Presiden Korsel Dijemput Xi Jinping, Apa Tujuannya?

Kunjungan Presiden Korsel ke China untuk Memperkuat Hubungan Bilateral

Presiden Korea Selatan (Korsel), Lee Jae Myung, akan melakukan kunjungan resmi ke China atas undangan Presiden Xi Jinping. Rencananya, kunjungan ini akan berlangsung selama empat hari, dengan fokus utama pada pembicaraan bilateral antara kedua pemimpin negara. Dalam pernyataannya, juru bicara kantor kepresidenan Korsel, Kang Yu-jung, mengungkapkan bahwa Lee akan tiba di Beijing pada tanggal 4 Januari dan akan bertemu dengan Xi Jinping dalam pertemuan puncak serta jamuan makan malam kenegaraan. Setelahnya, ia akan melanjutkan perjalanan ke Shanghai pada 6-7 Januari.

Kunjungan ini menjadi kelanjutan dari pertemuan puncak pertama antara Lee dan Xi yang berlangsung pada 1 November 2025 di Gyeongju, Provinsi Gyeongsang Utara, dalam rangka Konferensi Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC). Pertemuan tersebut juga menandai kunjungan kenegaraan pertama Xi ke Korsel dalam 11 tahun terakhir.

Membahas Kerja Sama Keamanan dan Stabilitas di Asia Timur Laut

Dalam kunjungan ini, Presiden Lee dan Xi akan membahas sejumlah isu penting, termasuk kerja sama keamanan untuk menjaga stabilitas di kawasan Asia Timur Laut. Kang Yu-jung menyebutkan bahwa pertemuan ini bertujuan memperkuat momentum untuk memulihkan kemitraan kerja sama strategis yang telah dibentuk sejak 2008. Diharapkan, para pemimpin akan membahas upaya untuk menghidupkan kembali pertukaran bilateral dalam berbagai bidang seperti kerja sama rantai pasokan, investasi, ekonomi digital, dan kerja sama lingkungan.

Selain itu, kedua negara juga akan membahas langkah-langkah untuk memerangi kejahatan transnasional yang semakin menyebar ke Asia Timur. Pada kesempatan ini, Presiden Lee akan bertemu dengan warga Korea di luar negeri yang tinggal di China, serta tokoh-tokoh penting di negara tersebut.

Menghormati Warisan Pejuang Kemerdekaan Korea di Shanghai

Di Shanghai, Lee akan singgah untuk menghormati warisan para pejuang kemerdekaan Korea. Kota ini merupakan tempat di mana pemerintahan sementara Korea dibentuk untuk melawan penjajahan Jepang pada periode 1910-1945. Tahun 2026 akan menjadi peringatan 150 tahun kelahiran Kim Koo, mantan perdana menteri pemerintahan sementara tersebut.

Dalam perjalanannya ke China, Lee akan ditemani oleh para pemimpin bisnis dari Korsel. Namun, hingga saat ini, kantor kepresidenan belum mengungkapkan nama-nama perusahaan atau individu yang ikut dalam rombongan.

Membahas Isu Pencabutan Larangan Konten Budaya Korea di China

Perhatian juga tertuju pada apakah pertemuan Lee dan Xi akan menjadi awal dari pelonggaran pembatasan Beijing terhadap peredaran konten budaya Korea di China. Sebelumnya, Beijing memberlakukan pembatasan tersebut karena perselisihan antara kedua negara terkait penempatan sistem 'Terminal High Altitude Area Defense' Amerika Serikat (AS) di Korsel pada 2016.

Meski demikian, Kang Yu-jung menyatakan bahwa beberapa hal masih dalam tahap koordinasi antara kedua negara. Ia tidak dapat memberikan detail lebih lanjut mengenai agenda pastinya. Namun, diskusi juga akan mencakup perluasan peluang kerja sama ekonomi dan membahas perkembangan regional dalam kerangka hubungan kerja sama yang saling menguntungkan.

Isu Korut dan Denuklirisasi sebagai Agenda Utama

Meskipun agenda spesifik belum sepenuhnya dirilis, media lokal seperti The Chosun Daily melaporkan bahwa isu Korea Utara (Korut) kemungkinan besar akan menjadi bagian dari pembicaraan. Presiden AS Donald Trump dijadwalkan mengunjungi China pada April 2026. Seoul berharap kunjungan ini bisa menjadi kesempatan bagi Lee untuk bertemu dengan pemimpin Korut, Kim Jong Un, guna menciptakan momentum dialog antar-Korea tentang rencana perdamaian di Semenanjung Korea.

Namun, diskusi antara Seoul dan Beijing mengenai isu-isu tersebut diperkirakan akan berlangsung secara tertutup. Hal ini dikarenakan Kim Jong Un telah menolak negosiasi denuklirisasi dan dialog antar-Korea.

Perkuatan Kerja Sama RI dan Korsel di Tengah Ketegangan Geopolitik

Seiring dengan ketegangan geopolitik di Asia Timur, hubungan antara Indonesia dan Korsel semakin dipertegas melalui berbagai inisiatif bersama. Salah satunya adalah kerja sama dalam konferensi APEC yang bertujuan menghadapi ancaman perang dagang. Selain itu, Korsel juga berkomitmen untuk mengakhiri skema adopsi anak luar negeri pada 2029, sebagai bagian dari upaya memperbaiki kebijakan sosial yang lebih inklusif.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan