Purbaya Siapkan Investasi Rp45 Miliar untuk Sistem AI Bea Cukai

Modernisasi Sistem Pengawasan Kepabeanan

Pemerintah terus mempercepat upaya modernisasi sistem pengawasan kepabeanan. Salah satu langkah yang dilakukan adalah peresmian penggunaan alat pemindai petikemas di Terminal Operasi 3 IPC Terminal Petikemas (TER3) dan Terminal Mustika Alam Lestari (TMAL). Perangkat baru ini menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk memperkuat keamanan logistik serta meningkatkan efisiensi pemeriksaan barang.

Menteri Keuangan RI, Purbaya Yudhi Sadewa, menjelaskan bahwa pemindai terbaru tersebut sudah dilengkapi radiation portal monitor, teknologi yang memungkinkan deteksi bahan berbahaya dan radioaktif tanpa membuka kontainer. "Pemeriksaannya cepat, akurat, dan aman. Dampaknya langsung terasa, keamanan meningkat, layanan lebih singkat, dan potensi pelanggaran bisa ditekan sejak awal," kata Purbaya di Jakarta, kemarin (12/12).

Proses Pembangunan Fasilitas Pemindai

Pembangunan fasilitas pemindai dilakukan melalui beberapa tahapan, mulai dari penetapan lokasi, konstruksi, sosialisasi, hingga uji coba operasional. Pemanfaatannya dilakukan bersama oleh TER3 dan TMAL. Dasar penerapannya mengacu pada PMK 109/PMK.04/2020 yang mewajibkan pengusaha Tempat Penimbunan Sementara menyediakan peralatan pemindaian sesuai karakteristik barang.

Selain infrastruktur pemindai fisik, pemerintah juga tengah mengembangkan sistem kecerdasan buatan bernama Trade AI di Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC). Purbaya mengungkapkan bahwa hingga saat ini pengembangan Trade AI masih memanfaatkan sumber daya internal tanpa alokasi khusus dari APBN. "Kita pakai resources yang ada, hardware yang ada, software yang ada. Jadi belum ada investasi besar. Tetapi ke depan, agar lebih canggih dan bisa dipakai nasional, kita butuh sekitar Rp45 miliar untuk pengembangan sistem IT-nya," jelasnya.

Hasil Uji Coba Trade AI

Trade AI telah diuji pada 145 PIB dalam tahap awal. Hasil analisis cepat AI disebut memberikan nilai temuan signifikan, di mana tindak lanjut di lapangan menghasilkan tambahan penerimaan sekitar Rp1,2 miliar. "Ini masih kecil, tapi first run-nya sudah jelas memberikan hasil. Ke depan harusnya makin besar," ungkap Purbaya.

Mengenai kemampuan Trade AI, Purbaya menilai akurasinya masih berkembang. Meski teknisi menyebut tingkat akurasi awal berada di kisaran 90 persen, dia menilai hasil realistisnya masih di bawah itu. "AI itu belajar. Data lapangan akan terus dimasukkan sehingga akurasinya meningkat. Target saya, sekitar Maret tahun depan sudah mendekati 100 persen," tegasnya.

Fungsi dan Manfaat Trade AI

AI akan digunakan untuk mendeteksi selisih atau kejanggalan antara data dokumen dan hasil pemindaian. Jika perbedaan terlalu besar, pemeriksaan manual langsung dilakukan. Sistem ini juga akan menjadi alat ukur kinerja pegawai verifikator.

Selain itu, seluruh barang yang keluar masuk kawasan kini 100 persen wajib melalui X-ray, sehingga tingkat ketelitian pengawasan meningkat. Purbaya menyebut biaya perangkat yang terjangkau dari BRIN memungkinkan pemasangan pemindai di lebih banyak pelabuhan.

Meski begitu, dia menegaskan tidak ada sistem yang mampu menghilangkan praktik ilegal sepenuhnya. "Kalau 100 persen mencegah impor ilegal itu tidak mungkin. Tapi peluangnya akan semakin kecil di pelabuhan-pelabuhan yang memakai teknologi ini," ucapnya.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan