Redam Kebiasaan Pedas, TPID Jateng Hargai Cabai Rp 65.000/Kg di Solo dan Semarang

Redam Kebiasaan Pedas, TPID Jateng Hargai Cabai Rp 65.000/Kg di Solo dan Semarang

Operasi Pasar Cabai untuk Stabilisasi Harga dan Pengendalian Inflasi

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Jateng) bersama berbagai instansi terkait melakukan langkah strategis dalam bentuk Operasi Pasar Cabai. Tujuannya adalah untuk menjaga stabilitas harga dan mengendalikan inflasi di tingkat daerah. Langkah ini dilakukan sebagai respons terhadap kenaikan harga cabai yang terjadi selama dua bulan terakhir akibat gangguan rantai pasok akibat bencana alam.

Operasi pasar pertama digelar di Pasar Legi Kota Surakarta dan Pasar Karangayu Kota Semarang. Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Jawa Tengah, Defransisco Dasilva Tavares, menjelaskan bahwa operasi ini merupakan tindak lanjut dari pemantauan harga komoditas pangan yang menunjukkan tren peningkatan. Ia menegaskan bahwa langkah ini bertujuan untuk mengendalikan harga agar tidak memicu inflasi.

Meski harga cabai sempat naik, kondisi stok di tingkat petani masih dalam status aman. Bahkan, stok cabai besar, cabai keriting, hingga cabai rawit disebut melebihi kebutuhan konsumsi masyarakat. Dalam operasi pasar tersebut, pemerintah melepas lima kuintal cabai dengan harga jual Rp 65.000 per kilogram, lebih rendah dibanding harga pasar. Upaya ini dilakukan untuk memperkuat daya beli masyarakat dan menahan lonjakan inflasi kelompok pangan.

Hasil pemantauan di lapangan menunjukkan bahwa harga cabai kini mulai turun menjadi sekitar Rp75.000 per kilogram, bahkan beberapa jenis turun Rp5.000 hingga Rp6.000. Defransisco menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu khawatir karena pihaknya ingin menjaga harga tetap terkendali.

Selain intervensi pasar, Pemprov Jateng juga menggandeng kios TPID yang telah tersebar di 35 kabupaten/kota serta 15 titik kios binaan Bank Indonesia. Menurut Defransisco, kenaikan harga cabai di akhir tahun sering terjadi karena faktor musim. Produksi biasanya menurun pada November-Desember akibat risiko serangan penyakit dan cuaca ekstrem. Oleh karena itu, sejak Juni hingga Agustus, pihaknya telah mendorong peningkatan tanam.

"Kami dorong pertanaman sejak pertengahan tahun dengan bantuan benih dan subsidi agar panen Oktober-Desember tetap tinggi. Dari data kami, kebutuhan Jawa Tengah untuk cabai besar dan cabai rawit sejauh ini masih aman," jelasnya.

Direktur KPW Bank Indonesia Jawa Tengah, Wahyu Dewanti Deputy, menjelaskan bahwa BI tidak hanya fokus pada operasi pasar, tetapi juga menjalankan program berkelanjutan untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan. Upaya stabilisasi pasokan diperkuat dengan pengembangan kawasan cabai seluas 300 hektare pada 2025 di berbagai kabupaten/kota seperti Banjarnegara, Batang, Blora, Boyolali, Cilacap, Grobogan, Klaten, Magelang, Purbalingga, Purworejo, Rembang, Semarang, Temanggung, Wonogiri, dan Wonosobo.

Penanaman dilakukan pada periode off season yakni Juni–Juli agar panen jatuh pada bulan-bulan defisit yakni Oktober–Desember. "Kami melakukan pengaturan pola tanam, penggunaan varietas yang tahan cuaca dan hama, serta pembinaan pascapanen, termasuk pengolahan cabai kering agar daya tahan lebih lama," katanya.

Menurut Wahyu, menjelang Natal dan akhir tahun, sejumlah komoditas seperti minyak goreng, gula, dan cabai memang mengalami kenaikan harga karena meningkatnya permintaan. Namun dari sisi stok, secara umum masih dalam kondisi aman. "Masalah utama bukan stok, tetapi faktor cuaca, hujan, banjir, dan distribusi. Karena itu kami terus memantau pasar utama dan berkoordinasi dengan seluruh pihak," ujarnya.

Adapun data Bank Indonesia Jateng menunjukkan bahwa cabai rawit menjadi komoditas yang mengalami inflasi pada November sebesar 7,13 persen (mtm). Kenaikan harga cabai rawit masih berlanjut hingga bulan Desember dengan kenaikan sebesar 98,61 persen dibandingkan November.


Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan