
Presiden Prabowo Subianto Kritik Penggunaan Atap Seng pada Hunian Sementara Korban Banjir Bandang Aceh Tamiang
Presiden Joko Widodo kembali menunjukkan sikap tegas dalam menghadapi masalah pemulihan bencana, terutama dalam hal penggunaan atap seng pada hunian sementara (huntara) bagi korban banjir bandang di Kabupaten Aceh Tamiang. Pada kunjungan kerjanya pada Kamis 1 Januari 2026, ia secara langsung meninjau pembangunan huntara yang dianggap tidak layak.
Pada kesempatan tersebut, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan kritik tajam terhadap penggunaan atap seng yang dinilai membuat suhu di dalam hunian menjadi terlalu panas dan tidak nyaman untuk ditinggali. Ia menegaskan bahwa pemulihan pasca bencana harus mempertimbangkan kenyamanan dan martabat warga, bukan hanya sekadar kecepatan dalam pembangunan.
Di hadapan para menteri dan pimpinan BUMN, Presiden Prabowo secara terbuka mempertanyakan standar kenyamanan yang diterapkan dalam pembangunan huntara. Ia menilai bahwa kebijakan yang diambil tidak sepenuhnya manusiawi dan berpotensi meningkatkan penderitaan korban bencana.
“Saya tanya, bagaimana ini seng panas. Coba dipikirkan kalau bisa kita kasih apa solusi,” ujar Presiden Prabowo, sebagaimana dikutip dari siaran YouTube Sekretariat Presiden.
Kritik ini menjadi peringatan keras bagi pelaksana proyek. Menurut Presiden, penggunaan seng tanpa solusi peredam panas dapat menambah beban psikologis warga yang sedang berusaha pulih dari bencana.
Solusi yang Efisien dan Berbasis Lokal
Menariknya, Presiden Prabowo tidak menuntut solusi mahal atau teknologi canggih. Ia justru mendorong penggunaan bahan lokal yang mudah ditemukan dan sesuai dengan kondisi alam serta budaya setempat. Beberapa alternatif yang disarankan antara lain anyaman, ijuk, atau material sederhana lain yang bisa dipasang sebagai lapisan di bawah seng untuk meredam panas.
“Solusinya tidak usah mahal-mahal. Mungkin dari bahan-bahan lokal, anyaman, atau dari ijuk. Tidak perlu bahan mahal, bahan sederhana,” tegasnya.
Pernyataan ini sekaligus menegaskan arah kebijakan Presiden Prabowo yang menekankan efisiensi, kearifan lokal, dan keberpihakan pada rakyat kecil, bahkan dalam detail teknis seperti material atap huntara.
Program Percepatan Pemulihan Pasca Bencana
Sebagai informasi, pembangunan huntara ini merupakan bagian dari program percepatan pemulihan pasca banjir bandang di Sumatera. Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara saat ini membangun sekitar 600 unit hunian sementara di Aceh Tamiang untuk menampung warga terdampak bencana.
Sorotan Presiden Prabowo terhadap atap seng bukan sekadar kritik teknis, melainkan pesan politik dan kemanusiaan: negara hadir bukan hanya cepat, tetapi juga peduli pada kualitas hidup warganya, bahkan di masa darurat.
Langkah-Langkah yang Diambil
Beberapa langkah yang diambil oleh pemerintah untuk memperbaiki kondisi huntara antara lain:
- Pemeriksaan ulang kualitas material yang digunakan dalam pembangunan huntara.
- Evaluasi proses konstruksi untuk memastikan keandalan dan kenyamanan hunian.
- Keterlibatan masyarakat setempat dalam proses pembangunan agar lebih sesuai dengan kebutuhan mereka.
- Penyediaan bantuan tambahan berupa perlengkapan rumah tangga dan fasilitas umum.
Dengan adanya kritik dan rekomendasi dari Presiden Prabowo, diharapkan proses pemulihan bencana dapat lebih manusiawi dan berkelanjutan.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar