Puasa Rajab Hanya di Hari Sabtu, Bolehkah? Ini Penjelasan Ustadz Abdul Somad

Puasa Rajab Hanya di Hari Sabtu, Bolehkah? Ini Penjelasan Ustadz Abdul Somad

Penjelasan Ustadz Abdul Somad Mengenai Puasa Sunnah Rajab di Hari Sabtu

Ustadz Abdul Somad (UAS) memberikan penjelasan mengenai hukum puasa sunnah Rajab yang dilakukan hanya pada hari Sabtu. Menurutnya, hal ini diperbolehkan karena hadis yang sering digunakan sebagai dasar larangan memiliki status dhaif atau lemah.

Sebagai salah satu bulan haram dalam kalender Islam, bulan Rajab memiliki keistimewaan tersendiri. Di bulan ini, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak amalan kebaikan dan menjauhi perbuatan dosa. Selain itu, ada beberapa hadis yang menyebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW menyarankan umatnya untuk berpuasa di bulan-bulan mulia, termasuk Rajab.

Perbedaan Pendapat Mengenai Hukum Puasa di Hari Sabtu

Banyak masyarakat yang bertanya apakah boleh melakukan puasa sunnah Rajab hanya pada hari Sabtu. Hal ini berkaitan dengan adanya hadis yang melarang puasa khusus di hari Sabtu. Namun, menurut UAS, hadis tersebut tidak memiliki kekuatan hukum yang kuat karena statusnya yang dhaif.

Dalam sebuah konten YouTube yang berjudul "Puasa Hanya Hari Jumat, Sabtu dan Ahad", UAS menjelaskan bahwa hadis yang melarang puasa di hari Sabtu memiliki kualitas yang rendah. Oleh karena itu, tidak bisa digunakan sebagai dasar pelarangan atau penganjuran ibadah tertentu.

Hukum Puasa di Hari Sabtu

Berdasarkan penjelasan tersebut, UAS menyatakan bahwa umat Muslim diperbolehkan untuk berpuasa sunnah, termasuk puasa Rajab, meskipun hanya dilakukan pada hari Sabtu. Hal ini karena tidak ada dalil shahih yang secara tegas melarangnya secara mutlak.

Umat Islam dapat menjalankan ibadah puasa di bulan Rajab dengan tenang, baik dilakukan secara berurutan maupun di hari-hari tertentu yang diinginkan. Dengan demikian, mereka tetap bisa memperoleh pahala dari ibadah tersebut tanpa khawatir terkena larangan.

Bacaan Niat Puasa Rajab

Berikut adalah bacaan niat puasa sunnah Rajab:

Niat Puasa Rajab Malam Hari
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ رَجَبَ لِلهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma ghadin ‘an adâ’i sunnati Rajaba lillâhi ta‘âlâ.
Artinya: “Aku berniat puasa sunnah Rajab hari ini karena Allah Ta’ala.”

Niat Puasa Rajab Siang Hari
نَوَيْتُ صَوْمَ هَذَا اليَوْمِ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ رَجَبَ لِلهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma hâdzal yaumi ‘an adâ’i sunnati Rajaba lillâhi ta‘âlâ.
Artinya: “Aku berniat puasa sunnah Rajab hari ini karena Allah SWT.”

Bulan Rajab dan Amalan Puasa

Rajab adalah bulan ke-7 dalam penanggalan Hijriyah. Bulan ini dihormati dan disebut sebagai salah satu dari bulan-bulan haram selain Muharram, Dzulqa’dah, dan Dzulhijjah. Di bulan Rajab juga terjadi peristiwa penting yaitu Isra Mi'raj, perjalanan Nabi Muhammad SAW ke sidratul muntaha untuk bertemu Allah SWT.

Di sana, Nabi Muhammad SAW mendapatkan perintah shalat lima waktu. Oleh karena itu, bulan Rajab memiliki makna yang sangat istimewa bagi umat Islam. Karena itu, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak amalan dan meninggalkan perbuatan dosa.

Pandangan Ulama

Ustadz Abdul Somad juga menyampaikan pandangan ulama mengenai puasa Rajab. Dalam hadis riwayat Ahmad bin Hanbal dalam kitab Musnad, Rasulullah SAW bersabda: “Berpuasalah engkau di bulan-bulan haram.” Bulan haram tersebut mencakup Zulqo’dah, Zulhijjah, Muharram, dan Rajab.

Menurut UAS, hadis ini bersifat umum dan menunjukkan bahwa puasa di bulan-bulan haram dianjurkan. Di kalangan ulama juga ada waktu-waktu tertentu yang dianjurkan untuk menjalankan puasa Rajab.

Misalnya, menurut almarhum Kiai Maimoen Zubair, puasa Rajab bagus dilakukan pada tanggal 1 hingga tanggal 10 Rajab. Ia menjelaskan bahwa jika seseorang tidak kuat, puasa hanya pada tanggal 10 sudah cukup. Jika kuat, puasa bisa dilakukan pada tanggal 1 dan 10.


Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan