Komunikasi Pemerintah dalam Bencana Sumatera Dikritik
Sejumlah pernyataan dan sikap pejabat pemerintah di tengah situasi bencana di Sumatera mendapat kritik dari masyarakat. Hal ini menunjukkan kegagalan dalam mengembangkan komunikasi empati yang sesuai dengan kondisi yang sedang dialami oleh masyarakat.
Prof. Gun Gun Heryanto, Guru Besar Komunikasi Politik UIN Jakarta, menyampaikan bahwa kegagalan tersebut terjadi karena tidak memahami suasana kebatinan orang-orang yang berada dalam ketidakpastian dan ketidaknyamanan. Ia menjelaskan bahwa fenomena sekarang ini menunjukkan bahwa bencana seringkali digunakan sebagai panggung untuk manajemen kesan diri dalam konteks personal branding para pejabat, yang menurutnya merupakan kekeliruan besar.
Contoh nyata dari hal ini adalah tindakan beberapa pejabat yang datang ke lokasi banjir dengan membawa beras. Menurut Prof. Gun Gun, tugas seorang menteri bukan hanya terbatas pada hal-hal teknis seperti itu. Ia juga mengkritik pernyataan anggota DPR yang mempertanyakan kerelawanan warga. Menurutnya, hal ini menunjukkan agresivitas verbal yang tidak memahami suasana kebatinan masyarakat.
Menurutnya, gerakan kerelawanan yang dilakukan oleh warga seharusnya didukung oleh wakil rakyat. Ia menilai logika yang keliru ketika membandingkan peran pemerintah dengan kerelawanan warga. Menurutnya, pemerintah memiliki tanggung jawab untuk melindungi warga negara, termasuk dalam situasi kebencanaan. Ia menegaskan bahwa triliunan rupiah bantuan dari pemerintah merupakan hal yang seharusnya dilakukan untuk mengatasi masalah dalam bencana Sumatera.
Namun, ia menilai logika keliru ketika membandingkan bantuan pemerintah dengan apa yang dilakukan oleh warga biasa yang saling membantu dan akhirnya terkumpul 10 miliar rupiah. Menurutnya, hal ini menunjukkan cacat logika dalam pandangan tertentu.
Peran Media dan Relawan di Lapangan
Terkait isu ini, Anggota Pengarah Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Puji Pujiono mengungkapkan bahwa ada intuisi politik untuk mengambil kesempatan atau momen yang akan membawa citra bagi para pejabat di tengah situasi bencana. Namun, ia menekankan bahwa pihaknya membuka kesempatan seluas-luasnya bagi semua pihak untuk ikut merespons bencana Sumatera.
Di sisi lain, ia menyebutkan adanya relawan-relawan yang berjuang di lapangan tetapi tidak terekspos televisi. Menurutnya, tentara-tentara dan remaja-remaja yang berestafet membawa beras adalah contoh nyata dari usaha mereka, meskipun tidak terlihat di media. Ia menilai bahwa yang mendapat insentif justru mereka yang membuat pernyataan di publik.
Puji menekankan bahwa media juga perlu menayangkan para relawan yang berada di garis depan penanganan bencana agar lebih memanusiakan bencana tersebut. Ia menjelaskan upaya yang sudah dilakukan BNPB sejauh ini untuk membantu masyarakat terdampak bencana Sumatera.
Upaya BNPB dalam Penanganan Bencana
Menurut Puji, volume logistik yang diberikan sangat signifikan. Di Lanud Sultan Iskandar saja, tercatat 500 ton logistik yang telah tiba, dan 75 persen di antaranya telah didorong. Selain itu, di Sumatera Barat sudah ada 30 ton bantuan logistik yang terus didistribusikan melalui jalur udara dan darat.
Dengan demikian, BNPB terus berupaya untuk memastikan distribusi bantuan yang efektif dan tepat sasaran, serta meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya kerelawanan dan kolaborasi dalam menghadapi bencana.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar