
Capaian PAD Kota Makassar Tahun 2025 Mencapai Rp1,979 Triliun
Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Makassar pada tahun 2025 berhasil mencatatkan angka yang sangat mengesankan. Berdasarkan hasil perhitungan sementara hingga penutupan akhir tahun, PAD kota yang dikenal sebagai pusat bisnis di Sulawesi Selatan ini tercatat mencapai sebesar Rp1,979 triliun. Angka ini nyaris mendekati ambang batas Rp2 triliun dan berpotensi menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah.
Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kota Makassar, Andi Asminullah, menjelaskan bahwa capaian tersebut masih bersifat sementara karena dalam proses rekonsiliasi. Meski demikian, ia memastikan bahwa angka tersebut tidak akan mengalami perubahan signifikan.
“Untuk PAD secara keseluruhan kemungkinan sudah finish. Ini memang masih sementara rekonsiliasi, tapi angkanya tidak akan meleset jauh dari ini,” ujarnya.
Asminullah menilai pencapaian ini merupakan prestasi besar bagi Pemerintah Kota Makassar. Ia menyebutnya sebagai capaian tertinggi sepanjang sejarah kota tersebut.
Kontribusi Sektor Pajak Terbesar
Dari total PAD sebesar Rp1,979 triliun, sektor pajak daerah menjadi penyumbang terbesar dengan kontribusi sekitar 93 persen atau setara Rp1,747 triliun. Angka ini disebut meningkat signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Menurut Asminullah, capaian ini merupakan hasil kerja kolektif seluruh jajaran Bapenda bersama organisasi perangkat daerah (OPD) pemungut pajak. Ia juga mengapresiasi tingkat kepatuhan masyarakat Kota Makassar dalam memenuhi kewajiban pajak.
Beberapa sektor pajak berhasil mencapai bahkan melampaui target tahun 2025. Salah satunya adalah Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), yang mencapai target 100 persen lebih. Ini menjadi capaian terbaik dalam sembilan tahun terakhir.
- PBB tahun ini mencapai target 100 persen lebih. Ini capaian terbaik dalam sembilan tahun terakhir. Selama sembilan tahun kami tidak pernah mencapai 100 persen, dan tahun ini bisa tercapai.
- Selain PBB, pajak restoran, pajak reklame, pajak hiburan, serta pajak sarang burung walet juga tercatat melampaui target 100 persen.
- Jenis pajak lainnya rata-rata berada di atas angka 90 persen.
Secara nominal, kontribusi terbesar berasal dari Pajak Barang dan Jasa Tertentu (PBJT) yang merupakan gabungan pajak hotel, restoran, dan hiburan dengan total penerimaan lebih dari Rp700 miliar. Kontributor besar lainnya adalah Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) yang telah menembus angka Rp350 miliar.
Hingga penutupan sementara, tercatat Rp352 miliar telah masuk ke kas daerah dan masih berpotensi bertambah hingga sekitar Rp355 miliar setelah proses rekonsiliasi selesai.
Strategi yang Mendorong Capaian PAD
Asminullah menjelaskan bahwa capaian PAD tersebut didorong oleh berbagai langkah strategis. Di antaranya perbaikan sistem digitalisasi, peningkatan pengawasan, serta optimalisasi pendataan wajib pajak.
Selain itu, dukungan pihak eksternal juga dinilai berperan penting, termasuk media dan aparat penegak hukum (APH) yang membantu proses penagihan kepada wajib pajak.
“Semua stakeholder terlibat, termasuk bantuan teman-teman media dan kerja sama dengan APH untuk membantu penagihan pajak,” katanya.
Ia menegaskan, seluruh jenis pajak akan terus dimaksimalkan pada tahun mendatang guna menutup potensi berkurangnya dana transfer dari pemerintah pusat.
Target PAD Tahun 2026
Dengan capaian tersebut, Pemerintah Kota Makassar memasang target PAD tahun 2026 sebesar Rp2,38 triliun atau meningkat sekitar Rp200 miliar lebih dibandingkan target tahun 2025.
“Target tahun depan sekitar Rp2,38 triliun. Ini naik cukup signifikan dan tentu kami akan bekerja lebih keras agar hasilnya minimal lebih baik dari capaian tahun ini,” tegas Asminullah.
Ia optimistis target tersebut dapat tercapai. Terkait potensi pajak reklame, Asminullah menyebutkan bahwa Kota Makassar dalam beberapa tahun terakhir menerapkan kebijakan moratorium reklame. Namun pada 2026, penataan reklame akan mulai dilakukan kembali.
“Kami akan bekerja sama untuk menata reklame dan memaksimalkan PAD dari sektor ini,” katanya.
Reklame bukan hanya soal pendapatan, tetapi juga wajah kota.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar