
Oleh: RD. Leo Mali
Rohaniwan dan Dosen Fakultas Filsafat Unwira Kupang, Nusa Tenggara Timur.
nurulamin.pro Santo Ignasius Loyola (1491-1556) mengingatkan kita bahwa hati manusia dibentuk untuk mencari hal-hal besar dalam hidup.
Dan hal terbesar di antara hal-hal besar yang dicari manusia itu adalah Allah sendiri.
Dengan kata lain, mencari dan menemukan Tuhan adalah sukacita terdalam hidup manusia.
Seluruh sejarah umat manusia, bila dibaca dengan jujur, adalah sejarah pencarian itu.
Dalam pelbagai kebudayaan dan zaman, manusia selalu bertanya tentang makna, kebenaran, dan sumber hidup yang melampaui dirinya.
Namun Ignasius juga mengingatkan bahwa masalah manusia sering bukan karena ia tidak mencari Tuhan, melainkan karena ia mencintai hal-hal lain secara tidak teratur.
Ketika cinta kehilangan arah, pencarian manusia pun melenceng, meskipun ia merasa sedang mencari kebahagiaan.
Maka tidak mengherankan bila cahaya Tuhan kerap hadir seperti terang dalam kegelapan.
Daya tarik dan pesonanya begitu kuat hingga sanggup menarik hati bangsa-bangsa menuju satu pusat harapan.
Nabi Yesaya menubuatkan daya tarik ini dengan bahasa yang puitis dan kosmik: “Bangsa-bangsa berduyun-duyun datang kepada terangmu, dan raja-raja menyongsong cahaya yang terbit bagimu”(Yes. 60:1–6).
Nubuat ini bukan sekadar gambaran religius, melainkan intuisi mendalam tentang dinamika sejarah: ketika kebenaran menampakkan diri dalam sejarah, hati manusia tergerak untuk mencarinya.
Ramalan Yesaya ini mencapai kepenuhannya dalam peristiwa kelahiran Yesus.
Injil Matius (Mat. 2:1-12) menceritakan bagaimana berita tentang kelahiran-Nya mengguncang Yerusalem dan wilayah sekitarnya.
Orang-orang Majus dari Timur—para pencari kebenaran dari dunia ilmu pengetahuan dan kosmologi zaman itu — tergerak untuk menempuh perjalanan panjang dan berisiko.
Mereka membaca tanda tanda langit, tetapi tidak berhenti pada langit. Mereka berjalan hingga menemukan Sang Anak di Betlehem dan menyembah-Nya.
Tuhan menuntun mereka melalui bintang dan melindungi mereka melalui mimpi.
Peristiwa Epifani ini menunjukkan bahwa penampakan Tuhan tidak pernah netral: terang Kristus selalu menyingkapkan ke mana manusia berjalan.
Terang itu membimbing mereka yang mau melangkah, tetapi sekaligus menggelisahkan mereka yang ingin mempertahankan kendali atas
hidupnya sendiri.
Berbeda dengan para Majus, Raja Herodes juga terkejut oleh berita kelahiran Yesus.
Ia pun ingin “menemukan” Yesus. Namun niatnya bukan untuk menyembah melainkan untuk menyingkirkan-Nya.
Kemuliaan Tuhan yang tampak dalam kelahiran Kristus bukanlah kabar gembira baginya, sebab cahaya itu mengancam kekuasaannya.
Karena itu Herodes tidak pernah menemukan Tuhan. Ia tidak kehilangan informasi tentang Tuhan, tetapi kehilangan keberanian untuk bertobat.
Ia tahu di mana Terang itu lahir, namun memilih tetap tinggal dalam ketakutannya sendiri.
Cahaya tidak pernah tampak bagi mereka yang mencari dengan niat yang salah dan dengan hati yang tertutup.
Dalam konteks hari ini, kesesatan Herodes tidak selalu tampil dalam wajah kekuasaan politik yang brutal.
Ia sering hadir secara lebih halus, tetapi sama berbahayanya. Kesesatan zaman kita kerap muncul ketika manusia kehilangan orientasi makna, lalu menggantinya dengan kenikmatan sesaat, pelarian instan, atauilusi kebebasan tanpa tanggung jawab.
Ketika kebenaran tidak lagi dicari dengan hati yang jujur, manusia mudah tersesat dalam pilihan-pilihan hidup yang tampak menarik, tetapi sesungguhnya merusak.
Tahun lalu, berbagai media melaporkan bahwa tercatat sekitar 2.539 kasus HIV/AIDS terjadi di Kota Kupang, dan yang paling banyak terdampak adalah anak muda dan remaja.
Fenomena yang mencemaskan ini menyembunyikan krisis yang lebih dalam: krisis arah hidup, krisis relasi, dan krisis makna.
Banyak remaja mencari penerimaan, kehangatan, dan pengakuan diri, tetapi mencarinya di tempat yang keliru—dalam relasi yang rapuh, dalam budaya permisif, atau dalam kebebasan yang terlepas dari nilai.
Sering kali yang paling kurang bukan pengetahuan tentang benar dan salah, melainkan kehadiran relasi yang aman—tempat seorang remaja merasa didengar, diterima, dan dipeluk tanpa syarat.
Seperti Herodes, mereka tidak jahat dalam niat awalnya; mereka takut—takut ditolak, takut sendirian, takut tidak berarti.
Di sinilah arti penting peristiwa Epifani yang kita rayakan hari ini.
Epifani tidak hanya menyingkapkan siapa Kristus bagi kita, tetapi juga menyingkapkan ke mana manusia harus berjalan agar hidupnya tidak hancur.
Tuhan tetap menampakkan diri sebagai terang bagi mereka yang mau berbalik arah.
Gereja dan masyarakat dipanggil untuk menuntun generasi muda agar menemukan kembali terang sejati yang menyembuhkan dan memberi hidup.
Seperti bintang bagi para Majus, Gereja dipanggil untuk menjadi terang yang setia menunjukkan jalan : kepada siapa dan ke mana kita berjalan.
Dan sejarah—baik sejarah iman maupun sejarah dunia—menjadi saksi bahwa cahaya itu selalu cukup kuat untuk menuntun manusia pulang kembali kepadaNya. Amin.(*)
Simak terus berita dan artikel opini nurulamin.prodi Google News
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar