Ratu Fufufafa: Kembalinya Taring Slank atau Hanya Protes Sementara?

Ratu Fufufafa: Kembalinya Taring Slank atau Hanya Protes Sementara?

Dari Gang Potlot ke Dunia Digital: Slank Kembali dengan "Republik Fufufafa"

Di tengah hiruk-pikuk dunia digital yang semakin bising, sebuah dentuman keras datang dari Gang Potlot. Slank, group rock legendaris yang selama beberapa tahun terakhir dianggap publik telah kehilangan “taringnya” karena kedekatan dengan lingkaran kekuasaan, tiba-tiba melempar granat lirik melalui single terbaru mereka bertajuk "Republik Fufufafa". Dirilis sebagai kado ulang tahun ke-42 pada akhir Desember 2025, lagu ini bukan sekadar karya musik, melainkan sebuah pernyataan politik yang membelah opini publik.

Estetika Tengkorak dan Sindiran Tajam

Visualisasi Slank kali ini jauh dari kesan ramah. Mengenakan riasan wajah tengkorak ala Joker yang memicu komentar jenaka sekaligus satire dari netizen yang menyamakannya dengan penampilan Kuburan Band asal Bandung. Bimbim dan kawan-kawan tampil seperti narator kegilaan. Riasan tersebut seolah menjadi simbol kematian nurani di tengah carut-marut kondisi bangsa.

Liriknya tidak mengenal basa-basi. "Republik fufufafa, asyik bicara tapi gak bermakna," menjadi baris pembuka yang langsung menghujam fenomena anonimitas pengecut di media sosial. Slank membedah isu-isu sensitif mulai dari kecanduan kekuasaan (sakau kuasa), darurat judi online (sakau berjudi), hingga kritik pedas mengenai rendahnya literasi yang dibalut dalam kalimat kontroversial:

"IQ rata-rata setara dengan monkey."

Polaritas Netizen: Antara Rindu dan Sanksi

Respon publik pecah menjadi dua arus besar. Di satu sisi, para Slankers lama merayakan kembalinya band idola mereka ke "setelan pabrik", sebutan untuk gaya Slank yang slengekan, liar, dan berani mengkritik tanpa sensor. Mereka melihat ini sebagai kembalinya marwah Slank sebagai penyambung lidah rakyat kecil yang terhimpit isu stunting dan ketimpangan kasta.

Namun di sisi lain, nada skeptis tak kalah kencang terdengar. Di platform X dan TikTok, sejumlah pihak, termasuk tokoh publik dan komika, mempertanyakan konsistensi Slank. Tudingan sebagai "oposisi dadakan" mencuat, mengingat selama satu dekade terakhir Slank relatif absen dalam memberikan kritik tajam kepada kebijakan pemerintah. Pertanyaan besarnya: Apakah ini murni kegelisahan seni, atau sekadar strategi pemasaran yang cerdas untuk memeluk kembali massa yang sempat pergi?

Menertawakan Republik yang "Sakit Gigi"

Melalui "Republik Fufufafa", Slank mencoba memotret potret buram Indonesia di tahun 2026, sebuah negeri yang dalam liriknya disebut sedang "sakit gigi" karena masalah etika dan logika yang kian dangkal. Penggunaan istilah "Fufufafa" yang sangat identik dengan polemik akun digital kontroversial di Indonesia, membuktikan bahwa Slank masih memiliki insting tajam untuk menangkap apa yang sedang bergejolak di akar rumput.

Meski diterpa badai pro-kontra, angka penayangan di kanal YouTube Slank Music terus meroket. Baik yang memuji keberanian mereka maupun yang mencibir ketulusan mereka, semuanya sepakat pada satu hal: Slank berhasil kembali menjadi pusat pembicaraan nasional.

Akhirnya, "Republik Fufufafa" adalah Cermin Retak

Pada akhirnya, "Republik Fufufafa" adalah cermin retak yang disodorkan Slank ke wajah kita semua. Entah lirik itu lahir dari murni kemarahan atau sekadar penebusan dosa masa lalu, Slank telah membuktikan bahwa rock n’ roll belum mati di tangan mereka. Di balik riasan tengkorak itu, mereka seolah berbisik bahwa dalam sebuah republik yang sedang gila, hanya mereka yang berani terlihat "gila" yang sanggup meneriakkan kebenaran sepahit apa pun itu.


Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan