Premi Asuransi Jiwa Menurun, Perubahan Prioritas Nasabah Terlihat Jelas


Peningkatan jumlah polis dan tertanggung di industri asuransi jiwa tidak sepenuhnya berdampak positif pada pendapatan premi. Hal ini disebabkan oleh penurunan signifikan dalam premi tunggal, yang selama ini menjadi kontributor utama bagi pendapatan sektor tersebut.

Menurut pengamat asuransi Irvan Rahardjo, penurunan premi tunggal dipengaruhi oleh melemahnya daya beli masyarakat. Kondisi ini terjadi karena kelesuan ekonomi yang berlangsung cukup lama, sehingga masyarakat lebih memprioritaskan kebutuhan pokok seperti sandang, pangan, dan kesehatan.

Irvan menilai bahwa tren ini akan berdampak pada jenis produk asuransi jiwa yang sebelumnya dominan. "Produk dengan pembayaran premi berkala akan menjadi penopang utama industri ke depan," ujarnya. Kanal keagenan dan bancassurance dinilai memiliki peran besar dalam mendorong penjualan produk-produk tersebut.

Sebelumnya, Ketua Dewan Pengurus Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI), Budi Tampubolon, menyatakan bahwa pertumbuhan jumlah polis dan tertanggung belum sepenuhnya mencerminkan lonjakan premi. Penyebab utamanya adalah penurunan signifikan pada premi tunggal. "Ada satu jenis produk yang pendapatan preminya turun cukup signifikan padahal mereka sekali dipasarkan preminya cukup besar. Ini adalah premi tunggal. Polis-polis yang pembayaran preminya itu sekali bayar dan selesai," jelas Budi dalam konferensi pers AAJI.

Berikut data terkini mengenai perkembangan industri asuransi jiwa:

Pertumbuhan Jumlah Tertanggung

Total tertanggung industri asuransi jiwa mencapai 151,56 juta orang, tumbuh 12,8% secara tahunan. Pertumbuhan ini tercatat baik pada segmen perorangan maupun kumpulan.

  • Tertanggung perorangan: Bertambah menjadi 22,32 juta orang, tumbuh 16,9% yoy.
  • Tertanggung kumpulan: Mencapai 129,25 juta orang, tumbuh 12,1% yoy.

Perkembangan Premi

Premi bisnis baru turun 6,7% yoy menjadi Rp 72,92 triliun. Penurunan ini terutama berasal dari bisnis baru premi tunggal yang menyusut 9,9% yoy menjadi Rp 50,18 triliun.

Sementara itu, premi bisnis baru reguler justru tumbuh 1,2% yoy menjadi Rp 22,74 triliun. Premi lanjutan (renewal) masih tumbuh solid sebesar 6,5% yoy menjadi Rp 60,30 triliun.

Kontribusi Jenis Produk

Asuransi jiwa tradisional masih mendominasi dengan kontribusi 63% dari total premi atau senilai Rp 83,98 triliun, tumbuh 7% yoy. Sementara itu, premi unit link tercatat Rp 49,24 triliun, turun 12,5% yoy.

Kontribusi Sistem Usaha

Premi asuransi jiwa konvensional mencapai Rp 116,17 triliun atau sekitar 87,2% dari total premi, meski turun tipis 1,7% yoy. Sementara premi asuransi jiwa syariah tumbuh 2,6% yoy menjadi Rp 17,05 triliun.

Kontribusi Kanal Distribusi

Bancassurance masih mendominasi dengan kontribusi 41,5% atau sebesar Rp 55,28 triliun, diikuti kanal keagenan sebesar 31,7% atau Rp 42,25 triliun, serta distribusi alternatif sebesar 26,8% atau Rp 35,69 triliun.

Dengan kondisi saat ini, industri asuransi jiwa harus mulai beradaptasi dengan perubahan preferensi masyarakat. Fokus pada produk dengan premi berkala dan pemanfaatan saluran distribusi yang efektif akan menjadi kunci untuk menjaga pertumbuhan sektor ini di masa depan.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan