius. "Karena jika tidak dengan kalian, sama sapa lagi kami meminta pertolongan," tulis Ade dengan nada marah.

Penjelasan Direktur RSUD RAT

Terpisah, Direktur RSUD RAT Tanjungpinang dr. Bambang Utoyo menyebut pihaknya tidak mempersulit atau menolak pasien bernama Muhammad Yusuf. Bantahan itu disampaikan Bambang setelah cuitan keluarga almarhum Yusuf, Ade Kadafie, viral di media sosial (medsos).

"Itu tidak benar, kami tidak mungkin tolak pasien. Apalagi dia juga merupakan staf kami," ujar Bambang memberikan klarifikasi, Senin (8/12/2025).

Bambang membenarkan, almarhum Yusuf selama ini bertugas di bagian keuangan RSUD RAT Tanjungpinang. "Orangnya baik," katanya.

Bambang sempat mengisahkan tanda-tanda aneh almarhum Yusuf sebelum meninggal dunia. Pada Jumat (5/12/2025), almarhum sempat bercanda gurau dan minta maaf dengan beberapa teman usai Jumatan. "Dia sempat salaman dengan saya dan bilang, kalau ada salah, saya minta maaf ya pak," ucap Bambang menirukan omongan almarhum.

Bambang menyampaikan untuk masalah ini, pihaknya sedang melakukan investigasi. "Saat ini saya belum bicara banyak, setelah hasil investigasi keluar, saya informasikan lagi," katanya.

Tanggapan Istri Almarhum

Wartawan Tribun Batam.id sempat menemui istri almarhum Yusuf di kediaman mereka, Perumahan Bandara Asri KM 13 Tanjungpinang. Namun istri almarhum belum bersedia diwawancara terkait kematian suaminya. "Maaf saya belum siap diwawancarai bang," kata Kase, Senin (8/12/2025).

Wajah Kase saat itu begitu pucat. Dia kembali menangis saat ditanya soal apa yang dialami sang suami. Gerak geriknya begitu kaku, saat berdiri di ruang tamu rumahnya. Dia tidak lama berdiri di sana dan mengobrol dengan Wartawan Tribun Batam.id yang menghampirinya. Hanya kurang lebih dua menit saja. Kase lalu masuk kembali ke arah dapur rumahnya bersama seorang ibu.

Sosok Almarhum

Seorang keluarga lain, menyebutkan almarhum merupakan sosok pendiam. "Almarhum orangnya tidak banyak bicara dan pendiam. Dia punya seorang anak yang masih kecil," kata pria paruh baya itu.

Hal senada juga disampaikan tetangga almarhum Niko. Ia menyampaikan selama ini dirinya tidak pernah ngobrol langsung dengan almarhum. Sebab dirinya jarang di rumah. Ia menyebut, sepengetahuannya beberapa hari belakangan ini almarhum memang kurang sehat. "Saya dengar dia sudah batuk-batuk. Kadang batuk-batuk sampai pukul 01.00 WIB dini hari," ujar Niko.

Terakhir, Niko mengaku lihat almarhum mengantar anak ke sekolah. Kepergian Yusuf pun membuat Niko kaget. Sebab selama ini dia tidak mengetahui almarhum sedang sakit.

Berdasarkan pantauan Tribun Batam.id, rumah almarhum tampak sepi. Di rumah itu hanya ada empat orang saja, termasuk istri dan anak almarhum. Mereka tampak duduk di ruang tamu. Tidak ada aktivitas berlebihan yang dilakukan di luar rumah. Seorang ibu-ibu sedang membaca surat Yasin. Sementara lainnya hanya duduk di sana.

Di depan rumah, terlihat satu tenda berwarna biru. Beberapa anak bermain di bawah tenda. Tampak dua kursi diletakkan tepat di bawah tenda tersebut. Sementara di jalan gang masuk ke rumah almarhum, terlihat lima papan bunga masih terpasang rapi di sana. Satu dari lima papan bunga itu, dikirim oleh Direktur RSUD Raja Ahmad Tabib Tanjungpinang dan staf.


Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan