
Strategi Reindustrialisasi untuk Meningkatkan Produktivitas Nasional
Reindustrialisasi kembali menjadi fokus utama dalam upaya meningkatkan produktivitas nasional sekaligus memperluas kesempatan kerja. Pandangan ini muncul dalam acara "Produktif & Inovatif: Membangun Karier, Mencipta Karya, Menginspirasi Negeri" yang diselenggarakan oleh Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) bekerja sama dengan Persatuan Insinyur Indonesia (PII). Acara ini menyoroti pentingnya peran industri dalam menggerakkan perekonomian dan menciptakan nilai tambah.
Menteri Ketenagakerjaan Yassierli menyatakan bahwa peningkatan produktivitas nasional merupakan prioritas utama pemerintah. Upaya ini dilakukan melalui penguatan keterampilan tenaga kerja, perbaikan manajemen di tingkat perusahaan, serta peningkatan produktivitas lintas sektor melalui industrialisasi. Ia menekankan bahwa industrialisasi menjadi pilihan strategis, terutama dalam membangkitkan kembali industri manufaktur.
Pemerintah melakukan intervensi khusus pada industri menengah untuk meningkatkan produktivitas, ujar Yassierli dalam siaran pers. Saat ini, Kemenaker sedang mengembangkan Kalkulator Produktivitas sebagai alat untuk mengukur hasil intervensi peningkatan produktivitas di perusahaan. Alat ini digunakan untuk melakukan asesmen sebelum dan setelah perusahaan menerima pendampingan konsultatif dari Kemenaker.
Reindustrialisasi sebagai Pendorong Pertumbuhan Ekonomi
Ketua Umum PII Ilham Akbar Habibie menekankan bahwa reindustrialisasi adalah kunci utama untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia. Menurutnya, upaya ini diperlukan agar Indonesia dapat masuk ke fase Indonesia Emas 2045, yaitu menjadi negara produsen bernilai tambah tinggi, bukan hanya pasar.
Indonesia Emas 2045 menuntut kita tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga menjadi produsen, menciptakan nilai tambah, memperkuat industri manufaktur, dan membangun rantai pasok yang tangguh, jelas Ilham. Ia menjelaskan bahwa reindustrialisasi mencakup penataan ulang dan percepatan transformasi industri agar produktivitas meningkat melalui perbaikan proses dan teknologi.
Selain itu, daya saing akan meningkat melalui kualitas dan efisiensi biaya. Ilham menilai bahwa reindustrialisasi tidak hanya menghidupkan kembali mesin pertumbuhan ekonomi, tetapi juga membuka lapangan kerja bernilai tambah serta memperkuat kemandirian industri dalam negeri melalui penguatan pemasok lokal dan inovasi.
Tantangan Berikutnya: Industri yang Selaras dengan Transisi Hijau
Menurut Ilham, tantangan berikutnya adalah menumbuhkan industri yang selaras dengan transisi hijau. Ini termasuk industri yang hemat energi, rendah emisi, dan sirkular, katanya. Dengan demikian, reindustrialisasi tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan produktivitas, tetapi juga menjawab tantangan lingkungan dan keberlanjutan.
Inovasi sebagai Fondasi Produktivitas
Pakar industri dan teknokrat Mathiyas Thaib menyoroti bahwa peningkatan produktivitas sangat bergantung pada inovasi. Namun, ia menegaskan bahwa inovasi hanya bisa tumbuh dalam ruang yang tidak terlalu dibatasi oleh prosedur dan standar yang kaku.
Efisiensi, efektivitas, dan produktivitas memerlukan inovasi. Namun, inovasi membutuhkan ruang bebas untuk pengembangan yang tidak terkurung dalam standarisasi dan prosedur, ujar Mathiyas. Menurutnya, hal ini terkesan seperti revolusi, tetapi itulah yang dibutuhkan jika ingin inovasi benar-benar meningkatkan produktivitas.
Dalam konteks ini, inovasi menjadi fondasi penting dalam mendorong produktivitas nasional. Dengan kombinasi antara reindustrialisasi dan inovasi, Indonesia memiliki peluang besar untuk meningkatkan kinerja ekonominya dan mencapai tujuan jangka panjang.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar