
Kehidupan Hj Ratna Binti Ramang yang Penuh Duka
Hj Ratna Binti Ramang adalah seorang wanita yang memiliki riwayat hidup yang penuh dengan perjuangan dan ketabahan. Usianya yang sudah mencapai 77 tahun membuatnya semakin rentan terhadap berbagai kondisi kesehatan. Di Kartu Tanda Penduduk (KTP) yang diperlihatkan, nama yang tercantum adalah Erni Wahyuni Anwar Ramang. Namun, dalam kehidupannya sehari-hari, ia lebih dikenal sebagai Hj Ratna Ramang, lahir di Makassar pada tanggal 24 April 1948.
Pada hari Rabu, 10 Desember 2025, saya mendampingi manajemen PSM Makassar ke rumah peninggalan Anwar Ramang di Jalan Landak Baru, Makassar. Saat itu, Sadikin Aksa baru mengetahui bahwa Anwar Ramang masih memiliki anak yang masih hidup di Makassar. Setelah mendengar kondisi anak satu-satunya yang masih ada, Sadikin Aksa dari Jakarta memerintahkan manajemen PSM Makassar untuk mendatangi rumah tempat anak Legenda PSM menghabiskan masa tuanya.
Dari manajemen PSM, mewakili Direktur Utama Sadikin Aksa dan Manager PSM Makassar Muhammad Nur Fajrin, hadir antara lain Sulaiman Abdul Karim dan Abdul Samad Rusli. Dahlan Abubakar juga hadir. Ia adalah penulis buku Anwar Macan Asia dan buku 100 Tahun PSM Makassar.
Kondisi Hj Ratna Binti Ramang
Hj Ratna Binti Ramang saat itu sudah tidak berdaya. Dia hanya tergeletak di kasur dalam kamar yang cukup luas dan sejuk. Kamar tersebut rapi dan wangi. Ratna Ramang juga terlihat bersih dan terawat. Seorang pria berbadan tegap mengatakan bahwa dia yang selalu datang memandikannya karena harus diangkat dan digendong saat dimandikan.
Erni Wahyuni telaten merawat tantenya seperti ibunya sendiri. Dialah yang menyuapi Ratna Ramang, membersihkan sisa makanan di mulutnya, dan memasukkan sedotan ke sela bibirnya. "Begini kondisi Puang Aji. Tidak bisa apa-apa kodong," kata Erni Wahyuni tiga hari lalu.
Momen Terakhir Bersama Hj Ratna Binti Ramang
Pada hari Sabtu pagi, 13 Desember 2025, saya menerima pesan melalui WhatsApp dari Dahlan Abubakar. Ratna Ramang telah meninggal dunia. Pesan itu masuk di ponsel saya pukul 07.13 WITA.
Saya berusaha berinteraksi dengan Ratna Ramang pada hari Rabu siang itu. Dia masih bisa mengangguk pelan. Berusaha membuka kelopak mata seraya merenggangkan kedua bibir saat saya menyapanya. Suaranya sangat pelan dan berusaha mengikuti kalimat yang saya ucapkan.
"Mantaf. Masih kuat ini Puang Aji. Hebat!" katanya memberi semangat padanya ketika berhasil mengikuti sempurna kalimat dari ayat suci yang saya ucapkan. Saya mengacungkan jempol ke arahnya. Ratna Ramang berusaha tersenyum, lemah dan pelan sekali. Kakinya juga bergerak sangat pelan untuk dia luruskan.
"Masih bisaji tawwa itu luruskan kaki sendiri, Pak. Tapi sangat lama baru bisa lurus kodong," ujar Erni Wahyuni. "Iyya, itu juga masih cantik. Rambutnya masih hitam semua. Saya saja sudah banyak yang putih," kata saya. Ratna Ramang kembali berusaha tersenyum.
Sangat pelan saya menyapu jidat hingga tengah kepalanya dengan telapak tangan kanan, menyentuh rambutnya yang hitam itu. "Memang, Pak. Anak-anaknya Puang (Ramang) itu tidak ada yang putih rambutnya. Hitam semua seperti Puang Aji ini," kata Erni Wahyuni.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar