
Pendapatan premi asuransi komersial di Indonesia mencatatkan pertumbuhan sebesar 0,42% secara tahunan (YoY) hingga Oktober 2025, dengan total pendapatan mencapai Rp 272,78 triliun. Angka ini menunjukkan kinerja yang stabil meskipun tidak terlalu signifikan.
Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Ogi Prastomiyono menjelaskan bahwa capaian tersebut merupakan hasil akumulasi dari pendapatan premi asuransi jiwa serta asuransi umum dan reasuransi.
Secara rinci, pendapatan premi asuransi jiwa pada Oktober 2025 tercatat sebesar Rp 148,86 triliun. Meski demikian, angka ini mengalami kontraksi sebesar 1,11% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, pendapatan premi asuransi umum dan reasuransi justru tumbuh menjadi Rp 123,92 triliun, meningkat sebesar 2,33% YoY.
Ogi juga menyampaikan bahwa permodalan industri asuransi komersial tetap dalam kondisi kuat. Hal ini ditunjukkan melalui tingkat Risk Based Capital (RBC) yang mencerminkan kesehatan keuangan perusahaan asuransi. Untuk asuransi jiwa, RBC tercatat sebesar 478,85%, sedangkan untuk asuransi umum dan reasuransi berada di angka 331,96%.
Angka RBC ini masih jauh di atas threshold sebesar 120%, ujar Ogi dalam paparannya di acara RDKB OJK, Kamis (11/12/2025).
Selain itu, posisi total aset program perasuransian juga mengalami peningkatan. Hingga Oktober 2025, total aset tercatat sebesar Rp 1.192,11 triliun, naik dari Rp 1.181,21 triliun pada September 2025.
Untuk aset asuransi komersial sendiri, nilai tercatat sebesar Rp 970,98 triliun pada Oktober 2025, meningkat dibandingkan periode sebelumnya yaitu Rp 958,54 triliun pada September 2025.
Kondisi Industri Asuransi Komersial
Industri asuransi komersial di Indonesia menunjukkan kinerja yang cukup stabil, meskipun ada perbedaan antara sektor asuransi jiwa dan asuransi umum.
-
Asuransi Jiwa:
Pendapatan premi asuransi jiwa mengalami kontraksi sebesar 1,11% YoY. Hal ini bisa disebabkan oleh beberapa faktor, seperti penurunan minat masyarakat terhadap produk asuransi jiwa atau adanya perubahan regulasi yang memengaruhi pemasaran. Namun, meski mengalami penurunan, jumlah pendapatan premi tetap signifikan, yaitu sebesar Rp 148,86 triliun. -
Asuransi Umum dan Reasuransi:
Sebaliknya, sektor asuransi umum dan reasuransi menunjukkan pertumbuhan positif sebesar 2,33% YoY. Ini menunjukkan bahwa permintaan terhadap produk asuransi umum semakin meningkat, baik dari sisi individu maupun perusahaan.
Kesehatan Keuangan Industri Asuransi
Salah satu indikator penting dalam menilai kesehatan keuangan industri asuransi adalah tingkat Risk Based Capital (RBC).
-
Asuransi Jiwa:
RBC mencapai 478,85%, jauh di atas ambang batas minimum sebesar 120%. Tingkat ini menunjukkan bahwa industri asuransi jiwa memiliki modal yang sangat kuat untuk menanggung risiko dan menjalankan operasional secara efektif. -
Asuransi Umum dan Reasuransi:
RBC sebesar 331,96% juga menunjukkan bahwa industri ini dalam kondisi sehat. Dengan angka yang jauh di atas ambang batas minimal, perusahaan asuransi umum dan reasuransi memiliki kemampuan yang cukup besar untuk menghadapi tantangan pasar.
Pertumbuhan Aset Perusahaan Asuransi
Selain pendapatan premi dan RBC, pertumbuhan aset juga menjadi indikator penting dalam mengevaluasi kinerja industri asuransi.
- Total aset program perasuransian meningkat dari Rp 1.181,21 triliun pada September 2025 menjadi Rp 1.192,11 triliun pada Oktober 2025.
- Aset asuransi komersial juga mengalami peningkatan, dari Rp 958,54 triliun pada September 2025 menjadi Rp 970,98 triliun pada Oktober 2025.
Peningkatan ini menunjukkan bahwa perusahaan asuransi mampu mengelola aset secara efisien dan menempatkan dana dengan optimal.
Kesimpulan
Secara keseluruhan, industri asuransi komersial di Indonesia menunjukkan kinerja yang stabil. Meskipun ada penurunan pada sektor asuransi jiwa, sektor asuransi umum dan reasuransi tumbuh positif. Selain itu, kesehatan keuangan industri ini tetap dalam kondisi yang baik, dengan RBC yang jauh di atas ambang batas minimum. Pertumbuhan aset juga menunjukkan bahwa perusahaan asuransi mampu mengelola dana secara efektif.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar