Program Weaving for Life: Melestarikan Tenun Tradisional dan Membangun Perdagangan yang Adil
Program Weaving for Life, yang diinisiasi oleh dua komunitas asal Bantul yaitu Lawe dan Teras Mitra, bertujuan untuk melestarikan tenun tradisional sekaligus mewujudkan perdagangan yang adil bagi para penenun. Inisiatif ini menawarkan solusi berkelanjutan terhadap tantangan yang dihadapi oleh pengrajin tenun, termasuk regenerasi generasi muda dan keterbatasan akses pasar.
Mengatasi Masalah Regenerasi dengan Sekolah Tenun Kampung
Salah satu isu utama dalam industri tenun adalah regenerasi. Untuk mengatasi hal ini, Lawe dan Teras Mitra menciptakan Sekolah Tenun Kampung (STK) di lima desa di Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur. Desa-desa tersebut antara lain Tokbesi, Sainiup, Tunbaen, Pantae, dan Papin.
Di STK, anak-anak belajar menenun mulai dari tingkat dasar hingga mahir. Proses pembelajaran mencakup teknik memintal benang, menggulung benang, hingga menghasilkan kain. Kegiatan ini tidak hanya menjadi sarana transfer pengetahuan tetapi juga upaya untuk menghapus stereotip gender. Sebab, STK terbuka bagi semua anak, baik laki-laki maupun perempuan, sehingga menumbuhkan kesadaran bahwa menenun bukanlah aktivitas eksklusif bagi perempuan.

Pemberdayaan Ekonomi Melalui Pelatihan Teknis dan Manajemen Harga
Selain fokus pada pendidikan, program Weaving for Life juga memberikan pemberdayaan ekonomi kepada para penenun. Salah satu cara yang dilakukan adalah melalui pelatihan teknis seperti penggunaan pewarna alam, pengembangan motif, serta diversifikasi produk. Tujuannya adalah agar kain-kain tradisional dapat diubah menjadi produk merchandising yang lebih wearable, seperti tas, pakaian, dan aksesori lainnya. Dengan demikian, hasil produksi mereka bisa lebih mudah diterima oleh pasar modern.

Selain itu, para penenun juga diajarkan bagaimana menghitung biaya produksi (costing) dan menentukan harga jual (pricing) yang layak. Hal ini sangat penting karena banyak penenun yang belum memahami nilai sebenarnya dari hasil kerja mereka. Dengan pengetahuan ini, mereka dapat menjual produk dengan harga yang lebih adil dan menguntungkan.
Misi Mewujudkan Perdagangan yang Lebih Adil
Misi utama dari program Weaving for Life adalah mewujudkan perdagangan yang lebih adil bagi para penenun. Fitria, yang telah belasan tahun berkontribusi dalam pelestarian tenun bersama Lawe Indonesia, menjelaskan bahwa banyak penenun di wilayah Timur Indonesia memiliki keterbatasan akses ke pasar modern. Akibatnya, mereka seringkali menjual kain tenun kepada tengkulak dengan harga yang rendah.
“Kain tenun seringkali menjadi tabungan atau dana darurat, yang harus dijual cepat, bahkan dengan harga yang sangat murah ketika ada kebutuhan mendadak seperti biaya sekolah atau biaya pengobatan,” ujarnya.
Dengan program ini, Lawe dan Teras Mitra berupaya membangun jaringan pasar yang lebih luas dan transparan. Para penenun tidak lagi bergantung pada tengkulak, melainkan bisa langsung terhubung dengan konsumen yang menghargai karya mereka.
Menenun sebagai Warisan Budaya dan Mata Pencaharian
Fitria menyampaikan bahwa tenun bukan hanya sebuah seni, tetapi juga warisan budaya Indonesia. Setiap daerah memiliki motif dan karakteristik unik yang mencerminkan identitas lokal. Namun, kain tenun ini terancam posisinya akibat modernisasi.
Bagi banyak komunitas di Indonesia Timur, menenun adalah satu-satunya keahlian dan mata pencaharian. Oleh karena itu, program Weaving for Life tidak hanya bertujuan untuk melestarikan seni tenun, tetapi juga untuk memberikan peluang ekonomi yang lebih baik bagi para penenun. Dengan pendidikan, pelatihan, dan akses pasar yang lebih baik, para penenun dapat hidup lebih mandiri dan bangga akan keterampilan mereka.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar