
Oleh: M Dahlan Abubakar
Penulis Buku “Satu Abad PSM Mengukir Sejarah”
nurulamin.pro Pertandingan pekan XVII PSM melawan Bali United di Gelora BJ Habibie, Jumat (9/1/2026) malam dengan hasil akhir 0-2, merupakan laga yang menyakitkan. Hasil ini menunjukkan trend negatif penampilan tim “Juku Eja” dalam empat laga beruntun. PSM gagal merenggut poin. Di kandang PSM takluk 0-1 atas Malut United dan Persib, takluk 2-1 atas tuan rumah Borneo FC, dan terakhir kalah 0-2 di kandang sendiri atas Bali United.
Dari empat pertandingan ini, banyak yang perlu kita ambil pelajaran. Ketika kalah 0-1 atas Malut United, seperti saya sudah tulis beberapa pekan silam, keputusan wasit memang sangat disesalkan. Gol cepat Malut United lahir dari kaki David da Silva pada menit ke-2, sejatinya berakhir imbang, jika saja penalti yang siap dihadapi Yuran Fernandes tidak dianulir wasit.
Aneh juga, kejadian itu berlangsung tidak jauh dari tempatnya berdiri, wasit malah membatalkan sendiri putusannya. Pandangan saya dan juga penonton itu terbukti dibenarkan oleh Komisi Wasit PSSI yang menyalahkan wasit Yoko Suprianto yang menganulir tendangan penalti itu setelah menengok VAR. Dan, itu berarti wasit tidak percaya terhadap keputusannya sendiri. Bagaimana bisa ada wasit seperti ini, penilaiannya sendiri yang lebih valid karena lokasi kejadian di depan ‘todongan’ matanya, dibatalkan oleh VAR.
Saat kalah melawan Persib Bandung, PSM sebenarnya sudah berhasil melampau 10 menit pertama yang kritis. Namun ternyata, lawan melakukan tekanan pada 20 menit pertama yang intens. Gol Andy Jung saat laga sudah 26 menit setelah “kick off” membuat semuanya berubah. Termasuk harapan saya dan penonton yang menginginkan PSM memetik kemenangan dan minimal seri atas juara Liga I tahun 2024/2025 ini.
Jika PSM kebobolan, saya selalu yakin bisa membalasnya. Tetapi kali ini agaknya berbeda. PSM bermain di depan publiknya sendiri. Beban psikologisnya terlalu berat. Harus tampil sebaik mungkin dengan memanfaatkan peluang sebisa mungkin, namun kurang akurat dalam penyelesaian akhir karena tergesa-gesa. Setelah kebobolan, pada menit ke-8, tandukan Yuran yang biasanya mujarab menggetarkan jala lawan, kali ini tidak tepat sasaran. Di sini diperlukan ketenangan dan jitu melihat situasi gawang lawan.
Ketika menghadapi Borneo FC di Stadion Segiri, Samarinda, pada pekan XVI, PSM berhasil berhasil melakukan serangan kejut. Baru saja laga bergulir 1,5 menit, PSM mampu mencetak gol lewat Alex Tank. PSM mampu merawat gol ini akhir laga 45 menit pertama. Saya berharap, jika gol ini bertahan hingga memasuki babak kedua, PSM akan tetap sebagai pemenang.
Tetapi, bola bundar. Perhitungan di atas kertas dengan segala kemungkinan, tetap saja meleset. Pada menit ke-68 Vinicius berhasil memecahkan telur timnya. Mengubah kedudukan menjadi 1-1.
Melihat tempo permainan, apalagi tuan rumah empat kali kalah beruntun dalam pertandingan terakhir, saya memperkirakan, PSM akan mampu merebut poin 1 di kandang lawan kali ini. Ramalan tetap ramalan, bola di lapangan tetap bergulir. Dari satu tendangan pojok, pada menit ke-86 si kulit bundar sempat terbaca arahnya, namun Vinicius lebih jeli. Dia kembali menciptakan gol, “brace”. Sekaligus beberapa menit berikutnya laga pun usai.
Pada laga terakhir melawan Bali United, betul-betul sangat menyakitkan. Pertama, pertandingan belum menuju menit pertama, gawang Reza Arya Pratama yang baru diturunkan langsung jebol. Saya pikir ini bahaya, Reza langsung dites dengan gol kilat tim tamu. Tetapi beruntung, Rea banyak melakukan penyelamatan gemilang setelah tes pertama yang menyakitkan itu.
Laga ini semoga ke depan terulang lagi. Sudah ketinggalan 0-1, PSM harus bermain dengan 9 pemain. Sahrul Lasinari diganjar kartu merah oleh wasir M.Erfan Effendy ketika pertandingan baru berjalan 24 menit. Keputusan wasit ini dianggap sangat kontiversial karena saat itu kartu kuning langsung disusul kartu merah tanpa jeda.
Sebelumnya tanpa peringatan sama sekali. Bahaya kalau wasit melakukan “tindakan senyap” kepada pemain seperti ini. Maksudnya, tidak perlu peringatan, cukup pemain tahu diri kalau dia melakukan kesalahan. Wasit pun tinggal ‘semprit’ kartu kuning atau paling sadis kartu merah.
Menjelang pertandingan tuntas, Ananda Rayhan yang masuk menggantikan Victor Dethan pada babak kedua, juga diganjar kartu merah langsung gara-gara menarik jersey pemain Bali Unit. Sejatinya, pelanggaran seperti ini kualitasnya kartu kuning saja. Tetapi penilaian wasit yang sarat dengan keputusan kontroversial sudah sulit membedakan yang wajar dan tidak wajar serta nan layak dan tidak.
Sebanyak 2.225 orang penonton yang menyaksikan laga 9 Januari 2026 malam tidak saja kecewa karena hasil akhir laga 0-1, tetapi juga kepemimpinan wasit yang tidak becus dalam memutuskan satu pelanggaran.
Oleh sebab itu, langkah PSSI mendatangkan wasit asing asal Jepang diharapkan dapat menyadarkan para wasit nasional kita memperbaiki kualitas diri dalam memimpin pertandingan. Mengurangi ocehan penonton tentang kesalahan memutuskan satu pelanggaran. Sayang sekali jika PSSI terus mengimpor wasit dari luar negeri. Bisa-bisa lapangan kerja untuk wasit Liga 1, beralih ke Liga 2.
Kebobolan cepat jala PSM saat melawan Bali United sangat terasa benar karena absennya Victor Luis, pemain yang mendampingi Yuran dan Alosius Neto, di bek kiri. Posisi yang ditinggalkan Sahrul Lasinari yang dikaertumerahkan wasit juga menyimpan kepincangan bagi pertahanan PSM yang kewalahan dibebankan kepada Yuran yang terkadang agak kewalahan ‘sprint’ dengan pemain lawan.
Catatan penting dari pertandingan ini adalah waspada pada lima menit pertama. Bukan lagi 10 menit pertama. Pada kesempatan yang sama, lakukan sesuatu yang mengejutkan pada rentang waktu awal yang kritis itu. Lakukan seperti yang terjadi ketika melawan Borneo FC, tetapi siaga satu menghadapi kemungkinan yang terjadi seperti saat melawan Malud United dan Bali United yang menggetarkan jala PSM sangat dini.
Yang tidak kalah penting, hindari melakukan kesalahan dan pelanggaran yang dapat berbuah kartu. Sekarang wasit ‘mulai oleng’ dengan keputusannya sendiri setelah adanya VAR. JIka dia putuskan sendiri, enggan pergi menengok VAR. Apalagi, jika tidak ada komunikasi dengan wasit yang menongkrongi alat bantu wasit itu. Ya, itulah sepak bola. Bola tetap bundar dan wasit tetap manusia yang selalu dihantui keraguan dan kesalahan. (*).
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar