Program tenun dari Bantul untuk kehidupan di Indonesia Timur

Program Weaving for Life: Melestarikan Tenun Tradisional dan Meningkatkan Kesejahteraan Penenun

Program Weaving for Life yang diinisiasi oleh dua komunitas asal Bantul, yaitu Lawe dan Teras Mitra, bertujuan untuk melestarikan tenun tradisional sekaligus mewujudkan perdagangan yang adil bagi para penenun. Program ini menawarkan solusi terhadap berbagai tantangan yang dihadapi industri tenun di Indonesia, termasuk masalah regenerasi dan kesenjangan ekonomi.

Pemberdayaan Ekonomi melalui Pelatihan Teknis dan Manajemen Harga

Di beberapa daerah di Indonesia, khususnya bagian Timur, kain tenun menjadi sumber penghidupan utama bagi masyarakat setempat. Namun, banyak penenun menghadapi kesulitan dalam memperoleh jaringan pasar yang luas dan harga jual yang layak. Hal ini membuat mereka seringkali menjual hasil tenun kepada tengkulak dengan harga murah.

Lawe, sebuah social enterprise asal Bantul, Yogyakarta, menyadari permasalahan ini. Bersama Asosiasi Teras Mitra yang fokus pada inovasi pengolahan kekayaan alam, program Weaving for Life lahir sebagai upaya untuk memberdayakan para penenun.

Fitria, yang telah belasan tahun berdedikasi dalam pelestarian tenun bersama Lawe Indonesia, menjelaskan bahwa tenun adalah warisan budaya Indonesia yang memiliki motif unik dari berbagai daerah. Namun, kain tenun ini terancam oleh modernisasi.

Bagi banyak komunitas di Indonesia Timur, menenun adalah satu-satunya keahlian dan mata pencaharian, ujar Fitria. Ia juga menyampaikan bahwa kebanyakan penenun di wilayah tersebut menggunakan kain tenun sebagai tabungan atau dana darurat, yang harus dijual cepat bahkan dengan harga yang sangat murah ketika ada kebutuhan mendadak seperti biaya sekolah atau pengobatan.

Pelatihan Teknis dan Pengembangan Produk

Untuk mengatasi masalah ini, Lawe dan Teras Mitra mengembangkan program Weaving for Life yang memberikan pelatihan teknis, pendampingan, dan pemberdayaan kepada para penenun. Pelatihan mencakup penggunaan pewarna alami, pengembangan motif, serta diversifikasi produk agar kain tenun dapat diubah menjadi barang dagangan yang lebih wearable, seperti tas, pakaian, dan lainnya.

Hasil produknya juga bisa lebih marketable, tambah Fitria. Selain itu, para penenun juga diajarkan cara menghitung biaya produksi (costing) dan menentukan harga jual (pricing) yang layak dan menguntungkan.

Program ini bertujuan mencapai misi utama Weaving for Life, yaitu mewujudkan perdagangan yang lebih adil bagi para penenun.

Sekolah Tenun Kampung: Upaya Regenerasi dan Transfer Pengetahuan

Selain pemberdayaan ekonomi, isu regenerasi penenun juga menjadi perhatian utama. Lawe dan Teras Mitra khawatir bahwa keterampilan dan teknik menenun akan hilang karena kurang diminati generasi muda.

Untuk merespons hal ini, dibentuklah Sekolah Tenun Kampung (STK) yang berlangsung di lima desa di Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur. Lima desa tersebut antara lain Desa Tokbesi, Desa Sainiup, Desa Tunbaen, Desa Pantae, dan Desa Papin.

Di STK, anak-anak belajar menenun mulai dari tingkat dasar, seperti memintal benang, menggulung benang hingga bisa menghasilkan selembar kain. Proses belajar ini merupakan bentuk regenerasi dan transfer pengetahuan kepada generasi muda.

Kegiatan ini tidak hanya terbatas pada anak-anak perempuan, tetapi juga terbuka bagi para lelaki. Bagi Lawe dan Teras Mitra, mengenalkan menenun sejak dini menjadi upaya untuk menghapus stereotip gender. Dengan demikian, anggapan bahwa kegiatan menenun hanya untuk perempuan dapat dikurangi.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan