
aiotrade, JAKARTA — PT Pemeringkat Efek Indonesia atau Pefindo memproyeksikan bahwa penerbitan surat utang atau obligasi korporasi akan tetap semarak pada tahun 2026. Berdasarkan analisis yang dilakukan, Pefindo memperkirakan bahwa jumlah penerbitan obligasi korporasi akan berada dalam kisaran antara Rp154 triliun hingga Rp196,86 triliun pada tahun depan.
Ahmad Nasrudin, Fixed Income Analyst Pefindo, menjelaskan bahwa penerbitan surat utang korporasi baru di tahun 2026 diperkirakan akan berada dalam rentang Rp154,00 triliun hingga Rp196,86 triliun, dengan angka tengah sebesar Rp175,77 triliun. Ia menilai bahwa aktivitas penerbitan ini akan terus berlangsung mengingat tingginya kebutuhan refinancing dari sektor korporasi.
"Kebutuhan refinancing yang tinggi menjadi salah satu faktor utama yang mendorong penerbitan obligasi korporasi," ujarnya pada Rabu (10/12/2025). Ia menambahkan bahwa besarnya surat utang yang jatuh tempo masih signifikan, yaitu diperkirakan mencapai Rp156,35 triliun per September dan dapat meningkat seiring dengan kemungkinan adanya penerbitan dengan tenor 1 tahun pada triwulan terakhir 2025.
Selain itu, ia juga menyebutkan bahwa ada peluang untuk memanfaatkan suku bunga yang diproyeksikan lebih rendah dibandingkan tahun 2025. Hal ini akan memberikan insentif bagi perusahaan untuk menerbitkan surat utang.
Dari sisi pertumbuhan ekonomi, Ahmad menilai bahwa kondisi perekonomian akan terus membaik berkat kebijakan moneter dan fiskal yang ekspansif. Penguatan ekonomi ini secara alami akan meningkatkan kebutuhan pendanaan perusahaan, baik untuk modal kerja maupun investasi, sehingga mendorong penerbitan surat utang korporasi baru.
Pasar surat utang juga mendukung aktivitas pendanaan ini, dengan yield acuan yang cenderung lebih rendah. Pelonggaran kebijakan moneter yang diharapkan berlanjut di tahun 2026, meskipun dengan laju dan besaran pemangkasan suku bunga yang lebih kecil daripada tahun 2025, akan mendorong penurunan yield acuan.
Selain itu, premi yang diminta investor diperkirakan relatif melandai karena suku bunga yang lebih rendah diharapkan dapat memperbaiki leverage keuangan korporasi. Hal ini berarti premi risiko yang disyaratkan tidak setinggi tiga tahun sebelumnya.
“Permintaan investor diproyeksikan menguat, khususnya dari manajer investasi yang mulai mencari imbal hasil lebih tinggi dengan mengalihkan fokus dari surat utang pemerintah ke pasar surat utang korporasi dan saham,” ujar Ahmad.
Namun, prospek tersebut dibayangi oleh sejumlah tantangan. Risiko geopolitik dan kebijakan ekonomi eksternal berpotensi menimbulkan fluktuasi yield dan kenaikannya secara temporer. Tekanan juga datang dari potensi depresiasi nilai tukar rupiah, yang berisiko meningkatkan inflasi, faktor negatif bagi yield acuan, di tengah peningkatan pasokan rupiah relatif terhadap dolar AS.
Dari sisi suplai, pasokan surat utang pemerintah yang tinggi, meskipun permintaan tetap solid, dapat menjadi penghambat bagi penurunan yield lebih lanjut. Selanjutnya, pasar juga menghadapi favoritisme terhadap obligasi peringkat A ke atas, yang membatasi risiko penerbitan bagi perusahaan berperingkat BBB ke bawah dan sektor tertentu.
Terakhir, perusahaan juga melirik substitusi dari pasar surat utang korporasi, yaitu pasar saham untuk menggalang dana seiring prospek kinerja IHSG yang lebih baik. Hal ini berpotensi mengurangi minat, terutama perusahaan tercatat, untuk menerbitkan surat utang.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar