Presiden Venezuela Ditangkap Pasukan Elit AS, Akan Dihukum di Amerika

Penangkapan Presiden Venezuela oleh Aparat AS

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan bahwa operasi penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro dilakukan dalam kerja sama dengan aparat penegak hukum Amerika Serikat. Pengumuman ini akan disampaikan lebih lanjut dalam konferensi pers yang akan diadakan pada pukul 11.00 pagi waktu setempat (23.00 WIB) di resor pribadi Trump, Mar-a-Lago, Florida.

Menurut pejabat AS, Maduro ditangkap oleh satuan pasukan khusus elite. Senator Partai Republik Mike Lee menyampaikan informasi bahwa Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio memberitahunya bahwa Maduro akan diadili atas tuduhan kriminal di Amerika Serikat. Lee menulis dalam unggahannya di platform X bahwa Rubio memperkirakan tidak ada tindakan lebih lanjut di Venezuela sekarang setelah Maduro dalam tahanan AS.

Alasan Penangkapan Maduro

Berdasarkan klaim Trump, operasi militer di Venezuela berlangsung singkat tetapi intens, dengan target utama penangkapan Maduro. Sebelum serangan, Washington menuduh Maduro memimpin "negara narkoba" dan memanipulasi hasil pemilihan presiden 2024. Oposisi Venezuela mengklaim bahwa mereka memenangi pemilihan tersebut secara telak, tetapi pembatalan oleh pemerintahan Maduro membuat situasi menjadi rumit.

Maduro, mantan sopir bus berusia 63 tahun yang ditunjuk langsung oleh Hugo Chavez sebelum wafat pada 2013, membantah tuduhan tersebut. Ia menyebut tudingan AS sebagai dalih untuk menguasai cadangan minyak Venezuela, salah satu yang terbesar di dunia. Trump juga menuding Venezuela menjadi jalur transit utama kokain serta berkontribusi terhadap krisis fentanil yang melanda AS.

Tindakan Washington terhadap Kelompok Kriminal

Dalam konteks itu, Washington menetapkan dua kelompok kriminal asal Venezuela, yakni Tren de Aragua dan Cartel de los Soles, sebagai Organisasi Teroris Asing. Trump bahkan menuduh Cartel de los Soles dipimpin langsung oleh Maduro. Pemerintah Venezuela menilai tudingan tersebut sebagai upaya mempolitisasi perang melawan narkoba demi menggulingkan pemerintahan Caracas.

Intervensi Pertama AS di Amerika Latin sejak 1989

Serangan ke Venezuela menjadi intervensi langsung pertama AS di kawasan Amerika Latin sejak invasi ke Panama pada 1989. Saat itu, invasi Amerika bertujuan menggulingkan pemimpin militer Manuel Noriega yang juga dituduh terlibat perdagangan narkoba.

Pemerintah Venezuela menyatakan bahwa serangan pada Sabtu dini hari menimbulkan korban jiwa dari kalangan sipil maupun militer, meskipun jumlah pastinya belum diketahui. Menteri Pertahanan Venezuela Vladimir Padrino mengecam keras operasi militer tersebut. Dalam pernyataan video yang disiarkan melalui stasiun tv pemerintah, ia menyatakan:

“Venezuela yang bebas, merdeka, dan berdaulat menolak dengan segenap kekuatan sejarah kebebasannya kehadiran pasukan asing ini, yang hanya menyisakan kematian, penderitaan, dan kehancuran.”

Ia menambahkan: “Hari ini kita mengepalkan tinju untuk membela apa yang menjadi milik kita. Mari kita bersatu karena dalam persatuan rakyat kita akan menemukan kekuatan untuk melawan dan menang.”

Respons dari Menteri Dalam Negeri Venezuela

Sementara itu, Menteri Dalam Negeri Diosdado Cabello tampil di siaran televisi nasional dengan mengenakan helm dan rompi antipeluru. Ia turun langsung ke jalanan dan mengimbau masyarakat agar tidak bekerja sama dengan musuh. Tindakan ini menunjukkan komitmen pemerintah Venezuela untuk menjaga kedaulatan negara dan melawan ancaman yang dianggap sebagai intervensi asing.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan