Pengaduan Pilu Evia Maria Mangolo terhadap Dosen UNIMA
Seorang mahasiswi Universitas Negeri Manado (UNIMA) bernama Evia Maria Mangolo mengalami pengalaman traumatis yang berujung pada kematian duka. Dalam surat pengaduannya, ia menceritakan bagaimana dirinya dilecehkan secara verbal dan fisik oleh seorang dosen di dalam mobil. Kejadian ini menimbulkan trauma mendalam dan rasa takut yang terus menghantui.
Kronologi Kejadian
Surat yang ditulis Evia pada 16 Desember 2025 menjadi bukti bahwa kejadian tersebut terjadi beberapa hari sebelum kematiannya. Dalam surat itu, ia menjelaskan awal dari peristiwa bermula pada Jumat, 12 Desember 2025, saat dosen bernama Danny meminta Evia untuk memijatnya melalui pesan singkat. Ia menolak karena merasa tidak pantas dan tidak termasuk kewajibannya sebagai mahasiswa.
Evia mengaku merasa takut, tertekan, dan dilecehkan secara verbal maupun fisik. Ia mencoba keluar dari situasi tersebut dengan meminta temannya untuk memantau lokasinya melalui fitur live location. Namun, dosen tersebut tetap memaksa Evia masuk ke dalam mobilnya.

Perilaku Kekerasan di Dalam Mobil
Setelah sampai di tempat parkiran, dosen tersebut meminta Evia untuk naik ke mobilnya. Di dalam mobil, ia terus-menerus memaksa Evia untuk duduk di depan dan memberikan pijatan. Saat itu, tangan dosen tersebut menyentuh paha Evia tanpa izin sambil berkata bahwa urut itu enak jika dilakukan sambil tidur.
Evia menolak dan mencoba melepaskan diri, namun dosen tersebut terus memaksa. Bahkan, ia mencium pipi Evia tanpa persetujuan. Pada saat itu, Evia menangis, tetapi dosen tersebut tidak merespons. Tidak hanya itu, dosen tersebut juga menunjukkan sikap tidak sopan dengan menurunkan kaca mobil sedikit dan berbicara dengan dua petugas keamanan.

Rasa Trauma dan Ketakutan
Evia mengaku setelah kejadian itu, ia mengalami trauma mendalam dan rasa takut yang sangat kuat. Ia tidak lagi merespons pesan dari dosen tersebut setelah 16 Desember 2025. Selain itu, ia merasa malu jika ada mahasiswa lain yang melihatnya turun atau naik di mobil dosen tersebut, karena akan menjadi bahan pembicaraan.
Ia juga mengungkapkan tekanan mental akibat rasa malu dan kecemasan akan pandangan lingkungan sekitarnya. Surat pengaduan ini menjadi salah satu dokumen penting dalam penelusuran dugaan pelecehan yang dialaminya sebelum meninggal dunia.
Permohonan kepada Pihak Kampus
Dalam penutup suratnya, Evia memohon kepada pihak pimpinan kampus agar menindaklanjuti pengaduan tersebut dan memberikan sanksi tegas kepada dosen yang bersangkutan. Ia berharap kejadian serupa tidak menimpa mahasiswa lain. Dengan surat ini, Evia ingin menegaskan bahwa kejadian yang dialaminya harus dianggap serius dan ditangani dengan baik.
Pengaduan ini menjadi pengingat bagi seluruh institusi pendidikan untuk lebih waspada terhadap perilaku tidak sesuai yang dilakukan oleh dosen terhadap mahasiswa. Dengan demikian, lingkungan kampus dapat menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi semua mahasiswa.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar