Rahvayana: Cinta yang Terungkap, Panggung sebagai Cermin Kebenaran

Pemahaman Kembali Mitologi Melalui Seni

Rahwana bukan penjahat, dan Rama bukan sepenuhnya benar. Dalam karya drama musikal “Rahvayana Kala Cinta Dijabar”, mitologi lama diangkat kembali dengan menggali luka, cinta, dan kebenaran yang saling bertabrakan. Kisah ini membangkitkan pertanyaan: ketika cinta berubah menjadi perang, siapa yang sesungguhnya bersalah? Drama musikal ini membawa penonton untuk menatap ulang kebenaran melalui cahaya, musik, dan tubuh para seniman.

Pertunjukan ini hadir sebagai penanda bahwa seni tak hanya sekadar hiburan, tetapi juga ruang refleksi kolektif bagi masyarakat Jawa Barat. Di atas panggung, para maestro lintas disiplin—dalang, aktor & aktris, musisi, pengrawit, hingga pejabat PNS—dikolaborasikan dalam satu napas kreatif. Sujiwo Tejo tampil sebagai Rahwana, sosok yang selama ini dicap antagonis, namun malam itu justru menjadi pusat semesta cerita. Iman Sholeh memerankan Kumbakarna dengan keteguhan ksatria, sementara Trie Utami menghadirkan Sukesi dengan kelembutan seorang ibu yang mengandung luka sejarah.

Marcell Siahaan sebagai Sri Rama dan Isyana Sarasvati sebagai Shinta membangun dialog batin yang sunyi namun menghunjam. Deretan nama lain turut menghidupkan lakon, mulai dari Sule, Inayah Wahid (putri Presiden Gus Dur), Ohang, Anton Abox, hingga Kadis Kehutanan Jabar Dodit Aditya Prapanca yang mengejutkan publik lewat kehadirannya di panggung teater—mereka memerankan ‘Punakawan’. Naraya Dance Crew, Komunitas CCL, EMKA9, serta para pengrawit menjadi denyut yang menggerakkan jiwa pertunjukan.

Kisah Rahvayana berangkat dari buku karya Sujiwo Tejo, namun ditransformasikan ke dalam bentuk yang jauh lebih kompleks. Suguhan Wayang Golek dari Ki Dalang Dadan Sunandar Sunarya berpadu dengan etnomusikologi, menyatukan karawitan Sunda dan musik pop modern. Inilah panggung tempat tradisi dan kontemporer berdialog tanpa saling meniadakan. Nada-nada gamelan bersua dengan harmoni modern, membentuk lanskap bunyi nada yang membingkai tragedi cinta.

Cerita berporos pada cinta segitiga Rahwana, Rama dan Shinta, namun tak berhenti pada hitam-putih moral. Di sini, kebenaran tampil sebagai sesuatu yang majemuk dan saling bersilang. Sujiwo Tejo sebagai Rahwana menawarkan tafsir yang berani. Rahwana bukan sekadar penculik, melainkan lelaki yang mengaku mencintai dengan cara yang diyakininya suci. Ia menawan Shinta, namun tidak menodainya. Di Taman Argasoka Alengka, Shinta justru dimuliakan dengan bait dan larik syair puisi cinta yang indah—walau dalam penjagaan ketat Trijata.

Rahwana meyakini Shinta adalah titisan Dewi Sri Widowati, cinta masa lalunya yang dijanjikan para Dewa. Keyakinan itu membuatnya merasa berhak, sekaligus terkutuk. Ia pernah memohon mati kepada para dewa karena paras Dasamuka yang dianggap mengerikan. Namun permintaan itu ditolak, sebab Rahwana diposisikan sebagai penyeimbang dunia—ada baik dan buruk, terang dan gelap. Perang pun meletus bukan semata karena hasrat, melainkan karena luka kehormatan.

Shurpanakha, adik Rahwana, dihina hingga dipotong hidungnya oleh Laksmana adiknya Rama, menyulut dendam yang tak terpadamkan. Di sisi lain, Rama datang dengan kebenarannya sendiri. Sebagai suami dan Raja Ayodya, ia merasa berhak merebut kembali Shinta dari tangan Rahwana. Namun kebenaran Rama tak luput dari kritik. Pasalanya, peperangan besar demi satu perempuan menghadirkan korban yang tak terhitung, menyisakan janda dan anak yatim yang tak pernah disebut dalam wiracarita.

Pembenaran lain adalah sikap Wibisana, adik Rahwana yang berwatak Brahmana, memilih membelot ke pihak Rama. Baginya, kebenaran harus ditegakkan meski berarti mengkhianati darah dan tanah kelahiran. Ia membuka rahasia Alengka, menelanjangi kelemahan Kumbakarna dan Rahwana kepada pasukan Rama. Pilihan ini menjadikannya simbol moral absolut yang dingin dan rasional. Berbeda dengan adik Rahwana lainnya, Kumbakarna. Raksasa ksatria ini sadar kakaknya bersalah, namun memilih membela Alengka sebagai tanah airnya. Sebelum berperang, Kumbakarna menasihati Rahwana dan memuntahkan semua pemberian sang kakak. Tindakannya adalah protes sekaligus sumpah setia kepada negeri Alengka—merupakan sikap nasionalisme yang kuat.

Di luar lakon, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi tampil memberikan tafsir sosial. Sebagai KPM bank bjb, Dedi Mulyadi menjadi promotor terselenggaranya pertunjukan Rahvayana Kala Cinta Dijabar. KDM menilai Rahwana memang salah menculik istri orang. Namun ia juga mengkritik Rama yang membawa perang besar hanya demi persoalan wanita. Dengan nada menyindir, KDM mempertanyakan glorifikasi kekerasan atas nama moral. Siapa yang bertanggung jawab atas para istri prajurit yang ditinggal mati?

Tapi, KDM juga mendebat Sujiwo Tejo, “kenapa Rahwana yang benar dalam lakon ini, bukannya Rama?” Pertanyaan itu menggema lebih keras daripada dialog panggung. Seni pun menjelma ruang kritik sosial yang halus namun tajam. Di sela tragedi, Punakawan hadir sebagai penyeimbang. Tawa penonton pecah oleh humor segar dan sindiran cerdas. Sule tampil konsisten sebagai pengocok perut. Namun, Inayah Wahid mencuri perhatian lewat humor reflektif ala Gus Dur yang rada-rada menyentil politik hingga isu kemanusiaan.

Sorotan khusus tertuju pada Dodit Aditya Prapanca. Kadis Kehutanan Jabar ini, meski bukan aktor profesional, ia tampil hidup, cair, dan berani berimprovisasi. Aksen dialognya memang kadang tak sempurna. Namun justru di sanalah terasa kejujuran panggung yang jarang ditemui—menyuhkan spektakel panggung yang unik menggelitik. Trie Utami sebagai Sukesi memancarkan energi keibuan yang kuat. Ia menjadi simpul emosi yang mengikat Rahwana dan Kumbakarna dalam tragedi keluarga.

Marcell Siahaan dan Isyana Sarasvati membangun ketegangan sunyi. Adegan “obong” sebagai pembuktian kesucian Shinta baik diperankannya. Dalam kesedihannya, Shinta menyadari ironi. Rama datang ke Alengka bukan pertama-tama untuk menjemputnya, melainkan untuk membasmi angkara murka. Sebagai titisan Wisnu, Rama menjalankan misi kosmis. Namun di mata Shinta, cinta tetap manusiawi dan rapuh.

Paling epic adegan Rahwana pamit terhadap Shinta sebelum bertarung dengan Rama—menjadi salah satu klimaks emosional, karena Isyana Sarasvati sampai memeluk erat Sujiwo Tejo, menyalakan tensi dramatik apik, seolah merangkul seluruh tragedi cinta manusia. Tata musik, cahaya, dan panggung bekerja presisi. Setiap simbol visual dan bunyi menyampaikan makna di balik kata. Wardrobe dan riasan memperkuat karakter tanpa berlebihan—semiotika pertunjukan terasa matang dan terkonsep.

Di akhir cerita, satu hal menjadi terang. Tak ada kebenaran tunggal dalam cinta dan kekuasaan. Rahwana, Rama, Kumbakarna, Wibisana, dan Shinta masing-masing memegang kebenarannya. Ketika kebenaran bertemu kebenaran, lahirlah konflik yang abadi. Dan di sanalah seni bekerja. Mengajak kita bercermin, bertanya, dan meragukan keyakinan sendiri. Rahvayana tak menawarkan jawaban. Ia hanya membuka panggung agar manusia berani berpikir!

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan