
Pentingnya Melatih Ketangguhan Mental Sejak Dini
Psikolog Aisya Yuhanida Noor menekankan bahwa melatih ketangguhan mental sebaiknya dilakukan saat kondisi hidup sedang stabil. Hal ini disampaikan dalam acara Seminar Psikologi "Ibu Tangguh Keluarga Tumbuh" yang diadakan oleh Dharma Wanita Persatuan (DWP) Politeknik Negeri Bandung (Polban), Rabu (10/12/2025).
Aisya menjelaskan bahwa kesiapan menghadapi tekanan hidup tidak dibangun saat seseorang sedang berada dalam masa krisis, melainkan jauh sebelum itu. Ia menyebutkan bahwa ketika seseorang sedang stres, fokus utamanya adalah menyelesaikan masalah yang ada di kepala. Oleh karena itu, latihan ketahanan mental perlu dilakukan saat hidup sedang baik-baik saja.
Kalau kita lagi stres, kita sudah fokus menyelesaikan hal-hal yang ada di kepala. Makanya latih mental itu penting dilakukan pas hidup kita baik-baik saja, ujarnya.
Contoh Latihan Ketahanan Mental
Aisya memberikan contoh latihan ketahanan mental seperti melatih kekuatan fisik. Ketika tubuh sedang bugar, seseorang bisa meningkatkan kemampuan ototnya; demikian pula dengan mental. Ia menekankan bahwa jika seseorang sudah terlalu rentan karena stres, maka yang perlu diperbaiki adalah diri sendiri.
Kalau kita sudah sobek-sobek karena stres, yang kita perbaiki dulu adalah kita sendiri, katanya.
Menurutnya, stres bukan hanya berada di kepala, tetapi merupakan reaksi seluruh tubuh. Ia menyebutkan berbagai gejala fisik sebagai penanda stres, mulai dari jantung berdebar, otot menegang, hingga gangguan pencernaan.
Tubuh kita itu merekam stres. Mungkin sekarang tidak terasa, tapi suatu saat bisa jadi bom waktu, ujarnya.
Hubungan Pikiran dan Tubuh
Aisya merujuk pada pemikiran Dr. Gabor Mat yang menyatakan bahwa pikiran dan tubuh merupakan satu kesatuan. Ketika emosi tidak diolah, tubuh menyimpannya dalam bentuk keluhan fisik.
Kalau pikiran sakit, tubuh bilang, aku juga sakit, kata Aisya.
Ia menuturkan sebuah contoh kasus yang secara medis dinyatakan sehat namun tetap mengalami gangguan pada jantung dan otot panggul. Setelah ditelusuri, ternyata klien tersebut menahan stres cukup lama.
Dia rajin medical check-up dan semua bagus, tapi jantungnya masih bermasalah. Itu tandanya stres bukan cuma soal fisik, jelasnya.
Perbedaan Kondisi Sehat dan Bugar
Dalam kesempatan itu, Aisya juga membeberkan perbedaan antara kondisi sehat dan bugar. Sehat menurut hasil pemeriksaan medis belum tentu berarti bugar secara fungsional.
Ia mengingatkan para ibu untuk berfokus pada hal yang dapat dikendalikan, yakni diri sendiri. Menurutnya, mencoba mengubah orang lain hanya akan menambah tekanan.
Suami, anak, lingkungan semua itu tidak bisa kita kendalikan. Jadi, kita kerjain yang bisa kita ubah dulu, ujarnya.
Proses Mengenali Diri
Aisya menuturkan bahwa proses mengenali diri berlangsung seumur hidup karena manusia terus bertumbuh melalui pengalaman. Ia menilai penting bagi setiap orang untuk terbuka terhadap perubahan diri dan umpan balik.
Kita ini berubah, dan itu tidak apa-apa, katanya.
Aisya turut mengajak ibu-ibu untuk lebih menyayangi diri sendiri dan menghargai proses usaha yang mereka lakukan. Ia menambahkan bahwa fokus seseorang sebaiknya bukan pada kesempurnaan, tetapi pada perkembangan diri dari waktu ke waktu.
Fokus pada Tujuan Hidup
Aisya mendorong para ibu untuk memahami apa yang ingin dicapai dalam hidup agar tidak mudah terjebak pada perbandingan sosial. Setiap orang, katanya, memiliki jalur perkembangan masing-masing.
Ia menegaskan bahwa menjadi tangguh bukan berarti tidak boleh mengeluh. Mengeluh, menurutnya, adalah bagian dari proses merespons tekanan. Namun, ketangguhan tampak dari kemampuan seseorang untuk terus melangkah meski kondisi sedang berat.
Ruang Aman untuk Berbagi Ilmu
Di tempat yang sama, Wakil Ketua DWP Polban, sekaligus panitia acara, Wiwik Siti Rubiah Adawiyah mengatakan pihaknya menyediakan ruang aman untuk berbagi ilmu dan pemahaman mengenai ketahanan mental perempuan dan keluarga.
Wiwik menyebut kondisi perempuan Indonesia saat ini menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Banyak kasus-kasus seperti perundungan, kemudian bunuh diri. Nah, itu sesungguhnya berkaitan dengan kesehatan mental, ujarnya.
Dengan adanya seminar ini, Wiwik berharap peserta mendapatkan wawasan untuk menyikapi berbagai tantangan hidup. Tidak mudah menyerah dan ternyata memang ada hal-hal yang harus kita lakukan untuk membuat mental kita lebih kuat, ujarnya.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar