Psikolog Terkenal Beberkan 2 Persiapan Penting Sebelum Anak Gunakan Smartphone, Ibu Wajib Tahu!

Psikolog Terkenal Beberkan 2 Persiapan Penting Sebelum Anak Gunakan Smartphone, Ibu Wajib Tahu!

Peran Orang Tua dalam Menghadapi Kecanduan Gadget pada Anak

Di tengah semakin tingginya permintaan anak-anak untuk memiliki smartphone sejak duduk di bangku Sekolah Dasar, banyak orang tua merasa bingung antara memberikan atau menunda. Psikolog ternama asal Amerika Serikat, Jean Twenge Ph.D dari San Diego State University, yang juga penulis buku best-seller iGen, menekankan bahwa semakin lama kita menunda pemberian smartphone kepada anak, semakin besar peluang mereka tumbuh lebih bahagia dan sehat secara mental.

Menurut penelitian panjang yang dilakukan Twenge selama puluhan tahun, anak-anak yang terlalu dini terpapar smartphone dan media sosial cenderung mengalami peningkatan risiko kecemasan, depresi, hingga penurunan kepuasan hidup. Oleh karena itu, ia merekomendasikan agar akses media sosial baru diberikan ketika anak berusia minimal 16 tahun, sementara smartphone tanpa media sosial boleh dipertimbangkan di akhir masa SD, sekitar kelas 5–6.

“Tunda selama yang Bunda bisa,” tegas Twenge saat diwawancarai CNBC Make It belum lama ini.

Edukasi Risiko Sejak Dini, Langkah Pertama yang Tak Boleh Dilewatkan

Sebelum smartphone mendarat di tangan si kecil, orang tua harus duduk bersama anak dan mengadakan “kursus singkat” tentang dunia digital. Bukan sekadar melarang, tapi benar-benar mengedukasi.

Mulailah dengan hal sederhana namun krusial: apa saja informasi pribadi yang tidak boleh dibagikan ke orang lain, baik teman sekolah maupun orang asing di internet. Nama lengkap, alamat rumah, nomor telepon, nama sekolah, hingga foto seragam bisa menjadi pintu masuk pelaku kejahatan daring.

Twenge juga menyarankan orang tua mengajarkan konsep bahwa “waktu adalah aset paling berharga yang tidak bisa dibeli kembali”. Ceritakan pada anak bahwa banyak remaja yang kemudian menyesal karena masa kecil dan remajanya habis hanya untuk scrolling tanpa arti, alih-alih bermain bersama teman secara nyata atau menekuni hobi.

“Anak perlu paham bahwa suatu saat nanti mereka mungkin akan menyesal telah menghabiskan sebagian besar masa mudanya di depan layar, bukannya bertemu teman, berolahraga, atau menikmati keluarga,” ujar Twenge.

Percakapan ini bukan sekali jadi, tapi harus berulang dan disesuaikan dengan usia anak. Semakin dini dimulai, semakin kuat pondasi pemahaman mereka ketika nanti smartphone benar-benar ada di genggaman mereka.

Aturan Tegas dan Konsisten, Kunci Kedua yang Tak Kalah Penting

Edukasi tanpa aturan ibarat mengemudi tanpa rem. Twenge menekankan pentingnya menetapkan batasan yang jelas sejak hari pertama kali smartphone diberikan.

Beberapa aturan dasar yang ia sarankan antara lain: larangan menggunakan smartphone selama jam sekolah, larangan membawa ponsel ke kamar tidur pada malam hari, serta batas waktu layar harian yang ketat (misalnya maksimal 1–2 jam per hari di luar keperluan belajar).

“Gunakan fitur parental control tanpa ragu. Ini bukan soal tidak percaya pada anak, tapi justru melindungi mereka dari godaan algoritma yang dirancang untuk membuat ketagihan,” jelasnya.

Komunikasikan aturan ini secara terbuka dan tertulis jika perlu. Buat “kontrak keluarga” bersama anak yang berisi hak dan kewajiban masing-masing. Jika dilanggar, konsekuensi harus ditegakkan dengan konsisten, misalnya penyitaan ponsel selama beberapa hari.

Jika Anak Sudah Terlanjur Punya Smartphone? Masih Belum Terlambat!

Banyak orang tua yang baru sadar setelah anak sudah bertahun-tahun leluasa menggunakan gadget. Tenang, Twenge menegaskan bahwa kita tidak pernah terlambat untuk memperbaiki pola.

Ajakan duduk bersama, membahas kembali risiko, dan membuat aturan baru tetap bisa dilakukan meski anak sudah SMP atau SMA sekalipun. Reaksi awal mungkin keras – marah, membanting pintu, hingga menangis berjam-jam. Itu wajar.

“Tetaplah tenang, tegas, dan konsisten. Jelaskan bahwa ini semua karena Bunda dan Ayah sayang serta ingin mereka tumbuh bahagia di masa depan,” tutur Twenge.

Lambat laun, ketika anak merasakan manfaat dari waktu layar yang lebih terbatas – tidur lebih nyenyak, nilai sekolah membaik, hubungan dengan teman dan keluarga semakin erat – mereka justru akan berterima kasih.

Smartphone Bukan Musuh, Tapi Butuh Pengawasan Orang Tua

Memberikan smartphone pada anak bukan berarti kita “kalah” sebagai orang tua. Yang terpenting adalah kapan dan bagaimana kita memperkenalkannya. Dengan edukasi dini yang kuat dan aturan yang tegas namun penuh kasih, anak bisa tumbuh menjadi generasi digital yang bijak, bukan budak layar.

Jadi, Bunda, kapan rencananya si kecil boleh pegang smartphone? Ceritakan pengalaman Bunda di kolom komentar ya!

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan