
Upaya Pemerintah Indonesia dalam Menghidupkan Bahasa Indonesia di Australia
CANBERRA, aiotrade–
Pemerintah Indonesia terus berupaya keras untuk memperkuat penggunaan dan pemahaman Bahasa Indonesia di Australia. Salah satu bentuk kegiatan yang dilakukan adalah Malam Sastra yang diselenggarakan di Wisma Indonesia, Red Hill, pada Jumat (5/12/2025). Acara ini bertajuk "Membaca Puisi Karya Helvy Tiana Rosa" dan menjadi bagian dari First Australian Congress for Indonesian Language 2025.
Para peserta, baik dari Indonesia maupun Australia, turut serta dalam membacakan puisi. Salah satunya adalah Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Fajar Riza Ul Haq, yang membacakan puisi “Rohana”. Malam sastra ini bukan hanya sekadar acara membaca puisi, tetapi juga cara untuk menjaga agar Bahasa Indonesia tetap hidup dalam benak warga Australia.
Helvy Tiana Rosa, yang hadir sebagai pembicara, menekankan bahwa bahasa tidak hanya tentang kemampuan teknis. Ia menyatakan bahwa bahasa lebih dari sekadar kemampuan berbicara atau menulis.
“Bahasa itu bukan hanya soal bisa, tapi soal kedekatan emosional,” ujarnya.
Menurutnya, sastra mampu menghancurkan jarak antara manusia. Ketika warga Australia membacakan puisinya, ia melihat hal tersebut sebagai bukti bahwa Bahasa Indonesia tidak hanya dipelajari, tetapi dirasakan dan dicintai.
Bahasa mungkin diajarkan di kelas, tetapi ia hidup melalui manusia yang mencintai dan merayakannya.
Membawa Jejak Indonesia ke Sekolah-Sekolah di Australia
Selain kegiatan membaca puisi, malam itu juga diisi dengan cerita tentang upaya yang dilakukan oleh Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud) KBRI Canberra, Yulisa Fitri, dalam mempertahankan Bahasa Indonesia. Yuli memimpin program Indonesia Goes to School, sebuah inisiatif yang membawa bahasa dan budaya Indonesia langsung ke ruang kelas. Minimal dua sekolah ia kunjungi setiap bulan.
“Bahasa itu tidak bisa dipisahkan dari budaya,” ujarnya dalam sesi diskusi.
Dalam setiap kunjungan, ia tidak hanya memperkenalkan dasar-dasar bahasa, tetapi juga pengalaman budaya. Ia mengajak para siswa memainkan gamelan, mencoba pakaian adat, hingga belajar tentang rumah-rumah adat Indonesia.
Namun, upaya ini tidak selalu berjalan mulus. Jarak antar wilayah di Australia yang sangat luas membuat kunjungan sekolah sering terkendala.
“Kadang baru sampai area tertentu, cuaca ekstrem membuat jadwal kami batal,” tambah Yuli.
Pengenalan Bahasa Melalui Kuliner
Salah satu hal yang ingin dilakukan Atdikbud adalah mengenalkan bahasa lewat kuliner Indonesia.
“Sebenarnya sekolah-sekolah minta kalau aku datang, boleh juga ngajarin masak. Tapi emang dananya kalau makanan disini tuh mahal, jadi agak sulit ya,” cerita Yuli.
Pengiriman bahan makanan, sewa peralatan, hingga logistik untuk menyajikan kuliner di sekolah-sekolah luar Canberra membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Padahal, ia melihat kuliner sebagai media bahasa yang sangat kuat.
“Anak-anak biasanya langsung antusias kalau ada makanan,” ujarnya.
Film Indonesia sebagai Bahan Ajar
Tidak hanya itu, upaya menghadirkan film Indonesia sebagai bahan ajar juga terhambat. Selama ini, hampir semua sekolah hanya bisa memutar Laskar Pelangi karena satu-satunya yang relatif mudah diakses. Untuk film lain, screening fee-nya hampir 600 USD sekali tayang atau setara Rp 9–10 juta hanya untuk satu kelas.
“Kalau mau diputar di sekolah lain, harus bayar lagi dari awal,” jelas Yuli.
KBRI sudah mencoba menghubungi sejumlah produser untuk meminta film yang bisa dihibahkan kepada sekolah-sekolah Australia, namun belum membuahkan hasil. Sementara itu, Kementerian Kebudayaan Indonesia juga belum memiliki skema resmi untuk menyediakan film edukasi bebas tayang untuk luar negeri.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar