
MATA BANDUNG - Di balik reputasinya sebagai pelatih kelas dunia, John Herdman datang ke Indonesia bukan hanya membawa strategi dan pengalaman Piala Dunia, tetapi juga nilai-nilai keluarga yang selama ini menjadi fondasi perjalanan kariernya.
Pelatih kelahiran Inggris berusia 50 tahun itu dikenal luas sebagai sosok family man. Dalam berbagai wawancara internasional, Herdman kerap menyebut peran sang istri dan anak-anaknya sebagai “jangkar emosional” di tengah tekanan sepak bola level elite.
Ia bahkan beberapa kali mengungkap bahwa keputusan besar dalam kariernya selalu dibicarakan bersama keluarga. Herdman dan istrinya, Claire (teman main masa kecilnya), dikaruniai dua anak perempuan (Lily) dan anak lelaki (Jay - kini sebagai pemain sepakbola profesional di Cavalry FC dan pemain Timnas U-23 Selandia Baru).
Bukan keputusan sepihak
Penunjukan Herdman sebagai pelatih tim nasional Indonesia oleh PSSI pun diyakini bukan keputusan sepihak. Proyek jangka panjang yang ditawarkan federasi—mulai dari tim senior hingga U-23—menjadi faktor penting yang selaras dengan prinsip hidup Herdman: membangun, bukan sekadar mengejar hasil instan.
Ketua Umum PSSI Erick Thohir menyebut bahwa dukungan Presiden Prabowo Subianto membuka ruang bagi pendekatan baru dalam membangun sepak bola nasional. Pendekatan ini dinilai cocok dengan karakter Herdman yang selama ini dikenal piawai membangun kultur tim, bukan hanya meracik taktik.
Dalam perjalanan kariernya, Herdman kerap melibatkan keluarga dalam proses adaptasi di negara baru. Saat menangani Kanada, ia memindahkan keluarganya dan menanamkan nilai “akar yang kuat” di lingkungan baru—sebuah filosofi yang juga ia terapkan pada pemain muda. Baginya, pemain bukan sekadar atlet, melainkan individu yang perlu merasa aman, dipercaya, dan dihargai.
Sebagai mentor, bukan hanya pelatih
Pendekatan itulah yang membuat Herdman sukses membawa Kanada—baik tim putra maupun putri—menembus Piala Dunia. Ia dikenal dekat dengan pemain, memahami latar belakang personal mereka, dan membangun ruang ganti yang solid. Banyak mantan anak asuhnya menyebut Herdman sebagai figur mentor, bukan sekadar pelatih.
Kini, nilai-nilai itu diharapkan bisa menular ke skuad Garuda. Dengan mandat menangani timnas senior dan U-23, Herdman diproyeksikan menjadi “arsitek keluarga besar sepak bola Indonesia”, menyatukan visi lintas generasi dari level usia muda hingga tim utama.
Tahun 2026 akan menjadi fase awal adaptasi bagi Herdman dan keluarganya di Indonesia, seiring padatnya agenda timnas mulai dari FIFA Series, agenda FIFA Match Day, hingga Piala AFF 2026. Di level U-23, Asian Games Aichi–Nagoya juga menanti.
Lebih dari sekadar pelatih berlisensi elite, John Herdman datang membawa cerita tentang keseimbangan antara keluarga, kepemimpinan, dan mimpi besar. Dan bagi Indonesia, kisah itu mungkin menjadi fondasi penting dalam perjalanan panjang menuju panggung sepak bola dunia.***
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar