Program Magang Klinis di Universiti Kebangsaan Malaysia: Pengalaman Berharga dan Tak Terlupakan

Pengalaman Menarik dalam Program Pertukaran Pelajar di Malaysia

Nama saya Naila, seorang mahasiswi kedokteran di Universitas Airlangga. Bulan Oktober dan November kemarin, saya bersama beberapa teman berkesempatan untuk mengikuti pertukaran pelajar (student exchange) dalam program clinical elective posting, yaitu kegiatan yang memberikan kesempatan untuk belajar dan melihat praktik klinis secara langsung. Kegiatan ini berlangsung selama 4 minggu dari tanggal 27 Oktober hingga 21 November 2025. Dalam kegiatan ini, kami dapat memilih 2 departemen yang kami minati dari beberapa departemen yang ada, seperti pediatri, anestesiologi, psikiatri, bedah, obstetri-ginekologi, kedokteran emergensi, dan sebagainya. Saya sendiri memilih departemen pediatri dan departemen anestesiologi. Kami akan berada pada 2 departemen yang dipilih selama masing-masing 2 minggu.

Pengalaman Dua Minggu Pertama: Menelusuri Dunia Pediatri di Negeri Jiran

Ketertarikan saya pada bidang pediatri membuat saya memilih departemen ini. Saya ingin mengetahui lebih lanjut sistem kesehatan, khususnya bidang pediatri, di Malaysia. Selama dua minggu di departemen ini, saya berkesempatan untuk melakukan observasi terhadap dokter-dokter pediatri yang sedang praktik, baik saat sesi klinik maupun saat melakukan pemantauan pasien yang dirawat inap.

Setiap pagi, saya mengikuti kegiatan morning rounds yang dilakukan oleh para dokter pediatri. Dalam kegiatan ini, para dokter berkeliling ruang rawat inap untuk melakukan observasi dan pemantauan terhadap para pasien. Para dokter akan bertanya keadaan pasien kepada pendampingnya, melakukan pemeriksaan fisik, seperti mendengarkan suara paru dan jantung pasien dengan stetoskop, melakukan palpasi—pemeriksaan fisik yang dilakukan dengan menyentuh tubuh pasien untuk menilai ukuran, konsistensi, serta nyeri tekan—pada paru (untuk kasus masalah respirasi, seperti pneumonia) dan perut (untuk beberapa kasus, seperti pembengkakan perut), serta pemeriksaan refleks jika diperlukan, salah satunya pada pasien kasus neurologi, yaitu kasus yang berkaitan dengan saraf-saraf manusia.

Sesi lain yang saya amati dalam kegiatan ini adalah kegiatan di poliklinik. Dalam kegiatan ini, para dokter akan menempati ruangan masing-masing dan melakukan pemeriksaan pada setiap pasien. Mereka memeriksa setiap pasien dengan amat sangat teliti dan yang saya perhatikan, setiap pasien bisa menghabiskan waktu selama lebih dari 30 menit. Dimulai dari melakukan anamnesis (wawancara medis antara dokter dan pasien) dengan pertanyaan yang sangat rinci, serta pemeriksaan fisik, seperti pemeriksaan refleks karena mayoritas pasien datang karena kasus neurologi. Saat mengikuti kegiatan poliklinik ini, saya mendapatkan pembelajaran yang berharga dalam menangani beberapa kasus yang ada, seperti kasus epilepsi, spina bifida, serta kasus kelainan genetik, seperti Duchene Muscular Disrophy (DMD).

Pengalaman Dua Minggu Kedua: Kenangan Tak Terlupakan di Departemen Anestesiologi

Departemen kedua yang saya pilih dalam program ini adalah departemen anestesiologi. Sama seperti departemen sebelumnya, kegiatan saya dalam departemen anestesiologi berlangsung selama dua minggu. Pada minggu pertama, saya ditempatkan di area operation theatre untuk mengamati berbagai kasus pembedahan, khususnya dalam proses anestesinya. Kasus-kasus pembedahan yang saya amati, seperti tonsillectomy, thyroidectomy, orthopedic surgery, laparoscopic surgery, dan juga coronary artery bypass graft (CABG). Seluruh kasus tersebut menggunakan anestesi berupa general anesthesia, yaitu prosedur medis untuk pembedahan agar pasien tidak sadar, tidak merasakan sakit, dan tidak mengingat kejadian selama operasi.

Tugas seorang dokter anestesi tidak berhenti saat pasien sudah selesai dilakukan pembiusan, mereka tetap melakukan pemantauan terhadap kondisi pasien, seperti pemantauan terhadap laju napas, tekanan darah, nadi, dan kondisi lainnya. Setelah operasi selesai, dokter anestesi juga harus memastikan pasien bangun kembali dan tetap memantau tanda-tanda vital pasien.

Minggu kedua di departemen anestesiologi, saya dijadwalkan untuk melakukan observasi pada proses persalinan caesar, acute pain service (APS) pada pasien postoperatif, ICU rounds, dan juga electroconvulsive therapy (ECT). Pada proses persalinan caesar, dokter anestesi bukan menggunakan jenis general anesthesia, melainkan regional anesthesia, berupa spinal atau epidural anesthesia. Perbedaan spinal atau epidural anesthesia dengan general anesthesia adalah pada spinal atau epidural anesthesia pasien masih dalam kondisi sadar, tetapi pasien tidak merasakan sakit pada bagian yang dilakukan anestesi, yaitu dari bagian pinggang ke ekstremitas bawah.

Dalam kegiatan APS, pada dokter anestesi akan melakukan pemantauan terhadap rasa nyeri yang dirasakan oleh pasien setelah dilakukan tindakan operasi. Dalam kegiatan ICU rounds, saya melakukan observasi terhadap dokter-dokter yang sedang melakukan pemantauan terhadap pasien di ICU dan untuk kegiatan ECT, saya melihat prosedur yang digunakan dalam terapi psikiatri dengan menggunakan arus listrik kecil ke otak.

Kesimpulan

Selama empat minggu berada di Universiti Kebangsaan Malaysia, khususnya departemen pediatri dan anestesiologi, merupakan pengalaman berharga dan tak terlupakan dalam hidup saya. Saya bersyukur mendapatkan kesempatan untuk mengikuti kegiatan ini. Semoga pengalaman yang saya tuangkan dalam tulisan ini dapat memberikan manfaat dan memotivasi para pembaca. Saya juga ingin berterima kasih kepada seluruh pihak yang terlibat, baik para dokter dan staf dari Universiti Kebangsaan Malaysia, maupun dokter-dokter dan staf dari Universitas Airlangga, serta keluarga dan teman-teman yang suportif, yang telah membantu dan mendukung saya dalam kegiatan ini mulai dari persiapan, pelaksanaan, hingga saya telah menyelesaikan program ini.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan