
Pekan yang Menentukan bagi Pasar Keuangan Indonesia
Pekan ini menjadi momen penting bagi pasar keuangan Indonesia. Seluruh perhatian tertuju pada pengumuman The Federal Reserve (The Fed) yang diperkirakan akan menurunkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps). Meski demikian, langkah tersebut tidak sepenuhnya tanpa tantangan. Beberapa pejabat The Fed menunjukkan resistensi terhadap penurunan suku bunga karena inflasi yang belum turun sesuai harapan. Selain itu, minimnya data ekonomi terbaru akibat government shutdown juga memperburuk ketidakpastian di pasar.
Di tengah situasi ini, pasar saham Indonesia bereaksi cepat. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat pada awal perdagangan Selasa (9/12/2025), dengan level 8.726,517, naik 15,822 poin atau 0,18 persen. Investasi Specialist Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI), Ahmad Faris Mu’tashim, memprediksi bahwa IHSG akan bergerak dalam rentang 8.616 hingga 8.796. Jika sentimen penurunan suku bunga The Fed benar-benar terwujud, maka IHSG memiliki peluang besar untuk mencetak rekor all time high (ATH) baru.
Ahmad Faris menyatakan bahwa probabilitas penurunan suku bunga oleh The Fed mencapai 89,6 persen berdasarkan CME FedWatch. Hal ini menjadi katalis utama bagi arus masuk dana ke pasar saham domestik. Ia menjelaskan bahwa IHSG diproyeksikan bergerak pada range 8616-8796 dengan potensi mencetak rekor ATH baru. Sentimen ini didorong oleh kemungkinan pemotongan suku bunga sebesar 25 bps yang dilakukan oleh FOMC.
Penurunan suku bunga oleh FOMC berpotensi memberikan dampak positif bagi saham-saham yang berkorelasi dengan komoditas emas. Ketika The Fed memangkas suku bunga, Dollar Index (DXY) cenderung melemah karena imbal hasil aset berbasis dollar menjadi kurang menarik. Kondisi ini biasanya mendorong aliran dana asing masuk ke pasar negara berkembang seperti Indonesia. Arus modal tersebut umumnya membutuhkan lindung nilai, dan emas menjadi salah satu instrumen lindung nilai yang paling banyak dipilih. Karena itu, saham-saham emiten emas berpotensi diuntungkan dari meningkatnya permintaan atas komoditas tersebut.
Di sisi lain, penurunan suku bunga juga berdampak pada pasar obligasi. Saat tingkat suku bunga turun, yield obligasi cenderung ikut melemah sehingga harga obligasi naik. Hal ini sudah terlihat pada obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun yang berada di sekitar level 6,19 persen. Penurunan yield seperti ini akan meningkatkan minat pelaku pasar terhadap aset berisiko. Investor yang sebelumnya menempatkan dana pada instrumen aman seperti deposito atau obligasi pemerintah mulai mencari instrumen dengan potensi imbal hasil lebih tinggi.
Kondisi tersebut dapat memicu pergeseran sentimen menjadi lebih risk on, yang pada akhirnya turut mendukung penguatan pasar saham dan aset berisiko lainnya. Ahmad Faris menjelaskan bahwa alasan kenapa penurunan suku bunga pada FOMC selanjutnya berdampak positif pada saham yang berkorelasi pada komoditas emas adalah karena pemangkasan suku bunga akan berimplikasi pada melemahnya Dollar Index (DXY), sehingga aliran dana asing akan mengalir ke negara emerging market seperti Indonesia, sedangkan hal tersebut perlu di hedging oleh emas.
Bagaimana dengan Rupiah?
Berbeda dengan IHSG, rupiah masih menghadapi tantangan besar. Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai rupiah sulit menguat meski indeks dollar AS bergerak fluktuatif. Mata uang Garuda terus tertahan di rentang Rp 16.600-16.700 per dollar AS, terbebani oleh prospek pemangkasan suku bunga Bank Indonesia dan sinyal ekonomi domestik yang belum sepenuhnya solid.
Indeks dollar AS sendiri masih berfluktuasi dan cenderung tertekan. Namun rupiah juga susah menguat dan tertahan di rentang Rp 16.600- Rp 16.700. Prospek pemangkasan suku bunga oleh BI dan ekonomi domestik yang masih lemah terus menekan rupiah. Bank Indonesia disebut intens mengintervensi pasar agar rupiah tidak menembus area Rp 16.700 - Rp 17.000, namun perkembangan global membuat tekanan tetap kuat.
Lukman menilai pasar valuta asing cenderung menahan diri menjelang pengumuman FOMC. Jika The Fed memangkas suku bunga namun memberikan sinyal yang lebih hawkish, rupiah justru berpotensi kembali tertekan setelah keputusan diumumkan. Investor menunggu sinyal yang jelas. Rupiah diperkirakan akan berkonsolidasi hingga FOMC, namun berpotensi tertekan paska itu, namun tentunya akan tergantung pada hasil pertemuan tersebut. Range Rp 16.600 - Rp 16.700.
Untuk diketahui, pada perdagangan Selasa ini, rupiah dibuka menguat 0,01 persen ke posisi Rp 16.694 atas dollar AS.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar