Puisi Akademisi dan Budayawan yang Menyentuh Hati

Puisi Akademisi dan Budayawan yang Menyentuh Hati

Puisi yang Tidak Mengikuti Aliran

Aku/bukan mereka yang sering disebut dalam antologi/atau catatan kaki/Aku hanyalah gado-gado, yang tak pernah ingin dikungkung/Puisiku, kusajikan apa adanya/Jangan ditanya kualitas dan makna/Silahkan dibaca pelan-pelan/Kalau tidak suka, buang saja ke keranjang sampah.
Demikian bait terakhir puisi “Gado-gado Tanpa Mazhab” yang ditulis oleh Ganjar Kurnia dalam kumpulan puisinya yang berjudul sama. Dalam puisinya ini, penyair menegaskan bahwa puisinya lahir dari kebebasan total—tidak mengikuti mazhab, aliran, patokan estetika, atau standar kesusastraan mana pun. Puisinya adalah gado-gado, campuran liar, jujur, spontan, dan merdeka.

Puisi “Gado-gado tanpa Mazhab” adalah fokus utama dari buku antologi ini, karena memang secara keseluruhan puisi-puisinya menyiratkan pernyataan estetika dan manifesto kepenyairan Ganjar Kurnia yang menurutnya menjadi (seperti?) gado-gado. Dengan rendah hati penyair berucap lewat bait pertama puisi tersebut: Aku hanya penyair-penyairan/Kata-kata, kuaduk menjadi gado-gado — campuran sambal getir dan kerupuk tawa. Ada sedikit mistik, sedikit logika, sejumput sunyi, seiris bahak, setetes trauma (hlm 149-150).

Di sini, Ganjar Kurnia menggambarkan dirinya bukan sebagai penyair sungguhan, apalagi penyair besar, tetapi seorang penyair-penyairan, yang menulis bukan untuk mengikuti aturan, melainkan meramu pengalaman hidup: getir, tawa, mistik, logika, sepi, humor, dan luka. Intinya, puisinya berisi campuran rasa hidup.

Setya Yuwana Sudikan menulis dalam kata pengantarnya, judul buku itu sendiri juga merupakan semacam pernyataan sikap. Sebagaimana gado-gado yang mencampurkan bahan aneka jenis lontong, tauge, kentang, tempe, kerupuk, dan sambal kacang—kumpulan puisi ini seakan menolak kemurnian bentuk dan aliran. Ada kritik sosial, refleksi mendalam, pengakuan, semangat, semuanya mementingkan kejujuran ekspresi, dihadirkan dalam puisi-puisi yang diolah dari kekayaan pengalaman hidup.

Sarat Renungan

Penyair, Prof. Dr. Ir. Ganjar Kurnia, DEA adalah Kepala Pusat Budaya Unpad (sejak 2020), Ketua Senat Akademik Unpad (2020-2025), serta Ketua Pusat Digitalisasi dan Pengembangan Budaya Sunda (2020-kini). Ia juga menjabat sebagai Pimpinan Umum Majalah Manglé. Penyair dan akademisi ini pernah bertugas sebagai Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Paris, serta menjabat Rektor Universitas Padjadjaran (2007-2015).

Selain menulis berbagai buku akademik di bidang pertanian, Ganjar Kurnia juga menghasilkan karya puisi, fiksi mini, naskah oratorium, dan menyutradarai sejumlah pergelaran gending karesmen, oratorium, dan opera berbahasa Sunda.

Sebagai akademisi sekaligus budayawan, ia tidak kehilangan kekayaan dua dunia itu dalam proses mencipta puisi. Puisi-puisi dalam buku Gado-gado tanpa Mazhab justru memperlihatkan kesungguhannya sebagai penyair: bagaimana ia mengolah realitas, imajinasi, dan suasana batin menjadi larik-larik yang bermakna, sarat renungan, dan terkadang bernuansa humor.

Beragam Tema

Ada 93 puisi yang termuat di buku antologi ini, sebagian berakar kuat pada pengalaman religius, tetapi bukan religiusitas yang dogmatis. Ia membawa pembaca masuk ke ruang spiritual melalui jendela sains modern, menjadikan gagasan ketuhanan sebagai pertemuan antara cahaya langit dan mekanika tubuh manusia.

Simak misalnya pada puisi “Berita dari Goa”, penyair mengambil momen monumental turunnya wahyu dengan kekuatan ilahiah yang diterjemahkan menjadi resonansi biologis:
“Firman turun, menembus ruang dan waktu menjadi resonansi menembus ke neuron yang haus cahaya hikmah, menguatkan sinapsis dalam pencarian kebenaran” (hlm 55).

Lewat puisi tersebut, penyair memandang wahyu bukan sekadar pesan dari langit, tetapi juga peristiwa neurologis yang menyala-nyalakan kesadaran manusia. Hal ini memperlihatkan keberanian sang penyair dalam menyatukan kosmologi Islam dengan ilmu pengetahuan tanpa mengurangi kesakralannya. Sejatinya masih ada lagi beberapa puisi religius yang senada dengan “Berita dari Goa”, dan kesemuanya menghadirkan spiritualitas yang relevan bagi manusia masa kini: religius namun rasional, mistik namun komunikatif.

Namun, sesuai judul dan sikap estetika-nya sebagai penyair gado-gado, antologi ini tentu diwarnai beragam tema. Bukan hanya spiritualitas dan religiusitas, tetapi juga sains, digitalisasi, politik, serta kritik sosial yang kerap diungkapkan dengan gaya bahasa lentur, polos, penuh humor satiristik, dan sarat renungan.

Yang membuat puisi-puisinya menonjol, di antaranya, keberhasilannya menyatukan bahasa imajiner dan penuh metafora dengan bahasa sains dan digital tanpa terjebak dalam gimmick. Diksi seperti folder, crash, rendering, interface, file, recycle, fixel, metadata, dan cache dalam puisi “Aku Sesak” (hlm 70-71), misalnya, menggambarkan bagaimana penyair memandang manusia kontemporer sebagai makhluk yang hidup dalam dua realitas: realitas biologis dan realitas digital. Dalam hal ini, puisi tidak hanya menjadi kritik, tetapi juga semacam renungan eksistensial tentang bagaimana teknologi mengubah struktur rasa manusia.

Dalam beberapa puisinya, penyair membahas fenomena masyarakat kontemporer: polarisasi identitas, ketegangan politik, hingga perpecahan yang ditumbuhkan algoritma media sosial. Puisi “Walau”, misalnya, menggambarkan peperangan masa kini yang tidak lagi memakai senjata, melainkan gawai dan jempol:
“Kini, peluru tak lagi ditembakkan dari senapan, melainkan dari jempol amarah, menyusup lewat layar, menembus lewat frasa yang tidak diikat tagar.” (hlm 91).

Alhasil, menyimak keseluruhan puisi dalam buku ini, kita disuguhi gado-gado dengan berbagai rasa. Penyair pun sadar puisinya gado-gado, tapi itulah kekuatannya.


Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan