
Perjalanan PRMN: Dari Awal Hingga Masa Depan yang Dinamis
Pikiran Rakyat Media Network (PRMN) telah berusia enam tahun sejak 2 Desember 2019. Sebagai media daring berjejaring pertama di Indonesia yang mengusung konsep ekonomi kolaboratif, PRMN tidak hanya menempuh perjalanan panjang dalam dunia media digital, tetapi juga menghadapi tantangan besar dalam menjaga kredibilitas dan adaptasi terhadap perubahan teknologi.
Perkembangan media daring di Indonesia terus berkembang pesat. Setiap hari, platform baru muncul dengan algoritma dan kecepatan yang tak terbayangkan. Di tengah dinamika ini, PRMN terus bertahan dan berkembang sebagai salah satu media nasional yang memiliki pengakuan luas.
AI sebagai Alat Bantu, Bukan Pengganti
Di usia yang semakin matang, PRMN menargetkan dirinya untuk menjadi tolak ukur pemberitaan secara nasional. Tia Yuniarti, Direktur PT Pikiran Rakyat Bandung, menyampaikan harapan bahwa PRMN akan tetap kredibel dan adaptif. Ia menekankan bahwa AI bukan pengganti, melainkan alat bantu yang dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas berita.
AI bisa digunakan untuk membantu tim redaksi menyelesaikan pekerjaan yang bersifat monoton dan memerlukan otomatisasi. Namun, ia menekankan bahwa AI harus digunakan dengan hati-hati agar tidak mengurangi kualitas berita orisinal yang diperoleh dari lapangan.
Dengan bantuan AI, berita yang dihasilkan diharapkan lebih relevan, lebih mendalam, dan memberikan nilai tambah yang nyata bagi pembaca. Selain itu, AI juga digunakan untuk meningkatkan pengalaman pengguna melalui penyajian konten yang terpersonalisasi sesuai dengan segmen audiens yang dituju.
Kredibilitas dan Konvergensi: Aset Utama Media
Di sisi lain, Direktur PRMN, Kartono Sarkim, melihat usia enam tahun ini sebagai momentum untuk memperkuat posisi PRMN di tengah era konvergensi media yang dinamis. Menurutnya, kepercayaan (trust) adalah aset paling berharga dalam dunia media saat ini.
Kartono menekankan bahwa seluruh ekosistem PRMN perlu menyiapkan diri dengan dua hal fundamental: kemampuan memanfaatkan peluang dan tata kelola yang menjaga kualitas serta kepercayaan. Salah satu peluang besar di depan adalah konvergensi kanal yang semakin terpadu.
Pembaca hari ini tidak lagi fokus pada satu media. Mereka mencari pengalaman multikanal. PRMN berupaya menghadirkan pengalaman multikanal yang konsisten dan personalisasi melalui integrasi online, cetak, video, podcast, dan live streaming.
Pemanfaatan data insight akan menjadi kunci. Data akan memungkinkan rekomendasi berita yang lebih relevan bagi pembaca. Namun, Kartono mengingatkan bahwa semua ini harus dilakukan tanpa mengurangi independensi editorial yang merupakan marwah jurnalisme.
Penguatan Komunitas dan Bisnis yang Sehat
Selain adaptasi teknologi AI yang membantu otomatisasi tugas rutin dan pendampingan redaksi, aspek keterlibatan komunitas (community engagement) juga menjadi fokus utama PRMN. Model Citizen Journalism dan kemitraan strategis dengan berbagai pihak, mulai dari NGO, akademisi, hingga pelaku industri, dinilai mampu memperkaya konten.
Model ini sangat penting, khususnya untuk konten lokal yang berdampak langsung kepada audiens. Di aspek bisnis, tantangannya adalah diversifikasi pendapatan yang sehat. Ini bukan lagi masa mengandalkan satu sumber. Monetisasi dapat dicapai melalui langganan premium, konten eksklusif, kolaborasi merek yang transparan, serta produk berlangganan lintas platform.
Tantangan di Masa Depan
Meskipun peluang terbuka lebar, Kartono mengingatkan bahwa tantangan di masa depan tidak ringan. Disinformasi dan kesenjangan kepercayaan (trust gap) akan tetap menjadi musuh utama. Arus informasi yang besar memerlukan verifikasi sumber yang lebih ketat, transparansi proses, serta edukasi literasi media bagi publik.
Selain itu, dinamika kebijakan publik dan regulasi, seperti Publisher Rights, isu privasi, dan aturan platform digital, menuntut adaptasi operasional yang cepat. Menutup pesannya, Kartono menekankan perlunya pembiayaan jurnalisme yang berkualitas. Hal ini menuntut PRMN untuk pandai menjaga keseimbangan antara konten berbayar dan akses publik.
Namun yang paling penting, tanpa mengorbankan idealisme dan misi kita sebagai media independen.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar