
Ramalan telah menjadi bagian dari kehidupan manusia sejak dahulu kala. Berbagai model dan cara digunakan untuk memprediksi masa depan, tetapi apakah itu murni intuisi atau sekadar kebetulan? Artikel ini pernah terbit di Majalah nurulamin.pro edisi Agustus 1998 dengan judul "Ramalan: Intuisi atau Kebetulan?"
nurulamin.pro hadir di channel WhatsApp, ikuti dan dapatkan berita terbaru kami di sini
nurulamin.proOnline.com -
Mencoba mengungkap misteri kehidupan masa kini dan memperkirakan kejadian di masa depan, merupakan bukti betapa rentannya intelektualitas manusia terhadap dorongan keinginan dan ketakutan. Ramal-meramal sudah dilakukan sejak zaman kuno hingga kini, termasuk dalam bentuk pengambilan keputusan yang dikenal sebagai decision making.
Di akhir tahun 1997, Yusuf Bingo Tanuwijaya alias Suhu Bingo meramalkan bahwa pada tahun 1998 atau tahun Macan Tanah akan banyak terjadi kekacauan, bahkan huru-hara (Intisah, Desember 1997). Tidak disangka, pada tanggal 13-14 Mei 1998 terjadi kerusuhan di Jakarta dan beberapa kota besar lainnya, yang tidak hanya menyebabkan kerugian materi, tetapi juga korban jiwa.
Pada tahun 1976, wilayah timur laut Tiongkok ditimpa gempa bumi terbesar sepanjang sejarah negara tersebut. Meskipun berhasil disensor, berita itu tersebar ke seluruh wilayah Tiongkok. Banyak orang mengartikannya sebagai pertanda bahwa Mao Tse-tung akan menghadapi kematian dan berakibat munculnya kekacauan. Ternyata, pada tahun itu juga, ketika Mao benar-benar meninggal, dimulailah suatu kurun masa kekacauan yang meluas.
Apakah dua contoh tersebut cukup menjadi alasan untuk mengandalkan ramalan?
Seni Kuno Meramal
Meramal memang merupakan seni yang kuno dan universal. Salah satu teknik meramal yang masih digunakan di Louisiana, AS, hingga kini adalah dengan memecahkan telur mentah lalu membaca kondisi kuning dan putihnya. Menurut Tracey Peterson, praktisi meramal ala Cajun, dia hanya mengulangi tradisi nenek buyutnya, Alexina Charpentier Renaud. Dalam meramal, Renaud, yang meninggal pada tahun 1955 dalam usia 87 tahun, memecahkan tiga butir telur, memasukkan masing-masing ke dalam tiga gelas berisi air lalu membaca bayangannya.
Suatu ketika Renaud ingin mengetahui posisi Randolph, anak lelakinya—prajurit yang bertugas di Prancis selama Perang Dunia I, karena lama tak datang kabarnya. Renaud pun memutuskan "bertanya" pada telur. Percaya atau tidak, dia mengaku melihat "bayangan kecil kereta api" termasuk miniatur penumpang dengan kepala-kepala kecil. Begitu pulang, Randolph membenarkan bahwa persis di saat ibunya meramal, dia sedang dalam perjalanan dari Pantai Timur AS menuju Louisiana dengan kereta api.
Cara kuno lainnya dalam meramal dipraktikkan oleh suku Nyoro di Uganda, yang menggunakan isi perut binatang dan konon sudah dilakukan pada masa Babilonia kuno. Peramal Nyoro biasanya memilih ayam. Dengan hati-hati agar organ dalam tidak rusak, ayam dibelah dan dibuka. Jika organ-organ dalam itu ditemukan dalam kondisi bagus, hasil ramalan baik. Jika sebaliknya, tentu jelek.
Teknik meramal lainnya menggunakan cairan. Di Eropa Tengah, tradisi yang biasa dilakukan di malam tahun baru ini tetap populer hingga kini. Setelah lonceng berdentang, para peserta—biasanya anak muda—mencairkan timah di sendok, meneteskannya ke dalam air, kemudian membaca peruntungan mereka pada bentuk-bentuk aneh timah yang mengeras saat tercelup ke air.
Cara meramal serupa, tapi menggunakan lilin cair, dilakukan di banyak belahan dunia, termasuk AS. Menurut James R. Cole dalam majalah Fate, Juni 1973, "Nyalakan lilin, sambil membisikkan pertanyaan atau keinginan. Miringkan ujung lilin sehingga tetesan lilin cair jatuh ke permukaan air dalam panci. Tetesan yang segera mengeras dengan diameter sekitar 3 mm akan mengapung di permukaan air. Tetes pertama akan segera meluncur ke pinggir panci, perlahan-lahan memenuhi tepinya. Begitu dilanjutkan, tetesan berikutnya akan membentuk simbol atau pola tertentu."
Jika kumpulan lilin di sepanjang tepi panci tidak patah, berarti jawaban positif atas pertanyaan yang diajukan, pinggiran berlekuk-lekuk berarti keraguan, sedangkan yang patah-patah mengindikasikan masalah.
Binatang Sebagai Alat Meramal
Bukan hanya kalangan di negeri kita saja yang "ngeri" bila mendengar teriakan burung gagak atau melihatnya hinggap di bubungan rumah tetangga. Kehadiran gagak identik dengan pertanda buruk, bahkan maut yang mengintai.
Adalah keluarga Hesse, yang masih punya hubungan darah dengan raja-raja Inggris dan Rusia, yang kastilnya di Darmstadt, Jerman, punya banyak kisah di seputar gagak.
Tahun 1873, dua pangeran kecil bermain di salah satu kamar di kastil itu. Tiba-tiba seekor gagak hinggap di ambang jendela. Tanpa jelas musababnya, salah seorang, yaitu Pangeran Frederick, mencondongkan badan keluar jendela ... lalu terjatuh. Dia pun tewas seketika. Lima tahun kemudian gagak hitam terlihat terbang mengitari kamar anak-anak Hesse yang terserang difteri. Tak lama kemudian seorang anak perempuan tewas.
Di tahun yang sama ada lagi gagak bertandang, tak berapa lama sebelum mangkatnya Grand Duchess of Hesse, putri kedua Ratu Victoria dari Inggris, di kastil itu. Setelah tiga kejadian itu, burung-burung gagak masih sering muncul di kastil dan kabarnya selalu disusul datangnya wabah penyakit atau kematian.
Binatang lain pun tak jarang digunakan untuk meramal, misalnya anjing, kucing, kambing, biri-biri, ikan, tikus, bahkan laba-laba. Ini tercermin dalam kepercayaan kuno di Jerman, laba-laba di pagi hari akan mendatangkan penyakit dan kemalangan, namun di malam hari justru mendatangkan kesehatan dan nasib baik.
Berdasar Prinsip Filsafat
Dalam seni meramal, I Ching atau Buku Perubahan yang digunakan di Cina sejak ribuan tahun lalu, masih menarik minat, bahkan masyarakat Barat di abad XX. I Ching dapat dilakukan dengan beberapa cara. Metode klasiknya menggunakan 50 batang bambu yang secara acak dibagi menjadi beberapa tumpukan, kemudian dihitung. Langkah ini diulang beberapa kali. Angka-angka yang diperoleh dari penghitungannya akan menentukan bentuk heksagram mana yang harus dijadikan acuan ramalan, dari 64 macam yang ada, dengan pesan-pesan berbeda. Teknik modern yang populer adalah dengan melemparkan tiga koin sebanyak enam kali untuk memperoleh enam garis bagi heksagram.
Secara tradisional, I Ching digunakan untuk mendorong perenungan dan koreksi diri. Sudah tentu konsentrasi sangat penting karena pesan yang harus diartikan masih berupa kiasan. Maka kunci keberhasilan pembacaan adalah kebijaksanaan dan kedalaman si peramal dalam falsafah kuno.
Di Barat pun ada metode serupa, menggunakan kartu tarot, yang mungkin berasal dari Mesir tahun 1200. Meski menggunakan simbol mirip kartu modern, karakter pada tarot lebih mengerikan. Satu pak kartu tarot terdiri atas dua kelompok: arcana mayor (22 kartu bergambar hukum alam, elemen-elemen alam, sifat baik dan buruk manusia) dan arcana minor (empat set, tiap setnya terdiri atas 14 kartu).
Kemampuan meramal dengan tarot sangat pribadi sifatnya, sebagaimana seni meramal dengan bola kristal. Kepribadian, kecenderungan, dan sikap pembaca kartu berperan saat menyebarkan kartu dan mulai meramal.
Makna Pantulan Gambar
Bagaimana dengan bola kristal yang cukup populer itu? Diduga metode ini berakar dari kebiasaan purba: mengandalkan kekuatan pantulan. Cermin ramal Sang Ratu dalam kisah Putri Salju, misalnya.
Masyarakat Yunani kuno juga menggunakan permukaan air tenang, yang nantinya diganti cermin, sebagai alat mencapai trance. Memang tiap permukaan benda mengkilat dianggap bisa mengakibatkan trance sementara. Tak heran bila prajurit Timur Tengah punya tradisi menggunakan kilap permukaan pedang untuk tujuan serupa.
Untuk melihat nasibnya, masyarakat Yunani kuno mencoba menangkap kekuatan pancaran cahaya mata air dengan memasang rendah cermin di permukaan air. Caranya, dijelaskan oleh perwira Yunani Pausanias (470 - 465 SM) dalam Deskripsi tentang Yunani: gantung cermin dengan tali lalu mendekatkannya ke permukaan air, namun jangan sampai tercelup. Setelah berdoa dan membakar dupa, tengok ke dalam cermin. Cermin akan segera menampilkan perkembangan keadaan seseorang yang sakit, apakah sembuh atau malah meninggal.
Tak kurang dari peramal dan tabib terkenal dari abad XVI Nostradamus atau Michel de Nostredame juga menggunakan air dan cermin. Dalam Encyclopaedia of Religion and Ethics, Andrew Lang memberikan penjelasan penggunaannya. "Dalam praktik, cara termudah adalah mengkonsentrasikan pikiran, menatap selama lima menit bola kristal atau kaca yang diletakkan di atas permukaan berwarna gelap pada jarak normal orang membaca buku. Jika si 'pembaca' punya kemampuan, dia akan melihat semacam kabut atau asap menyelimuti bola. Beberapa menit kemudian menjadi jernih dan menghitam, lalu muncullah gambar. Kadang bola lenyap karena pembaca merasa seakan melihat pemandangan nyata."
Ahli Membaca Pikiran
Di balik pandangan positif terhadap ramalan, muncul praduga bahwa ramalan adalah akal-akalan untuk menyedot uang belaka. Salah satu modal tipu-tipuan ini adalah kemampuan untuk membaca pikiran. Peramal gadungan sangat terampil dalam mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang provokatif. Dari penilaian sekilas, dia mampu mengutarakan apa yang sebenarnya ingin didengar klien.
Metode ini bahkan pernah dianalisis oleh Dr. Ray Hyman, psikolog dari Universitas Oregon, AS. Penelitiannya menunjukkan mahasiswa (objek penelitiannya) senang bila diberi tahu sebagai, "Orang yang berkepribadian normal. Mudah bergaul dan biasanya orang gampang suka pada Anda. Anda bukan orang suka mengkritik diri sendiri maupun orang lain. Anda bukan orang yang kuno atau egois. Anda sangat bersikap optimis, senang maju, dan suasana hati Anda tidak mudah terganggu oleh depresi, psikosomatis, atau gelisah."
Sedangkan mahasiswi lebih suka dikomentari sebagai, "Orang yang periang, seimbang. Mungkin sering mengalami pergantian perasaan gembira atau sedih, meski sekarang itu tidak sedang terjadi. Sedikit, bahkan tidak punya masalah kesehatan. Orang sosial dan mudah bergaul dengan banyak orang. Mudah menyesuaikan diri. Suka berpetualang. Banyak minat. Cukup kuat percaya diri dan berpikir dengan jernih."
Padahal kedua penilaian itu cuma pura-pura, hasil rekaan rekan kerjanya, Norman D. Sundberg. Bahkan Sundberg menemukan, "Klien lebih menyukai gambaran universal yang palsu tentang dirinya, ketimbang penjelasan dari psikolog terlatih dengan perangkat penilaian terbaik."
Namun, seni meramal ternyata tak kurang sumbangsihnya pada pengembangan metode ilmiah. Pada dua masyarakat yang terlacak sebagai akar peradaban modern, yaitu Cina dan Mesopotamia, ramalan terus dimanfaatkan oleh kelompok yang cukup terpelajar. Mereka tidak sekadar mengembangkan ritus, tapi juga menyusun struktur awal untuk memprediksi kejadian penting yang bakal menimpa masyarakat. Pencarian itu kemudian mendorong lahirnya kebiasaan mengobservasi, mencatat, mengkalkulasi, dan menganalisis. Ramal-meramal ternyata membantu menciptakan kerangka sebab-akibat yang nyata.
Sedangkan menurut Dr. George K. Park dalam Journal of the Royal Anthropological Institute tentang ramalan dan konteks sosialnya, beberapa sistem sosial masih tergantung pada hasil ramalan. Masih banyak masyarakat tergantung pada ramalan, bukan melulu karena masih percaya takhayul. Berkonsultasi dengan peramal adalah sarana untuk memancing sebanyak mungkin opini dari orang yang dituakan di lingkungannya, sampai ditemukan jalan keluar yang kedengaran paling praktis dan tepat.
Ramalan bisa bertahan sampai sekarang karena universalitasnya dan kemampuannya menjawab keinginan dasar manusia mengetahui masa depan atau mengontrol nasib seseorang.
Ramalan memang bisa membantu. Pada masyarakat modern, bukankah keputusan sering kali harus dibuat tanpa data yang memadai? Penyelesaiannya lebih bersandar pada intuisi sang eksekutif, tentunya plus kesiapan bertindak. Ini bukti bahwa untuk masalah-masalah sulit, ramalan sesungguhnya masih banyak dipraktikkan, meski sebutannya adalah decision making.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar