Prediksi uang beredar Nataru Desember 2025 capai Rp 5,2239 triliun


nurulamin.pro.CO.ID - JAKARTA.

Prediksi Peningkatan Uang Beredar di Akhir Tahun 2025

Kepala Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Muhammad Rizal Taufikurahman, memberikan prediksi terkait peningkatan uang beredar dalam artian sempit (M1) pada Desember 2025. Menurutnya, kenaikan ini dipengaruhi oleh momentum Natal dan Tahun Baru 2025/2026.

"Hampir pasti terjadi dan sangat mungkin melampaui posisi Desember 2024 sebesar Rp 5.223,9 triliun. Namun, peningkatan ini perlu dibaca secara kritis karena lebih mencerminkan efek musiman Natal dan Tahun Baru daripada penguatan likuiditas ekonomi secara fundamental," ujarnya.

Rizal menjelaskan bahwa lonjakan M1 terutama didorong oleh kebutuhan transaksi konsumsi jangka pendek. Meski demikian, basis daya beli khususnya dari kalangan menengah masih menghadapi tekanan.

Selain itu, perputaran uang selama Nataru 2025/2026 juga diperkirakan akan menembus angka Rp 100 triliun. Namun, pertumbuhannya cenderung moderat dan bersifat sementara.

Faktor utamanya adalah pola konsumsi yang lebih banyak berupa percepatan belanja, bukan ekspansi permintaan baru yang berkelanjutan. Akibatnya, dampak ekonomi relatif terbatas dan terkonsentrasi pada sektor konsumsi, transportasi, dan pariwisata, tanpa mendorong sektor produktif secara signifikan.

Dari sisi pendorong, faktor musiman masih dominan, sementara peran kredit produktif dan investasi masih melemah.

"Likuiditas yang dijaga oleh Bank Indonesia menjaga kelancaran transaksi, tetapi belum cukup kuat untuk mendorong pemulihan struktural. Karena itu, kenaikan M1 akhir tahun lebih tepat dibaca sebagai denyut siklikal ekonomi, bukan sinyal perbaikan fundamental yang berkelanjutan," tambah Rizal.

Beberapa hal yang menjadi perhatian dalam prediksi ini antara lain:

  • Efek Musiman yang Dominan
    Peningkatan M1 tidak terlepas dari tradisi belanja yang meningkat saat momen Natal dan Tahun Baru. Kebiasaan ini biasanya memicu lonjakan transaksi konsumsi jangka pendek, sehingga memengaruhi jumlah uang beredar.

  • Daya Beli yang Masih Tertekan
    Meskipun ada peningkatan uang beredar, daya beli masyarakat, khususnya dari kalangan menengah, masih menghadapi tekanan. Hal ini menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak sepenuhnya didorong oleh peningkatan kemampuan pembelian secara keseluruhan.

  • Perputaran Uang yang Sementara
    Perputaran uang selama Nataru diperkirakan mencapai angka yang tinggi, namun pertumbuhannya bersifat temporer. Ini berarti dampak ekonomi tidak akan bertahan lama dan tidak mampu mendorong pertumbuhan berkelanjutan.

  • Pengaruh Sektor Konsumsi
    Sebagian besar dampak ekonomi dari peningkatan M1 terfokus pada sektor konsumsi, transportasi, dan pariwisata. Namun, sektor produktif seperti industri dan pertanian belum mendapatkan dorongan signifikan.

  • Peran Kredit dan Investasi yang Masih Lemah
    Meski Bank Indonesia menjaga likuiditas agar transaksi lancar, peran kredit produktif dan investasi masih lemah. Ini menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak sepenuhnya didorong oleh modal dan investasi yang berkelanjutan.

Dengan demikian, kenaikan M1 di akhir tahun 2025 lebih merupakan indikasi siklus ekonomi, bukan tanda perbaikan fundamental yang berkelanjutan. Untuk itu, diperlukan langkah-langkah strategis agar pertumbuhan ekonomi bisa lebih berkelanjutan dan tidak hanya bergantung pada faktor musiman.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan