Renungan Harian Katolik 1 Desember 2026: Maria, Ibu Beriman yang Kuat

Renungan Harian Katolik 1 Desember 2026: Maria, Ibu Beriman yang Kuat

Renungan Harian Katolik

Peran Maria dalam Keimanan yang Kekal

Dalam renungan harian ini, kita diingatkan akan kekuatan iman yang dimiliki oleh Santa Perawan Maria Bunda Allah. Dalam kitab Bilangan 6:22-27, Mazmur 67:2-3,5,6,8, Galatia 4:4-7, dan Lukas 2:16-21, kita melihat bagaimana Maria menjadi teladan bagi seluruh umat beriman.

"Maria menyimpan semua hal itu di dalam hatinya dan merenungkannya." (Lukas 2:19). Kalimat ini menggambarkan sikap Maria yang penuh dengan kepercayaan dan kesadaran akan kehendak Tuhan. Keunggulan Maria terletak pada ketaatannya yang total terhadap perintah Allah. Beriman murni berarti taat pada kehendak Tuhan, meskipun sering kali tidak mudah dipahami.

Ketaatan Maria membuat dirinya dikendalikan oleh Allah. Ia menjadi rendah hati dan siap melakukan apa pun yang Tuhan minta, baik yang masuk akal maupun yang mustahil. Semua hal yang ia tidak pahami, ia serahkan pada kuasa absolut Tuhan sendiri. Dalam hal beriman kepada Tuhan, tidak ada manusia di bumi ini yang sama seperti Bunda Maria. Kesempurnaan dalam menyiapkan diri menjadi Bunda Allah, selain kesucian, penyerahan diri secara total adalah kekuatan utamanya.

Meskipun melahirkan tanpa suami sangat memalukan karena aib yang tak bisa dibela, namun demi kehendak Allah, ia siap menanggung risiko terberat itu dalam hidupnya. Ia merenungkan hal mustahil itu dalam hatinya secara matang lalu memutuskan untuk menerima dengan kekuasaan iman penuh tanpa keraguan sedikit pun.

Yusuf, Allah panggil untuk mendampingi Maria bukan sebagai suami biologis tapi pengasuh untuk melindungi Maria dan Sang Mesias Anak Allah. Yusuf pun menjalankannya dengan setia mengikuti komando ilahi dari Tuhan melalui malaikat dalam mimpi.

Karena Maria telah melahirkan Sang Mesias, maka ia pantas mendapat gelar Bunda Allah yang kita rayakan pada awal tahun setiap tanggal 01 Januari. Menjelajahi hidup dalam waktu untuk meraih masa depan yang tak menentu, kompas iman dibutuhkan bahwa Allah selalu merancang yang terbaik masa depan putra-putrinya baik kesejahteraan di bumi maupun keselamatan abadi kelak.

Teladan Para Gembala

Para gembala sebagai misionaris perdana yang mewartakan kelahiran Yesus Sang Mesias, memberikan teladan yang amat mengagumkan. Dalam kesederhanaan hidup dan kesetiaan menjalankan peran sebagai gembala hewan, Allah memandang mereka layak mendapat informasi pertama tentang kelahiran Putra Allah.

Kesucian hidup mereka terbukti melalui tindakan mencari kanak Yesus dan berjumpa dengan-Nya bersama orang tua-Nya di Betlehem. Mereka aktif dan tidak pasif setelah mendengar warta para malaikat tentang kelahiran itu. Warga Betlehem yang lain, mendengar warta itu juga, namun mereka tidak seperti para gembala.

Bertindak mewartakan kelahiran Sang Juru Selamat, memuji dan memuliakan Allah atas rahmat besar bagi dunia. Dengan cara suci ini, para gembala dianugerahi rahmat sukacita yang luar biasa. Penulis Injil menegaskan, "Setelah mendengar berita kelahiran penyelamat dunia, para gembala cepat-cepat berangkat ke Betlehem." (Lukas 2:16).

Dalam hidup dan peran mereka selanjutnya sebagai gembala, cahaya ilahi Tuhan selalu membimbing. Sebagai umat beriman, tuntunan Tuhan kita butuh dalam ziarah hidup ini. Tuhan pun menghendaki hal ini. Maka kepada Musa, Allah berfirman kepada umat Israel, agar tetap mengandalkan Dia. Tantangan dalam ziarah hidup pasti ada, namun berkat dan perlindungan Allah selalu ada.

Doa dan Pengharapan

Allah hadir dengan kekuatan cahaya kudus-Nya untuk menyinari dan menghalau dari hal-hal jahat. Musa menyampaikan firman Tuhan kepada bangsa Israel, "Tuhan menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia dan damai sejahtera." (Bilangan 6:25-26).

Pemazmur menanggapi dalam madah pujiannya, "Kiranya bangsa-bangsa bersyukur kepada-Mu ya Allah, kiranya bangsa-bangsa semuanya bersyukur kepada-Mu, Allah memberkati kita; kiranya segala ujung bumi takwa kepada-Nya." (Mazmur 67:8).

Kita patut bersyukur kepada Allah, sebab kasih agung-Nya kini nyata dalam hidup kita. Oleh karena kelahiran Putra Allah dari seorang perempuan, kita ditebus dan diterima sebagai anak Allah. Bunda-Nya adalah bunda kita semua. Roh Yesus juga tercurah dalam diri kita dan diperkenankan menjadi ahli waris-ahli waris Allah. Inilah rahmat istimewa dari Allah yang tak tergantikan sebagai upah iman bagi kita yang percaya kepada Yesus Putra-Nya Sang Juru Selamat kita.

Berkat kekuatan doa Bunda Allah, kita laju melangkah bersama Tuhan dalam iman yang kokoh menjelahi ruang dan waktu yang tersedia. Iman kokoh yang kita miliki ini akan meruntuhkan benteng keraguan untuk meraih masa depan yang baik dalam Tuhan. Di bawah bimbingan cahaya Tuhan, tetap optimis berlangkah menuju kepenuhan hidup. Hidup baik di mata Tuhan menjadi berkat bagi banyak orang.

Peralihan Tahun Baru

Tahun baru adalah waktu untuk beralih. Peralihan waktu mengajak kita untuk tetap bersahaja dan mengandalkan Tuhan. Karena itu peralihan waktu mengungkapkan kepada kita bahwa syukur sembah mesti selalu dibuat, berjalan dengan lutut di hadapan Tuhan, terus berdoa dan memohon sebab Allah tak pernah lelah dalam pemberian berkat kudus-Nya bagi anak-anak-Nya.

Mari meneladani Santa Perawan Maria Bunda, figur beriman yang selalu berjalan dengan kerendahan hati (berlutut) di mata Tuhan hingga hidup dalam persekutuan mesra bersama Yesus Putra-Nya dalam kemuliaan Allah.


Santa Perawan Maria Bunda Allah doakanlah kami anak-anakmu. Tuhan Yesus Sang Cahaya dunia, sinarilah jalan hidup kami sepanjang tahun ini.

Selamat tahun baru. Tuhan tidak lelah memberkati kita.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan